Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Ingin dirayu!


__ADS_3

Berbeda lagi dengan Reyna yang tengah mengemasi barang-barangnya, mungkin ingin segera minggat dari rumah Nanda. Sedangkan Nanda hanya berdiri di depan pintu kamar dan berusaha tetap tenang, berusaha dewasa adalah jalan terbaik. Reyna sedang mengandung, emosinya memang tidak stabil, sehingga Nanda harus mengerti akan hal tersebut. Mungkin setelah lelah Reyna akan berhenti melakukan hal lainnya, atau mungkin bisa berpikir lebih jernih.


Sesaat kemudian Reyna pun selesai membereskan pakaiannya, kemudian menarik koper keluar dari kamar. Tidak lupa sambil melayangkan tatapan tajam pada Nanda yang tengah berdiri di depan pintu.


"Puaskan kamu! Biar aja aku pergi biar kamu bahagia!" Seru Reyna.


Nanda tersenyum kecut, sebelah tangannya ada pada saku celananya. Sedangkan sebelahnya lagi menggosok tengkuknya.


"Aku pergi!" Kata Reyna lagi.


Nanda hanya diam tanpa menjawab, kemudian Reyna kembali berbalik dan ingin melihat wajah Nanda saat ini.


"Apa!" Kesal Reyna saat mendapati Nanda melihatnya.


"Apa? Aku tidak memangil sama sekali," Nanda mengangkat bahunya dengan bingung.


Reyna pun kembali berjalan ke arah Nanda, kemudian menarik kemejanya.


"Kamu mau nyudutin aku? Kamu senang aku pergi?" Tanya Reyna bertubi-tubi.


"Sebentar," Nanda pun melepaskan tangan Reyna yang mencengkram erat kerah kemeja nya.


"Sebenarnya kita sedang membahas apa? Meributkan apa?"


Astaga naga!


Tolong!


Tolong, kameranya dimana? Ini bukan film! Lupa ini hanya tulisan.


Reyna pun mengetuk kepalanya, artinya dari tadi dirinya marah-marah Nanda belum mengerti permasalahan nya.


Baiklah, sedikit Reyna menjelaskan, ingat! Sedikit.


"Di rumah sakit ada Aliya! Dia wanita yang pernah kamu cium!"


"Lalu?" Tanya Nanda santai, menurutnya itu hanya masa lalu tidak layak untuk dibahas.


Semua orang punya masa lalu, tidak terkecuali Nanda.


Dan itu benar.


"Kenapa kamu menciumnya, kamu senang! Artinya bibir kamu itu sudah bekas paralon itu kan?"


"Paralon?"

__ADS_1


"Namanya Lila kan?"


"Aliya," kata Nanda mengeja dengan benar.


Reyna pun mengibaskan tangannya, tidak ingin mendengarkan.


"Dia itu masa lalu, kamu juga pasti punya masa lalu. Jadi, kenapa masih di bahas?" Nanda mencoba untuk menjernihkan sedikit pikiran Reyna.


'Benar juga,' batin Reyna.


Nanda tahu istrinya itu sedang terbakar api kecemburuan, itu tandanya cinta.


"Aku nggak perduli, yang jelas aku benci sama kamu!" Reyna pun kembali menarik kopernya dan berjalan menuju ambang pintu


Nanda masih ditempatnya, beberapa meter jarak dari Reyna.


Diam tanpa kata, tanpa bicara, hanya menyaksikan tanpa melakukan apapun.


Reyna yang penasaran dengan diamnya Nanda pun berhenti melangkah dan berbalik.


Diamnya Nanda membuatnya kesal.


"Kamu senang aku pergi?" Cerca Reyna dengan pertanyaan.


"Oh, jadi kamu mau aku pergi?"


Nanda pun hanya diam saja, tanpa berkata-kata lagi.


"Ok, aku pergi!"


Nanda masih saja diam.


"Aku pergi!" Seru Reyna agar Nanda mendengar, mungkin sebelumnya suaranya pelan dan tidak terdengar sampai di telinga Nanda. Namun, anehnya Nanda masih diam saja tanpa berbicara sama sekali.


"Aku pergi!"


