
Siang harinya Nayla pun kembali memasuki kamar putrinya, sebab ini sudah waktunya makan siang. Bahkan ada banyak masakan istimewa untuk menyambut kepulangan Vanya.
"Sayang, bangun. Bunda, udah masak. Dan semuanya makanan kesukaan kamu," kata Nayla sambil menarik selimut yang menutupi putrinya tersebut.
Sementara Vanya langsung saja duduk, perutnya memang sudah keroncongan karena dari pagi tadi belum masuk sesuap nasi pun. Tapi tunggu dulu, bukankah saat ini Vanya sedang dalam masa kemarahan.
Benar sekali.
Untuk semuanya butuh perjuangan? Dan, Vanya ingin dihargai.
Apa yang dikatanya tidak main-main, baiklah melanjutkan kembali kemarahan pagi tadi demi masa depan yang bahagia bersama sang pujaan hatinya.
"Vanya, Bunda udah masak loh."
"Nggak mau, aku nggak lapar!"
Bersamaan dengan itu perut Vanya pun berbunyi, bahkan begitu nyaringnya hingga terdengar di telinga Nayla. Membuat ibu tiga orang anak itupun menahan tawa.
"Benarkah?" Nayla semakin bersemangat untuk membuat anaknya segera bangun dan menikmati masakannya.
"Bunda, anak Ayah dimana?" Terdengar suara Devan yang perlahan masuk ke dalam kamar putri manjanya.
Sayangnya kini Vanya sudah belajar menjadi dewasa dan tidak menyusahkan orang lain lagi, terutama kedua orang tuanya.
"Ada Ayah, katanya nggak lapar. Tapi barusan Bunda dengar suara aneh, apa itu suara perut lapar?" Nayla pun berpura-pura tidak tahu, padahal dirinya sedang menahan tawa mati-matian untuk membuat Vanya tidak lagi marah padanya.
Seakan ikut mendengar apa saja yang dikatakan oleh Vanya saat ini.
"Nggak ada, itu suara angin!" Kata Vanya dari balik selimutnya.
"Mmmmfffffpp," Nayla dan Devan menahan tawa mendengar apa yang dikatakan Vanya.
"Begitu? Bunda, masak apa?" Tanya Devan ingin membuat Vanya tidak lagi menolak makan siang.
"Banyak Ayah, semuanya yang di sukai anak kita ada..."
Tiba-tiba Nayla terdiam saat Vanya duduk dan keluar dari balik selimutnya.
"Ada udang balado nggak, Bunda?" Tanya Vanya dengan refleks.
Membuat Nayla dan Devan saling tatap dalam menahan tawa.
"Ups!" Vanya pun menutup mulutnya, lupa dirinya sedang marah pada kedua orang tuanya itu.
"Nggak jadi, aku nggak serius. Cuma tanya doang!" Vanya pun kembali masuk ke bawah selimut sementara perutnya semakin keroncongan saja.
Cacing-cacing di dalam sana sedang bernyanyi dengan kencangnya menantikan sesuap nasi yang masuk ke dalam perut Vanya.
"Ada dong, enak banget kan, Yah?" Tanya Nayla memanas-manasi anaknya.
"Iya, masakan Bunda tetap menjadi favorit di rumah ini. Tapi, mungkin juga Felix dan Adnan sudah menghabiskannya"
Vanya semakin dilanda kegalauan tingkat tinggi, bagaimana jika semua makanan kesukaannya di habiskan oleh kedua Kakaknya itu?
__ADS_1
Tapi tidak.
Ingat Vanya, kamu sudah dewasa bukan lagi anak kecil.
Bahkan sebentar lagi akan menikah, kamu harus yakinkan kedua orang tuamu.
Itulah kata semangat yang membuat Vanya masih pada pendiriannya meskipun sebenarnya sudah berada di ujung tanduk. Bagaimana pun juga perutnya semakin lapar saja, bahkan tidak bisa diajak untuk berkompromi lagi.
"Tapi, Bunda masak untuk kamu. Sedih dong Bunda kalau yang makan bukan kamu."
Ini bisa menjadi sebuah alasan, Vanya pun keluar dari balik selimutnya.
"Aku makan, Bunda jangan sedih."
Dengan cepat Vanya pun meloncat dari atas ranjang, kemudian berlari menuju meja makan dengan segera.
Bahkan Nayla dan Devan sampai terperangah melihat kekonyolan anaknya yang memang tidak pernah berubah. Keduanya benar-benar geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Vanya.
"Ayah? Anak kita yang minta di nikahin" ujar Nayla sambil terus saja geleng-geleng kepala.
Sementara Devan juga tertawa karena menyaksikan kelakukan konyol Vanya, bagaimana mungkin menikah dengan sikap masih kekanak-kanakan demikian.
