Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Tidak ada yang seperti kamu!


__ADS_3

"Dulu kamu kenapa?" suara Aditya terdengar parau, bertanya dengan nada rendah agar Rima tidak tegang.


Padahal yang lebih sakit sebenarnya itu menangis tanpa air mata, jika bisa memohon Rima akan melakukannya asalkan Aditya melepaskannya, dirinya belum pernah berada di situasi ini benar-benar merasa tidak nyaman, duduk di pangkuan lelaki terasa menegangkan, selama ini dirinya memang memiliki kekasih namun tidak lebih dari sekedar berpegangan tangan saat bertemu, bahkan beberapa mantannya memutuskan pergi karena dirinya menolak untuk dicium apalagi sampai pada ranjang.


Dirinya dianggap kampungan dan tidak benar-benar mencintai kekasihnya karena tidak bisa memberikan tubuhnya sebagai bukti.


Dan kali ini berbeda di atas pangkuan seorang lelaki, sekalipun sudah menikah masih saja terasa aneh bisakah setelah malam-malam itu Rima masih menganggap mereka adalah dua orang asing?


"Dokter, dulu itu saya dibayar, dan Nayla yang membayarnya," Rima tidak ingin disalahkan sendirian sehingga dirinya ikut menarik Nayla dalam masalah yang dihadapinya kini.


Bagaimanapun otak dari segalanya adalah Nayla, andai bukan karena Nayla mungkin kini dirinya masih sendiri dan jantungnya tidak akan berdetak kencang begini dan tidak akan duduk di atas pangkuan seorang lelaki.


Walaupun suaminya sendiri, terdengar munafik tetapi begitulah adanya.


"Benarkah?" Aditya tersenyum kecil dengan kepalanya yang mengangguk seakan mengejek Rima.


"Aku serius kalau nggak percaya tanya Nayla," alasan yang semakin kuat agar dirinya tidak tersudutkan saat ini dan sampai kapanpun di mata Aditya.


Tahu pasti jika pun membawa Nayla tetap saja dirinya masih tidak memiliki harga dirinya, karena rela dibayar menggoda demi membeli sebuah tas secara tidak langsung menjual harga diri.


"Tapi bakat mu itu sangat bagus sekali, coba goda aku lagi," pinta Aditya.


Rima pun menggeleng, menolak melakukan hal yang diperintahkan oleh Aditya.


"Aku tidak pernah melakukannya pada orang lain, itupun hanya demi menolong Nayla sedangkan Nayla demi Jessica," ucap Rima.


"Aku akan membayar mu," ucap Aditya memberikan penawaran.


Plakk!!!


Dengan refleks tangan Rima menampar wajah Aditya, tapi Aditya malah membalasnya dengan senyuman dan tawa kecil, jangankan ciuman hangat, tamparan saja sudah membuat Aditya jatuh hati pada Rima.


Aneh!


Tapi cinta memang gila!

__ADS_1


Sulit jatuh cinta, sekali jatuh cinta akan memberikan apa saja tanpa terkecuali pada wanita itu sehingga Rima dibuat bingung bukan main, pikiran buruk pun mulai menghantuinya.


Di sana mereka hanya berdua saja, coba diulangi dan digaris bawah hanya berdua saja!


Apakah Aditya memiliki gangguan jiwa?


Bagaimana jika Rima dicekik? dihabisi?


Siapa yang akan mengetahuinya?


Rima merasa menyesal setelah menampar wajah Aditya, takut Aditya membalas dengan lebih keras, tenaganya tidak akan sanggup menandingi tenaga Aditya, apa lagi dirinya yang masih belum pulih dari sakitnya.


"Aku akan membayarnya dengan cinta," jelas Aditya tersenyum menatap Rima.


Gila?


Apakah Aditya gila?


Rima benar-benar bingung dan tidak dapat menyimpulkan apa yang sebenarnya ada dalam pikiran suaminya itu.


