Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Rindu!


__ADS_3

"Kenapa wajah suami ku ini masam sekali?" Cahaya meletakan secangkir kopi di atas meja, kemudian duduk di samping suaminya.


Pulang ke rumah bukannya Felix tersenyum karena bertemu dengan dirinya malah terlihat begitu murung. Tetapi Cahaya terus berusaha untuk menghibur suaminya tersebut.


"Aku tidak mengerti mengapa Riki bisa seperti itu."


"Maksudnya?"


"Dia kembali mendapat mangsa baru, entah sampai kapan dia akan begitu," Felix pun menyeruput kopi buatan istrinya. Memilih untuk menikmati kopi tersebut dari pada memikirkan seorang Riki.


Bruk!


Mendadak Felix dan Cahaya mendengar suara benturan keras.


"Felix?" Cahaya pun menatap pintu depan penuh tanya.


"Apa itu?" Felix pun bergegas bangkit dari duduknya, memeriksa keadaan di luar sana.


Tetapi saat Felix membuka pintu tidak terlihat apa-apa.


Tampak kosong dan membuat Cahaya merinding seketika.


"Siapa?"


"Nggak ada siapapun," Felix pun kembali menutup pintu. Meskipun masih kebingungan akan benturan keras yang barusan terdengar.


"Felix? Rumah ini nggak serem kan?" Cahaya mendadak merasa horor, sebab sudah jelas barusan ada suara keras.


Tetapi setelah di pastikan malah tidak ada yang terjadi sama sekali


"Sejak kapan istri ku menjadi penakut?" Mengingat Cahaya adalah seorang Dokter tentunya tidak akan percaya pada hal-hal berbau horor, tetapi sepertinya tidak. Karena wajah wanitanya tersebut masih saja menunjukkan ketakutan.


"Dokter juga manusia!"


"Hehe, iya. Mungkin kucing itu," Felix tak ingin membuat Cahaya semakin was-was, sehingga dirinya lebih memilih untuk tenang meskipun tidak tahu apakah yang sebenarnya terjadi barusan.


Tetapi kucing milik Vanya memang sangat suka berlarian.


"Kucing Vanya pasti itu, minta kawin mungkin," kata Felix lagi.


"Iya juga ya," Cahaya pun kini membenarkan apa yang di katakan oleh suaminya.


"Tapi, ngomong-ngomong Vanya nggak pulang?"


"Pulang, Ayah sudah menjemput. Tapi, dia nggak mau. Kata Ayah ingin membiarkan dulu, minimal dua bulan ini saja. Ayah sadar anaknya itu juga butuh sedikit kebebasan. Apa lagi sekarang kata Bik Ina, Vanya sudah bisa menggoreng telur, memasak nasi, itu adalah perubahan bagus."


"Em," Cahaya pun mangguk-mangguk mendengar jawaban Felix.


"Aya," Felix mencolek lengan Cahaya. Membuat Cahaya menyadari ada yang tidak beres.


"Apaan sih?" Cahaya berpura-pura tidak mengerti apa yang kini di inginkan oleh suaminya tersebut.


"Ayolah, aku sudah pulang lebih awal," Felix tersenyum manis, karena dirinya sedang menginginkan istrinya tersebut.


"Felix," Cahaya masih saja malu-malu kucing, padahal dalam hati tidak menolak sama sekali.


Bruk!


Felix lagi-lagi mendengar suara benturan, hingga kembali melihat ke luar. Dan tampak kucing Vanya di sana.


"Kenapa?"


"Kucing."


"Em," Cahaya pun mengangguk.


Sedangkan di luar sana Nayla tengah kesal pada Devan. Karena ulah Devan kini dirinya harus bersembunyi di bawah meja.


"Mas, ish!" Nayla memukul lengan Devan.


