Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Hilang entah kemana!


__ADS_3

Nayla memang tidak dapat membujuk Ibunya untuk untuk ikut bersama dengan dirinya, akan tetapi Nayla mengatakan pada Ratih untuk tidak perlu berjualan lagi karena nanti yang akan memenuhi semua kebutuhan Ibunya itu adalah Nayla sendiri. Sebab alasannya ingin menjadi anak yang berbakti kepada Ibunya.


Ratih tak banyak berkomentar untuk itu, mengikuti apa yang di katakan oleh Nayla mengingat masa lalu yang begitu menyakitkan, Nayla begitu tulus padanya sekalipun sudah di telantarkan, di hina bahkan, di kucilkan nya sendiri. Padahal pada kenyataan nya Nayla adalah darah dagingnya.


Sampai akhirnya Nayla pun kembali memeluk Ibunya dengan penuh haru sebelum akhirnya berpamitan pulang.


"Bu, nanti malam aku akan ke sini lagi sama suami," kata Nayla.


"Apa dia tidak malu memiliki mertua seperti Ibu? Apa mungkin kamu tidak malu mengenalkan suami mu pada Ibu yang hanya wanita miskin," Ratih benar-benar tak ingin mengganggu kehidupan rumah tangga putrinya, sadar bahwa dirinya hanya orang miskin yang tak memiliki apa-apa.


"Ibu nggak boleh gomong begitu, Mas Devan baik kok Bu. Bahkan, dia selalu menjenguk Bapak di kampung, walaupun rumah Bapak kecil. Tetapi, sekarang bahkan sudah di renovasi sama Mas Devan, Bu," kata Nayla meyakinkan bahwa suaminya itu adalah malaikat paling baik selama ini.


Nayla pun tersenyum membayangkan wajah suaminya itu seketika rasa rindu pun kini mulai terasa, cinta terhadap Devan memang tak pernah luntur meskipun usia mulai menua rambut pun mulai memutih.


Setelah Nayla pulang. Felix dan Cahaya pun ikut berpamitan pulang ke rumah.


Kini pernikahan keduanya sudah di susun rapi, walaupun pada kenyataan nya Felix hanya bisa membelikan sebuah cincin imitasi, hasil berjualan pecel Nenek nya.


Tidak masalah, Cahaya tidak melihat dari segi harga. Melainkan dari segi perjuangan yang di lakukan oleh Felix padanya.


##########


Sedangkan di sisi lainnya seorang wanita tampak begitu bersedih, selama beberapa hari ini wajahnya begitu murung tanpa ada semangat menjalani hari-harinya.


"Rena, kamu kenapa?" Reyna pun bertanya saat melihat putrinya yang hanya mengurung diri di dalam kamar.


Rena pun menarik napas panjang, sejenak melirik Reyna.


"Kamu, kesal karena Felix dan Cahaya akan menikah?" Tebak Reyna yang ingin tahu perihal apa yang kini menjadi beban di kepala putrinya itu.


Rena pun menggeleng kemudian memeluk Reyna. Sebab, permasalahan kini bukan Felix melainkan Adnan.


Setelah hari itu Felix membongkar rahasia Adnan yang ternyata memiliki perasaan padanya, Adnan tak tahu entah pergi ke mana.

__ADS_1


Di kampus pun Adnan tak pernah lagi terlihat, membuat Rena yang sudah terbiasa bersama pria itu pun bertanya-tanya kemana perginya pria itu.


"Lalu, kamu kenapa? Umi perhatikan akhir-akhir ini kamu murung terus?"


"Aku lagi pengen sendiri aja Umi, nggak ada apa-apa kok," Rena pun terdiam meyakinkan bahwa tidak ada yang harus di khawatirkan oleh Reyna.


Sebab, ini menyangkut hati dan cinta.


"Cahaya, mau bertemu dengan mu. Boleh Umi ijinkan dia masuk ke kamar mu ini?"


"Cahaya di sini Umi?" Rena tampak terkejut mendengarnya


"Iya."


"Biasanya langsung masuk ke kamar aku?"


"Nggak tahu, katanya takut kamu marah. Makanya Umi dulu yang ke sini."


"Hay," Rena pun memeluk Cahaya, keduanya sudah seperti saudara kandung yang begitu dekat.


"Kamu apa kabar?" Tanya Cahaya, sambil mengamati raut wajah Rena.


Tetapi, tampaknya Rena terlihat baik-baik saja.


Hingga akhirnya keduanya duduk bersebelahan, bahkan bibir Rena terus saja bercerita.


"Calon manten," goda Rena.


"Apaan sih," Cahaya tersipu malu saat Rena mengejek dirinya.


"Caelah malu-malu kucing, padahal ya gitu deh," celetuk Rena dengan sentuhan penuh kebahagiaan.


"Rena, aku boleh bicara nggak?" Cahaya pun kini menunjukkan wajah serius nya, berbicara berdua saja tanpa ada yang lainnya.

__ADS_1


"Kok, kayaknya serius banget?"


"Aku serius, kamu yakin membatalkan pernikahan kamu sama Felix?" Cahaya terus menatap Rena dengan serius, mengingat mereka sudah lama bersahabat dan tak ingin merusaknya.


"Iya, kan aku nggak suka sama dia."


Cahaya pun merasa lega, artinya tak ada dendam atau pun sesuatu yang membuat mereka menjadi bermusuhan walaupun secara diam-diam.


"Terus, kamu sukanya sama siapa?" Tanya Cahaya lagi.


"Hehehe." Rena pun cengengesan sambil membayangkan wajah Adnan.


"Kamu lagi mikirin apa sih?" Cahaya malah semakin penasaran dengan apa yang kini di pikirkan oleh Rena


"Ada deh," Rena pun kembali tersenyum, bayangan wajah Adnan serasa membuatnya melayang.


Walaupun tak tahu entah kemana kini Adnan menghilang, tapi jika bertemu nanti lihat saja apa yang akan di lakukan oleh Rena.


"Em, ada yang lagi jatuh cinta kayaknya," tebak Cahaya.


Tetapi artinya tidak membuat Rena bersedih hati, karena pembatalan pernikahan bersama Felix. Senyuman Rena menggambarkan bahwa tak ada dendam yang terasa.


"Nanti juga kamu tahu, kamu aja yang duluan menikah."


Dengan gilanya Rena membayangkan Cahaya akan menjadi iparnya, padahal Adnan kini masih entah di mana.


"Kamu mikirin apa sih?" Cahaya semakin penasaran, karena Rena yang malah tertawa terbahak-bahak sendirian tanpa tahu penyebabnya.


"Nggak apa-apa, tapi nanti jangan lupa kasih bunga pengantin kamu ke aku ya. Aku udah lelah jomblo, pengen jadi istri sekalian, tidak ada pacaran-pacaran, kalau bisa pacarannya setelah menikah nanti saja."


"Siapa sih orangnya, aku makin penasaran?"


"Ada deh, hehehe."

__ADS_1


__ADS_2