Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Perduli setan dengan tanggung jawab...


__ADS_3

"Kau pikir omongan saya tidak bisa di pegang!" Riki ingin membuktikan bahwa apa yang di katakannya barusan tidak main-main.


Jangan sampai Vanya besar kepala karena merasa mampu untuk menggodanya. Sebab, sampai saat ini pun tak ada yang mampu membuatnya jatuh hati setelah hati yang patah. Tidak ada yang mampu mengobati luka dalam itu hingga sampai kini masih membekas dalam ingatan.


"Omongan cuma angin Om, gimana pegangannya? Ambil otak dari kepala terus aku cuci, tidak lupa pakai deterjen dan air mengalir. Agar otak Om menjadi baik!" Ujar Vanya kesal.


Sedangkan Riki malah terkejut mendengarnya, setiap ucapannya selalu ada jawaban. Sedangkan jawaban tidak ada yang benar satu pun juga.


"Berbicara dengan mu itu seperti sedang mencoba untuk menggenggam angin!"


"Angin?"


"Kosong, nggak ada artinya!"


Vanya pun memberikan senyuman miring.


"Ngomong sama Om juga kayak barang bekas!"


"Maksud mu?"


"Nggak ada yang suka!" Kata Vanya dengan angkuhnya.


"Dasar wanita aneh!" Umpat Riki.


"Mau ngajarin aku berenang nggak? Ngomel mulu. Persis emak-emak, padahal laki-laki. Dasar, laki-laki jadi-jadian," gerutu Vanya.


Kalau bukan karena ingin membuktikan bahwa dirinya tidak tertarik pada Vanya sebenarnya malas sekali mengajari untuk berenang


"Baiklah, cepat masuk ke kolam!"


"Pemanasan dulu Om!"


"Banyak gaya!"

__ADS_1


Vanya tidak perduli sama sekali, dirinya tetap fokus melakukan beberapa gerakan yang di sebutnya sebagai pemasangan. Walaupun mungkin gerakan tersebut tidak ada yang beres. Hingga akhirnya Vanya pun kembali masuk ke dalam kolam renang.


"Angkat kaki mu!" Riki pun memberikan perintah, sesuai dengan apa yang dilakukannya.


Sedangkan Vanya layaknya seorang murid dadakan yang banyak tingkah, dinginnya air pun stabil tidak lantas membuat emosi tetap. Di dalam air atau tidak sama saja, sama-sama panas jika keduanya bertemu. Bahkan mungkin air disekitarnya bisa mendidih karena emosi yang memanas.


"Bodoh sekali!" Riki kehabisan kesabaran untuk mengajarkan Vanya berenang. Karena dari tadi wanita itu terus saja tenggelam, bahkan sampai terbatuk-batuk karena menelan air.


"Om, aja yang galak. Aku bilang ke Tante loh, Om dorong aku dengan sengaja!" Vanya tersenyum miring, mulai saat ini dirinya harus melawan agar tidak tertindas terus menerus.


Pantang bagi seorang Vanya untuk di tindas, baginya wanita sama saja dengan laki-laki memiliki kedudukan yang sama tanpa ada perbedaan.


"Diam!"


"Hehe, takut kan?" Vanya tersenyum penuh kemenangan, karena bisa mengancam Riki.


Mungkin kedepannya dirinya juga bisa mengunakan senjata tersebut untuk membuat Riki menurut padanya. Hingga akhirnya Vanya pun meloncat naik ke atas punggung Riki. Sedangkan Riki terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Vanya. Bagaimana pun Riki adalah lelaki normal, dirinya memang tidak tertarik pada Vanya. Namun tidak juga dengan posisi gila ini, tidakkah Vanya merasa dua gunung kembarnya melekat dengan sempurna pada bagian punggungnya.


Kaki Vanya bergerak di dalam air, seakan merasa dirinya sedang berenang sendirian tanpa tahu apa yang tengah dipikirkan oleh otak Riki. Riki pun seperti sedang menjaga anak kecil, menuruti kemauan Vanya. Walaupun bibirnya terus menggerutu tetap saja menuruti nya


Lagipula semakin banyak dirinya berbicara. Maka, semakin membuatnya pusing mendengar jawaban Vanya. Sejenak Riki menutup mata, menepikan otak kotornya yang mulai berfantasi liar. Hingga akhirnya Vanya pun berpindah ke depan, melingkarkan tangannya pada tengkuk Riki.


"Hehehe," Vanya begitu bahagia karena dirinya akhirnya bisa berenang, dengan cara Riki yang menggendongnya.


Glek!


Sejenak Riki menutup maka merasa ada yang tidak beres. Tetapi saat itu Vanya memilih untuk kembali ke belakang Riki.


Hingga tiba-tiba Riki merasa air kolam renang itu mendadak terasa hangat di sekitarnya sedangkan sebelumnya tidak sehangat itu.


Tentunya mengundang sebuah tanya, mengapa bisa air kolam mendadak menjadi hangat.


"Apa ini?" Tanya Riki.

__ADS_1


"Hehehe," Vanya semakin memperkuat kakinya yang melingkar di bagian perut Riki.


"Aku pipis Om," kata Vanya dengan suara pelan.


"Apa?" Pekik Riki dengan shock.


"Kau jorok, dasar wanita jorok. Apa yang kau lakukan!" Apa yang dilakukan oleh Vanya sungguh sangat keterlaluan, bagaimana bisa kencing di dalam kolam renang bahkan saat dengan posisi naik di atas punggungnya. ⠀⠀


"Udah kebelet banget Om."


Riki pun menurunkan Vanya dari punggungnya.


"Ada-ada saja!" Umpat Riki kemudian segera keluar dari kolam renang, memilih untuk membilas dirinya.


"Hehehe," Vanya pun ikut keluar dari dalam kolam renang, kemudian berjemur selayaknya seperti sedang berada di pantai.


Lama tidak begini membuatnya seakan begitu bahagia.


Namun dari jendela kamar Riki melihat Vanya di bawah sana, Vanya sedang bersantai sambil mendengarkan musik.


Mungkin saja musik dangdut, sedangkan Riki tidak menyukai lagu tersebut karena menurutnya sangat tidak enak di dengar.


Tapi lebih tidak menyukai Vanya yang jorok, sejenak Riki berpikir untuk menyudahi segala perjanjian mereka. Karena sepertinya dirinya yang dibuat pusing oleh wanita aneh tersebut.


Mungkin itu adalah pikiran yang tepat, semua yang dilakukan oleh Vanya memang tidak ada yang beres.


Bahkan dahinya masih belum sembuh benar, di tambah lagi punggung yang terkenal kayu karena Vanya sendiri yang memukulnya siang tadi.


Lalu sekarang malah kencing di kolam renang, sungguh sangat ironis memang sudah cukup semuanya.


Mungkin mengusir wanita itu jauh lebih baik. Agar tidak terus-menerus membuatnya menjadi sial yang tidak berkepanjangan seperti saat ini.


Perduli setan dengan tanggung jawab.

__ADS_1


__ADS_2