Bayangkan saja dirinya harus bersembunyi di bawah kolong meja, karena barusan saat berjalan tepat berada di depan pintu kamar Felix diam-diam Devan memeluknya erat dari belakang. Membuat Nayla terkejut dan terjatuh hingga membentur pintu, beruntung pintu kamar terkunci sehingga tidak terbuka dan tampak dirinya yang terjatuh bersama Devan.


Apa yang akan di pikirkan oleh Felix dan juga Cahaya nantinya? Lagi pula di mana harga diri Devan jika saja anak menantunya tahu kekonyolan suami tersebut. Itulah alasan kenapa Nayla berada di bawah meja.

__ADS_1


"Kamu sih Mas, ada-ada saja!"


"Gimana? Mas, kangen. Dua hari di luar kota Mas nggak kuat sayang," Devan pun menunjukan wajah melasnya.


Membuat Nayla seketika merasa iba.


"Biasa aja Mas, kita udah tua."


"Biar tua, tapi Mas masih kuat. Kamu tidak ragukan?" Devan mengkedipkan sebelah matanya menggoda Nayla.


"Mas, genit deh!" Nayla pun mencubit lengan Devan.


Cubitan rasa cinta yang rasanya ingin lagi dan lagi.


Kurang ajar.


Kemesraan ini benar-benar tidak pernah luntur meskipun usia pernikahan yang sudah begitu lama.


Rasanya tetap saja sama.


Semakin hari rasa cinta semakin bertambah saja, tanpa ada yang berkurang sama sekali.


"Kamu tahu apa yang semakin tinggi semakin banyak?"


"Tahu."


"Apa?" Tanya Devan.


"Cinta aku sama Mas," Nayla pun cekikikan, merasa lucu dengan jawabannya.


Mengingat usia tentunya sangat membuatnya merasa konyol.


"Ya ampun sayang, semakin menua kau semakin pintar saja. Jadi, pengen buat dedek bayi, saingan sama dua pengantin baru itu," seloroh Devan.


"Sayang, ke kamar yuk."


Nayla pun mengangguk setuju dengan cepat Devan pun mengangkat tubuh Nayla.


"Aaa!" Teriak Nayla tanpa sadar, sebenarnya Nayla sedang takut, antara takut ada yang melihat mereka dan juga takut malah terjatuh. Meskipun sebenarnya tidak mungkin, karena melihat suaminya semakin berkarisma saja.


"Takutnya ada yang lihat Mas. Turunin," Nayla pun melihat sekitar sambil berdoa semoga saja tidak ada yang melihat mereka.


"Bunda kenapa?" Rena yang mendadak muncul dengan tiba-tiba membuat Nayla shock berat.


Apa yang harus di katakannya saat ini pada menantunya tersebut.


Apakah harus Nayla mengatakan bahwa dirinya dan Devan ingin mengulang kembali saat-saat berbulan madunya.


"Kaki Bunda sakit, jadi nggak bisa jalan," bohong Nayla.


Rena pun mengangguk mengerti, sambil matanya melihat kaki Nayla.


"Gitu ya Bunda, aku ke kamar dulu," Rena langsung berlalu menuju kamarnya.


Tanpa mengetahui jika peluh Nayla sebenarnya sudah bercucuran membasahi tubuh.


Sedangkan Devan kembali melanjutkan perjalanan menuju kamar, sambil terus mengangkat Nayla.


Sesampainya di kamar Nayla pun di turunkan, kemudian dengan cepat mengambil kemoceng dan memukuli Devan.


"Sayang, ada apa?" Devan mencoba untuk menghindari, tetapi tetap saja Nayla tidak ingin melepas Devan.


"Pertama hampir ketahuan Felix, kedua malah kepergok menantu. Gara-gara Mas, aku harus bohong!"


Mulut Nayla terus mengomel, sedangkan tangannya pun tidak henti-hentinya memukuli Devan.


"Sayang, sakit. Aduh," Devan pun berpura-pura kesakitan.


Benar saja, Nayla langsung menghentikan aksinya. Karena merasa kasihan.


Sesaat kemudian Devan pun mencolek dagu Nayla.