Dirinya benar-benar tidak mengenal Aditya selama ini sehingga tidak tahu seperti apa bahkan takut saat melihat raut wajah Aditya yang hanya menatapnya dengan senyuman, selama ini sudah terbiasa melihat Aditya yang hanya datar rasanya sedikit aneh bila tersenyum.


Senyuman kemarahan?


Senyuman kelicikan?


Senyuman penuh rencana untuk menyiksa dirinya?


"Kenapa takut?" Aditya pun mengeluarkan ponselnya.


"Kamu mau yang mana?" Aditya membuka aplikasi tempat belanja online khusus tas branded menunjukkan pada Rima.


Air mata Rima pun menetes dari pelupuk matanya sudah tidak bisa menahan sejak tadi.


"Kenapa menangis?" Aditya pun terkejut melihat air mata Rima jatuh begitu saja tanpa hentinya sekalipun Rima terus menyekanya dengan cepat masih saja tumpah dengan mudahnya.

__ADS_1


Hingga suara sesenggukan pun terdengar.


"Kamu kenapa?" Aditya merapikan rambut Rima yang menutupi sebagian wajahnya, menyelipkan anak rambut pada daun telinga agar bisa menatap wajah kekasih halalnya dengan jelas.


Rima hanya menggeleng sambil terus menangis tanpa hentinya perasaannya benar-benar kacau dan tidak tenang.


"Jawab aku kamu kenapa?" kedua tangan Aditya memegang wajah Rima, berusaha mengangkat kepala agar menatap matanya.


"Hey tatap aku," ucap Aditya lagi.


"Aku tahu aku salah, aku mau dibayar demi uang, tapi..." Rima kembali menangis tersedu-sedu merasa direndahkan oleh Aditya.


"Aku mencintaimu, aku bersyukur kamu menggodaku dan pada akhirnya kamu menjadi milikku, aku bukan merendahkanmu aku hanya ingin membahagiakanmu dengan caraku, dengan seperti apa yang kamu mau," Aditya pun memeluk Rima dengan eratnya agar merasakan betapa tulus cintanya.


Air mata ibu hamil itu masih saja tumpah antara malu dan juga kondisi hormon kehamilan yang juga mempengaruhi membuatnya lebih sensitif.


"Kenapa cinta sama aku?"


Rima mendorong Aditya kemudian memberanikan diri untuk menatap manik mata Aditya menantikan jawaban walaupun hanya kalimat hinaan.


"Nggak tahu," jawab Aditya sambil mengangkat kedua bahunya.


Apa yang bisa dia katakan, Aditya rasanya tidak dapat menggambarkan perasaannya sebab sebesar apapun perumpamaan tersebut tidak akan mampu menandingi cinta yang tumbuh di hati.


"Dokter bohong, masa cinta nggak pakai alasan"


"Kalau aku bilang aku mencintaimu karena mata indah mu ini, lalu bagaimana jika suatu hari mata itu kehilangan keindahannya? apa aku juga akan kehilangan cintaku padamu, bagaimana jika aku katakan aku tertarik karena bibirmu?" ibu jari Aditya mengusap bibir Rima dengan perlahan.


"Lalu bagaimana jika bibir ini sudah tidak seindah ini lagi, apakah cintaku hilang begitu saja? atau karena rambutmu bagaimana jika rambut ini kelak memutih apakah cintaku pun ikut memudar? cinta tanpa alasan istriku, aku sudah membuktikan dengan menikahi mu, bukankah klimaksnya cinta adalah menghalalkan?" Aditya bertanya kembali pada Rima.


Rima hanya diam dalam kebingungannya, menatap manik mata Aditya dengan mata sembabnya.


"Kenapa harus aku? di rumah sakit banyak yang lainnya?" ucap Rima.


"Tidak ada yang sepertimu hanya kamu yang mampu membuatku hampir gila karena selalu membayangkan wajahmu," jawab Aditya.

__ADS_1


__ADS_2