
Sore harinya Riki pun mengirimkan pesan pada calon istrinya.
Siapa lagi kalau bukan Vanya.
( Sayang, Mas kangen ) Om Riki.
Vanya pun berguling-guling di kasur membaca pesan dari Riki sungguh membuat hati menjadi kegirangan.
( Aku juga kangen ) Vanya.
Ya ampun mendadak Riki kehilangan kata-kata, sungguh apa yang dikirimkan oleh Vanya seakan menariknya kembali menjadi ABG.
( Boleh, Mas datang sekarang? ) Om Riki.
Ya ampun Vanya terus saja berguling-guling di kasur, hingga akhirnya terjatuh.
"Aduh," Vanya pun meringis menahan sakit pada pinggangnya.
Mengapa bisa dirinya terjatuh, tapi tidak masalah. Vanya sudah terlalu bahagia dengan pesan yang dikirimkan oleh Riki.
Tapi untuk datang sepertinya belum waktunya, lagi pula mengapa Riki tidak tepat janji.
Bukankah sudah pernah Vanya meminta waktu satu bulan pada Riki, tapi malah di berikan dua minggu dan anehnya baru dua hari Riki sudah mendesak untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.
Tanpa Vanya ketahui bahwa Riki sudah tak sanggup menahan dirinya, sehingga terus mendesaknya untuk segera bertemu dengan kedua orang tuanya.
Tetapi bagaimana lagi sebab kedua orang tuanya juga belum percaya dengan dirinya yang ingin menikah.
Baiklah Vanya harus menulis pesan balasan terlebih dahulu agar Riki mengerti.
( Om, sabar dulu ya. Aku ngomong dulu ke Bunda dan Ayah ) Vanya.
"Ayah, Bunda?" Riki malah dibuat bertanya-tanya, bukankah kemarin-kemarin Vanya menyebut Ibu?
Entahlah, lagi pula bocah itu memang sangat aneh.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Felix.
Felix baru saja sampai di perusahaan Riki, untuk apa?
Tentunya untuk berbicara tentang pekerjaannya, tetapi malah Riki tidak menyadari kehadiran dirinya.
"Sejak kapan kau di sini?"
"Sejak tadi! Aku menunggumu di kantorku. Tapi, apa? Kau tidak juga datang!" Felix pun menunjukan wajah kesalnya.
"Hingga untuk yang kesekian kalinya aku harus ke sini dan menemui mu, Tuan Presdir," kata Felix bermaksud mengejek Riki.
Sementara Riki malah terkekeh melihat kekesalan yang jelas terpancar pada wajah Felix.
"Kau memang sahabat terbaik ku!" Riki pun bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke arah Felix yang kini duduk di kursi.
__ADS_1
"CK, menjijikan!"
Akhirnya keduanya pun duduk dengan saling bersebelahan, Riki tersenyum melihat Felix sementara tidak dengan sebaliknya.
"Kau mau mendengar sesuatu? Aku akan menikah!" Kata Riki dengan bangga.
Sementara Felix cukup terkejut mendengarnya, sepertinya cukup mustahil tetapi telinganya masih bagus dan masih berfungsi dengan baik. Sehingga dirinya yakin jika tidak salah dalam mendengar.
"Benarkah?"
"Tentu, sepertinya kali ini wanitanya sangat berbeda dan aku bisa mencoba untuk setia," kata Riki dengan yakin.
"Ya, walaupun aku kurang yakin," Felix mengangkat bahunya seakan tidak yakin pada apa yang dikatakan Riki.
Kesetiaan?
Mencoba setia tepatnya mungkin sepuluh persennya bisa tapi sembilan puluh persennya tidak. Menimbang Riki adalah seorang casanova, sulit untuk bisa setia.
"Tapi itu bagus, kau juga harus tahu tidak baik melakukan hal itu pada banyak wanita. Bisa terjangkit penyakit!" Felix pun memperingatkan Riki akan penyakit yang sangat menjijikan itu.
Tanpa Felix tahu selama ini ada alat kontrasepsi yang selalu di gunakan. Bahkan Riki tak pernah mendapatkan puncak kepuasan.