Baiklah, untuk yang ketiga kalinya ini Reyna benar-benar pergi. Dengan kesal menarik koper dan keluar dari rumah, sesaat kemudian terdengar suara kaki. Reyna yang gundah merasa sedikit lega, berharap Nanda menahannya.


Apalah Reyna tanpa Nanda, belum lagi saat tidur malam perutnya wajib dielus barulah bisa terlelap dalam mimpi yang indah.


Ditambah lagi saat pagi harinya, Reyna hanya ingin memakan nasi goreng buatan Nanda yang terasa cocok di lidahnya.


Lagi pula Puput pasti akan sangat marah jika dirinya pulang ke rumah kedua orang tuanya tersebut, tanpa seijin dari suaminya, telinga Reyna bisa bengkak karena mendengarkan omelan yang mungkin tahun depan baru berakhir itu.


Tapi Reyna pun penasaran, sebab sampai saat ini pun tidak ada rasanya tangan Nanda yang memegang bagian dari dirinya. Perlahan berbalik dan ternyata Nanda hanya berdiri santai pada pintu utama, tanpa menahan dirinya sama sekali.

__ADS_1


Dengan kembali membalik badan, Reyna pun menguatkan tekat untuk pergi.


"Reyna!" Seru Nanda.


Reyna pun tersenyum samar, berharap di rayu setelah sadar ternyata dirinya salah. Padahal Nanda bukan selingkuh, jika selingkuh maka wajah dirinya begini. Tapi sudah kepalang, gengsi pun sudah tidak bisa di ajak kompromi.


Lanjutkan saja, berharap Nanda mau merayu dirinya.


"Apa" Jawab Reyna ketus.


"Hati-hati, nanti kalau Mama nanya bilang aku udah diizinkan!" Seru Nanda agar Reyna mendengar.


Mendengar perkataan Nanda, Reyna pun kesal bukan main. Dirinya hanya menggertak dan ingin di rayu, kenapa malah terjebak?


Dengan menahan perasaan campur aduk Reyna pun kembali masuk, kemudian melewati Nanda.


"Aku bertahan karena anak," Reyna pun pergi segera, paling tidak alasannya sudah tepat pikirnya.


"Mmmmfffffpp" Nanda benar-benar merasa lucu dengan tingkah menggemaskan istrinya, tahu Reyna hanya mengancam.


Jauh beberapa meter di sana Reyna kembali berdiri tegak dan melihat Nanda.


"Lagian ada yang mencurigakan, kamu yang wajar senang kalau aku pergi. Karena, nanti bisa bawa Lila itu ke rumah ini! Menjijikan!"


"Aliya."


"Bodo amat!"


Malam harinya Reyna pun terlihat gelisah, namun terus saja mogok bicara. Nanda duduk di atas ranjang sambil memainkan ponselnya, tahu Reyna sedang mengintip berulang kali. Tapi berpura-pura tidak tahu. Sampai akhirnya Reyna menyerah.


"Nanda!"


"Em?" Nanda pun berpura-pura cuek.


"Ckk," Reyna berdecak kesal, kemudian tidak ingin lagi berbicara.


Nanda tersenyum, kemudian berbaring di samping Reyna yang memunggunginya. Perlahan tangannya memegang perut Reyna, hingga akhirnya istrinya itu pun terlelap.


Nanda pun memperbaiki posisi tidur Reyna, kemudian mencium kening istrinya yang sedang cemburu tidak jelas tersebut.


Nanda benar-benar merasa gemas dengan tingkah konyol istrinya yang mengancam akan pergi. Pada kenyataannya adalah ingin di hentikan dan di rayu.


"Istri ku yang sangat lucu, kalau saja sejak awal tahu jodoh ku kamu, tidak akan mau aku tertarik pada wanita lain. Pasti aku fokus mencari mu, tidak perlu menunggu di pergoki warga dan di tuduh kumpul kebo baru menikah," Nanda terkekeh geli melihat wajah Reyna yang benar-benar sudah terlelap.


Sampai tanpa sadar Reyna memeluk Nanda sebagai guling yang membuatnya nyaman.

__ADS_1


__ADS_2