"Sudahlah sayang, Mas yakin. Itu hanya omongan anak muda tentang masa depan. Besok juga putus lalu galau dan nanti bahagia lagi karena dapat yang baru" kata Devan sambil terkekeh.
Menimbang putrinya itu masih kecil dan labil, tentu saja hal asmara masih menguasai dirinya.
"Ya, juga ya, Yah," Nayla pun membenarkan apa yang dikatakan oleh Devan.
"Ada-ada saja kelakukan anak kita itu."
Keduanya pun segera menuju meja makan menyusul Vanya yang sudah terlebih dahulu di sana.
Bahkan putrinya tersebut terlihat makan dengan lahapnya, tepatnya seperti seseorang yang sedang kelaparan.
Mungkin juga memang kelaparan.
"Aku makan karena menghargai Bunda yang udah masak banyak buat aku, itu aja!" Kata Vanya menjelaskan sambil terus menyendok makanan ke dalam mulutnya.
Dirinya ingin menjelaskan sesuatu yang baik sebelum kedua orang tuanya itu berpikir aneh tentang dirinya.
"Benarkah? Bunda terharu," Nayla pun mengusap dadanya, bukan dengan terharu sebenarnya. Melainkan dengan menahan tawa karena kelakuan aneh anaknya yang tak akan pernah mungkin bisa berubah.
"Eh, ada bocah!" Celeruk Felix saat melihat Vanya yang berada di meja makan.
Bahkan Felix sampai bergidik ngeri melihat adiknya itu makan dengan lahapnya, tepatnya dengan rakusnya.
"Berapa tahun nggak makan?" Tanya Felix.
"Berisik!" Pekik Vanya.
"Wah, masakan Bunda kayaknya ini?" Felix sudah bisa menebak, mana masakan Bik Ina, mana masakan istri tercintanya dan mana masakan Bundanya.
Hingga Felix pun duduk dan mencoba untuk mencicipinya, sayangnya dengan cepat Vanya menepuk tangan Felix. Kesal karena makanan itu semua adalah miliknya, mengapa malah Felix menyentuh tanpa ijin darinya.
__ADS_1
"Ini punya aku nggak usah coba-coba!" Vanya pun mengibarkan bendera perang, tak ingin makanannya di makan oleh Felix.
"Aku juga anak Bunda!" Kata Felix membela diri, kesal tentunya pada adik bungsunya itu.
"Tau! Tapi, ini Bunda yang masak buat aku! Benarkan Bunda?"
"Ha?" Nayla yang menahan tawa pun tidak begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Vanya, tetapi sesaat kemudian mengangguk. Terserah apapun yang dikatakan oleh anaknya tersebut.
Lagi pula Nayla rindu suasana keributan jika Vanya sudah kembali ke rumah
"Iya"
"Dengerin tuh," Vanya pun merasa di atas angin setelah Nayla membenarkan apa yang dikatakannya barusan.
"Dasar pelit!"
"Noh, minta istri mu masak!" Bukan Vanya namanya jika berdebat saja kalah, dirinya sudah terbiasa menjadi pemenang.
Begini juga dengan kali ini.
Felix pun tidak lagi ingin menggangu adiknya tersebut, tetapi malah menarik rambut Vanya hingga menjerit.
"KAK FELIX!" Teriak Vanya.
Bahkan semuanya menutup telinga, sebab suara Vanya yang menggema di seluruh ruangan.
Sementara Felix sudah melarikan diri dengan tertawa karena berhasil membuat adiknya kesal.
"Liat itu kelakuan anak kesayangan, Bunda!" Vanya pun bangkit dari duduknya kemudian menatap Nayla.
"Anak kesayangan Bunda, kamu."
"Nggak, bohong Udah ah, aku mendadak nggak nafsu makan!"
Apa? Tidak nafsu makan? Nayla dan Devan melihat sendiri semua makanan sudah habis.
Eeeeee.....
Bahkan Vanya sampai bersendawa.
"Udah ah, itu cuman angin!" Vanya pun berlalu pergi, kembali masuk ke dalam kamar untuk mengurung diri demi bisa menikah dengan kekasih tercintanya.
"Ayah?"
"Entahlah Vanya, anak kita memang sangat lucu," Devan pun di buat geleng-geleng kepala untuk yang kesekian kalinya melihat tingkah laku Vanya, tapi dirinya begitu bahagia melihat anaknya yang sudah kembali ke rumah.
"Semoga saja dia tidak lagi pergi."
"Sepertinya tidak, dia kan minta nikah," celetuk Devan.
"Memang ada-ada saja bocah itu, apa dia pikir menikah itu mainan. Sudahlah, namanya juga anak-anak kasmaran," kata Nayla.
"Ya, begitulah," Devan pun mengangkat bahunya seakan dirinya juga membenarkannya apa yang dikatakan oleh istrinya, tetapi tetap saja tingkah konyol Vanya membuat harinya jauh lebih berwarna.
__ADS_1