"Malam tadi Mas nggak bisa tidur gara-gara mikirin kamu."

__ADS_1


Nayla senang sekali mendengar godaan Devan, hanya saja dirinya masih berpura-pura kesal saja.


Sehingga memasang wajah kesalnya terus menerus.


Tetapi Devan lagi-lagi mencoleknya, membuat Nayla tak lagi dapat menahan senyumnya.


"Dasar aki-aki genit!"


"Biarin, kan genit sama istri sendiri," Jawab Devan masih saja dengan senyuman manisnya yang dari dulu dapat membuat Nayla tidak dapat lagi beralih menatap yang lain selain dari suaminya tersebut.


"Kamu tahu apa yang paling tinggi selain langit?"


"Apa?"


"Ini!" Devan pun menunjuk ke bawah.


Membuat Nayla ingin sekali meremas wajah Devan.


"Itu tegangan tinggi MAS!" Kesal Nayla mengetahui apa yang di maksud oleh Devan.


Tahukah apa yang di maksud oleh suami Nayla tersebut?


Apa lagi kalau bukan kembaran Devan.


"Itu juga tinggi sayang."


"Itu tegangan tinggi Mas!"


"Hehehe," Devan pun cengengesan, persis seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan baru.


"Tapi, ayolah. Aku juga...." Nayla mendadak malu dan memilih untuk tidak melanjutkan apa yang hendak di ucapkan oleh bibirnya.


"Istri ku ini, masih saja malu-malu. Padahal sudah sering juga."


"Mas ish!" Nayla tidak kuat saat Devan menggodanya.


Lagi-lagi bisa lupa diri jika sudah menyangkut tentang sebuah godaan. Ini sungguh sangat luar biasa.


"Ayo," Devan pun menarik Nayla untuk berjalan menuju ranjang.


Namun mendadak ada yang mengetuk kamar, tetapi Devan memilih tidak perduli. Tetapi lagi-lagi masih saja terdengar suara, hingga terpaksa Devan harus mengurungkan niatnya sejenak.


Bahkan karena terlalu kesal Devan sendiri yang membukakan pintu.


Tampak Adnan yang berdiri di depan pintu kamar, namun sesaat kemudian Adnan pun langsung masuk tanpa butuh ijin.


"Kata Rena, Bunda di gendong Ayah. Apa Bunda sakit?"


Devan mendesus kesal ternyata tujuan Adnan adalah menanyakan keadaan Nayla.


"Menggangu," gumam Devan.


"Adnan, keluar dari kamar ini! Biar istri ku urusan ku!" Devan pun menyeret Adnan untuk keluar dari kamarnya, setelah itu menutup pintu hingga Rena yang berada di luar sampai tersentak.


"Mas, Adnan cuma khawatir!" Nayla tidak terima saat anaknya di usir oleh Devan.


"Untuk apa? Untuk ******* mu!" Tanya Devan.


Glek.


Nayla hanya bisa meneguk saliva mendengar apa yang di katakan oleh Devan.


"Suami mu ini sedang rindu, butuh istrinya. Biarkan pria itu juga bersama istrinya," Devan pun lekas naik ke atas ranjang dan memeluk Nayla dengan penuh cinta.


"Mas, nggak bosan meluk aku mulu? Mas kan banyak uang, gagah juga iya. Jadi tidak sulit untuk mendapat wanita di luar sana," kata Nayla ingin menguji suaminya.


"Aku hanya ingin satu istri, satu wanita dan satu cinta. Pada akhirnya pun hanya istri yang akan ada menemani ku, wanita di luar sana hanya menginginkan uang ku saja."


Nayla terharu mendengarnya, suaminya itu memang sangat romantis.


"Sayang, ayo bikin adek bayi," tawar Nayla.


"Istri ku!" Devan langsung menggigit bibir bawah istrinya dengan gemas.

__ADS_1


"Aaa!" Teriak Nayla, tetapi percayalah jika itu adalah teriakan yang penuh dengan cinta.


__ADS_2