Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Alex harus tahu!


__ADS_3

Devan pun sampai bersama dengan Nayla, keadaan Jessica benar-benar memprihatinkan saat ini.


"Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit," kata Devan memberikan solusi, bagaimana pun di rumah sakit semua lebih mudah. Alat juga dapat digunakan saat benar-benar membutuhkan seperti sekarang ini.


"Aku nggak mau, tolong kasih obat pereda rasa sakit ini aja. Aku mohon," Jessica pun menggeleng menolak dibawa ke rumah sakit.


"Jessica, muka mu saja sangat pucat. Bibir mu sudah seperti mayat hidup," Nayla pun ikut kesal dan berusaha untuk meyakinkan Jessica.


Dirawat di rumah sakit adalah pilihan yang tepat, sayang Jessica masih menggeleng dan menolak.


"Baiklah, sampai beberapa jam ke depan kita lihat," Devan pun memutuskan untuk memasang selang infus.


Takut Jessica semakin stress malah semakin membahayakan juga, bergerak terlalu banyak pun bisa membuat tubuh kian kehilangan tenaga. Selesai memasang selang infus, Jessica pun lebih baik. Kemudian terlelap begitu saja karena sudah terlalu lelah menahan sakit.


Rara hanya bisa menangis melihat penderitaan adiknya.


"Aku tidak mau kehilangan dia, cukup sudah aku menyaksikan penderitaan Adik ku saat dia berusaha keras memperjuangkan Cahaya saat dalam kandungan. Aku sudah lelah melihatnya menderita," kata Rara penun air mata.


Jangankan Rara yang notabenenya adalah saudara kandung dari Jessica, bahkan Nayla pun ikut iba melihat keadaan Jessica yang sangat memperhatikan.


"Semoga ada jalan terbaik ya Kak."


"Aku tidak tahu, tapi aku benar-benar takut kehilangan dia."


Rara duduk di sisi ranjang menatap wajah pucat adiknya, di atas ranjang mendiang kedua orang tua mereka.


Siang harinya keadaan Jessica mulai membaik, tetapi Devan menyarankan untuk tidak melepaskan selang infus yang baru saja di gantinya dengan yang baru.


Namun, Jessica harus pulang. Bagaimana mungkin pulang dengan keadaan tangan yang dipasang selang infus.

__ADS_1


Akhirnya Jessica pun berniat ingin melepaskan.


"Jessica tunggu," Rara masuk ke dalam kamar tepat waktu, sehingga Jessica belum sempat membukanya.


"Aku harus pulang Kak, ini sudah hampir sore,"


"Kamu telpon Alex, bilang kamu menginap di sini. Kalau kamu pulang, nanti kamu kesakitan?" Rara berbicara sambil menatap wajah Jessica dengan serius.


"Alex akan tahu juga." ucap Rara lagi.


Jessica pun terdiam dan menimbang perkataan Rara.


Segera menghubungi Alex dan mengatakan bahwa dirinya menginap di sana, dengan berat hati Alex pun menyetujuinya.


"Sekarang kamu makan." Jessica pun menerima suapan demi suapan yang diberikan oleh Rara.


Air mata Rara menetes tiada henti dengan tangan yang bergetar, takut kehilangan Jessica tentunya.


"Tidur, jangan banyak bicara!" Selesai menyuapi Jessica segera Rara pun keluar, benar-benar tidak kuasa melihat wajah pucat adiknya yang keras kepala tersebut.


Malam harinya Alex mendatangi Jessica, melihat istrinya apakah baik-baik saja. Namun, Alex tidak diijinkan masuk. Kata satpam Jessica sudah tidur bersama dengan Rara dan tidak mau di ganggu.


Alasan tersebut semakin tidak masuk akal, Alex pulang menuju rumahnya dengan perasaan penuh tanya.


"Kamu jahat sekali, padahal terlihat Alex sudah berubah," Rara sempat melihat Alex dari balik jendela kaca, dan merasa iba pada seorang pria yang tengah mengkhawatirkan istrinya.


"Kak, kenapa sakit lagi. Kak," Jessica pun meremas perutnya menahan sakit yang tiada terkira.


"Jessica, ini sudah tidak benar. Untuk hari ini saja rasa sakit mu itu sudah berulang kali, Alex harus tahu," Rara pun mengambil ponselnya Jessica, ingin menghubungi Alex dan mengatakan semuanya.

__ADS_1


Agar segera mendapatkan perawatan terbaik, Alex pun tentu tidak akan membiarkan istrinya dalam penderitaan.


Namun, Jessica berusaha sekuat tenaga menggapai ponsel di tangan Rara, kemudian melemparnya hingga berserakan dilantai.


Rara menatap Jessica yang kini berdiri di hadapannya, wajah Jessica yang pucat seperti mayat hidup membuatnya semakin takut.


"Kamu mau membuat aku semakin bersedih? Aku sudah kehilangan Papa dan Mama. Apa sekarang aku harus kehilangan mu juga? Kamu keluarga ku satu-satunya! Aku tidak punya saudara selain kamu!" Teriak Rara penuh rasa sakit di dada.


"Aku nggak mau anak ini diangkat Kak, tolong mengerti," Jessica yang lemah pun duduk di lantai, berusaha tetap sadar agar Rara tidak semakin khawatir.


Sedangkan selang infus ternyata sudah terlepas begitu saja, Jessica sama sekali tidak menyadarinya.


"Alex harus tau, kamu istri Alex! Bukan istri Devan! Yang berhak tahu keadaan kamu Alex, bukan Devan! Kamu pikir jika terjadi hal buruk pada mu siapa yang bersalah? Aku! Aku tahu tapi membiarkan mu!"


Rara pun mengambil ponselnya dan segera menghubungi Alex, tidak perduli pada Jessica yang memohon terus menerus padanya.


Beberapa kali menghubungi Alex sampai saat ini pun tidak dijawab sama sekali.


"Kak, jangan kasih tau Alex," Jessica memegang kaki Rara berharap bisa merebut ponsel dari tangan Rara dan tidak mengatakan pada Alex tentang dirinya.


Sampai akhirnya Alex menjawab panggilannya.


"Alex, ini aku," Rara menatap Jessica yang menggelengkan kepalanya, memohon untuk tidak memberitahu pada Alex tentang dirinya.


"Alex, kamu datang kesini sekarang!" Titah Rara dengan cepat.


"Stttt!!!" Jessica meremas perutnya yang terus saja terasa sakit.


"Darah!" Rara terkejut melihat darah yang keluar dari sela kaki Jessica.

__ADS_1


Rara menjatuhkan ponsel seketika, dan cepat-cepat berjongkok melihat Jessica yang sudah tidak sadarkan diri


"Jessica bangun, kenapa dia tidak bernapas, Jessica bangun!" Teriak Rara dengan ketakutan.


__ADS_2