
Setelah siang berlalu, maka malam pun tiba.
Riki larut dalam pikirannya, walaupun kini berada di tengah keramaian. Musik yang berdentum keras tak membuatnya menjadi lebih baik, sesekali meneguk minuman yang menjadi candunya. Hingga akhirnya ada seorang wanita yang menghampiri, sayangnya Riki sedang tidak ingin ditemani oleh wanita mana pun. Dari banyaknya wanita tak ada satupun yang mampu membuatnya tertarik, apa lagi sampai puas. Yang ada mereka seakan dipuaskan oleh Riki, semakin membuatnya merasa jijik.
Lagi-lagi Riki hanya melihat gelas di tangannya, duduk di bartender dengan pikirannya.
Hingga akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah, karena tak ada yang bisa membuatnya terhibur sama sekali.
Namun, sesampainya di rumah Riki melihat Sela yang berada di ruang tamu.
Riki pun tak bertanya sama sekali, memilih untuk terus melanjutkan langkah kakinya. Hingga suara Sela mampu menghentikan langkah kakinya.
"Sampai kapan kamu mau seperti ini? Buka mata kamu, wanita tidak hanya satu di dunia ini."
Riki masih diam dengan memunggungi Sela, meresapi apa yang dikatakan oleh Mamanya tersebut.
"Hidup ini berjalan, ada saatnya kita sedih dan bahagia. Lalu, kenapa kamu malah memilih terus terjebak dalam kesedihan yang tidak berkesinambungan itu, tidak ingin keluar sama sekali dari kesedihan mu itu," imbuh Sela.
Riki pun memutar lehernya beberapa derajat, hingga akhirnya melihat Sela. Sedangkan Sela yang duduk di kursi roda pun masih terus menatap putra tunggalnya itu.
"Hanya ada satu wanita terbaik di dunia ini, yaitu Mama. Selebihnya hanya penipu," jawab Riki. Membuat Sela tersenyum mendengarnya.
"Salah, coba buka mata mu. Kamu tidak menyadari bahwa ada banyak wanita yang bahkan jauh lebih baik dari pada Mama."
__ADS_1
"Siapa?"
"Vanya, contohnya."
Riki pun tersenyum miring, bocah yang sama sekali tidak pernah membuatnya tertarik.
"Masih bocah bau kencur," Riki pun segera pergi, tak berniat membahas tentang wanita itu atau pun wanita lainnya.
Sesaat memasuki kamar Riki pun duduk di atas ranjang, menyandarkan kepalanya pada dasbor ranjangnya. Pikirannya benar-benar tidak tenang, menjalani segala sesuatunya tanpa warna sama sekali. Hingga kemudian melihat ponselnya, walaupun entah apa yang dilihatnya.
Sampai akhirnya tiba-tiba melihat status aplikasi hijau di ponselnya, tampak Vanya yang sedang bersama dengan Sela saat berada di sekolah siang tadi.
Keduanya tampak begitu akrab, sejenak Riki memperhatikan wajah Vanya. Mencoba untuk mencari sesuatu yang mampu membuatnya tertarik, tetapi apa?
Semuanya tampak biasa saja.
Hingga Riki pun memilih untuk melempar ponselnya ke atas ranjang, kemudian berjalan menuju jendela.
Lagi-lagi tak ada yang dapat di lakukannya, mata pun masih saja tak dapat terpejam sama sekali. Kesepian ini sungguh sangat menyiksa, entah sampai kapan Riki pun tak pernah tahu.
Jika ditanya apakah Riki lelah menjalani hidup yang seperti ini?
Tentu!
__ADS_1
Riki pun ingin bahagia, tetapi tidak tahu siapa yang dapat membuatnya bahagia.
Jangan katakan dirinya tak kesepian, karena semua itu tak pernah ditampakkan pada siapapun. Biar saja diluar sana orang melihat dirinya yang ceria, seakan begitu menikmati hidupnya.
Walaupun nyatanya semua berbanding terbalik, hingga akhirnya ponsel Riki pun berdering, segera mengambil benda pipih tersebut dan melihat nama Bian di sana.
"Em?" Jawab Riki dengan malas.
"Riki, di mana? Banyak cewek ni," kata Bian salah seorang rekan kerja Riki yang juga merupakan temannya.
"Aku sedang tidak ingin." Riki pun memutuskan panggilan sepihak, tanpa perduli pada Bian yang kesal padanya.
Sepertinya malam ini semuanya sama saja, bahkan sama sekali matanya tak bisa terlelap.
Walaupun sudah berusaha dengan cara menutup matanya.
Gagal dan gagal lagi hingga hari pun mulai pagi, pekerjaan siap menantinya.
Memasuki kamar mandi, kemudian merendam dirinya agar tubuhnya terasa segar.
Sesaat kemudian memakai kemeja hitam berpadu dengan celana senada dan juga jas hitam yang tampak membuatnya terlihat begitu berkarisma.
Sayangnya tak ada yang dapat memiliki pria itu yang terus larut dalam setiap luka lara tidak ada akhirnya ini, menusuk tanpa belati, lebih menyakitkan dari pada terluka lalu berdarah.
__ADS_1