Kecuali bersama Vanya, gilanya hanya menggesekkan saja sudah membuatnya hampir gila karena mendapatkan puncak kepuasan.
Sial, dirinya lagi-lagi menegang jika sudah menyangkut tentang Vanya.
"Kau tahu? Wanita kali ini dadanya cukup kecil, tapi pas di tangan ku. Aku sangat suka memegang benda itu," kata Riki membayangkan dada Vanya saat dalam genggamannya.
"Ya, terserah pada mu saja. Asalkan kau puas!" Felix terkekeh melihat Riki, tapi tampak jelas Riki begitu bahagia menceritakan tentang kekasihnya itu.
"Apa yang sudah kau lakukan dengannya?
"Kami sudah sering tidur bersama, bahkan aku juga sudah..." Riki pun terdiam dan hanya menutup mata membayangkan tentang Vanya.
"Dia memang bocah nakal namun menggemaskan. Tapi, aku sangat suka," lanjut Riki.
"Ya, aku paham. Jika sudah di atas ranjang tentunya hanya ada kesenangan bukan?" Tebak Felix dengan segala pikirannya.
Sementara Riki malah tertawa terbahak-bahak, karena bayangan Vanya yang begitu seksi.
"Apa lagi bibirnya. Dan, mau tahu? Dia juga hanya menggunakan handuk saat di depan ku, menanyakan dalaman yang cocok untuknya pada ku. Kurang ajar, aku lebih suka isinya dari pada ********** itu," Riki benar-benar gila jika sudah berbicara soal Vanya.
Namun hanya pada Felix dirinya terbuka, sebab hanya Felix yang menurutnya tulus bersahabat dengan dirinya.
Meskipun Riki tidak menyadari bahwa persahabatan mereka kini sedang di pertaruhkan.
"Apakah isinya lebih baik?"
"Tentu, aku bisa merasakan sesuatu itu sangat indah," Riki pun menutup mata, pikirannya benar-benar kotor.
"Baiklah, mendadak aku merindukan istri ku setelah mendengarkan cerita mu ini," Felix pun berpamitan pergi.
__ADS_1
"Iya, aku mengerti kau punya istri," seloroh Riki sambil terkekeh geli.
Tetapi sebentar lagi dirinya juga akan menyebutkan kata istri pada Felix, tepatnya setelah menikah dengan bocah pujaan hatinya.
Sungguh Riki sudah tidak sabar untuk menantikan saat-saat menjadi suami seorang Vanya.
"Tentu," kata Felix sebelum akhirnya benar-benar pergi.
Sementara Riki memilih untuk tetap membayangkan Vanya, hingga akhirnya kembali mengirim pesan singkat pada kekasihnya itu.
( Sayang, kamu sedang apa? ) Om Riki.
Vanya pun segera mengetik pesan balasan, tidak mengulur waktu sama sekali.
( Cuma di kamar aja ) Vanya.
( Mas, kangen. Ketemu yuk, pengen peluk kamu ) Om Riki.
Apa lagi yang ada di pikiran Riki selain otak liarnya, sehingga menikahi Vanya adalah jalan tepatnya.
( Mas, aku lagi ngambek sama Bunda dan Ayah. Jadi, lagi ngurung aja di kamar ) Vanya.
( Ngambek? ) Om Riki.
( Mas, lagi apa ) Vanya.
( Lagi mikirin kamu, soalnya Mas kangen banget ) Om Riki.
"Ya ampun," Vanya pun tertawa sendiri, tak menyangka Riki bisa mengirimkan pesan yang sangat romantis padanya.
Ingin berteriak, berloncatan di atas ranjang dan bergoyang-goyang karena hati yang benar-benar bahagia tidak terkira.
Hingga akhirnya Nayla pun kembali menemui anaknya.
"Kamu masih ngambek?"
Vanya pun memilih untuk memunggungi Nayla, kini dirinya kembali seperti awal, mogok bicara sampai Nayla mengijinkannya untuk menikah.
Jika belum juga diijinkan, maka Vanya pun tak akan pernah mau mengakhiri kemarahannya.
"Baiklah, suruh calon suami mu itu datang menemui Ayah malam ini. Ayah menunggunya," kata Devan yang berdiri tidak jauh dari Nayla.
Nayla pun menoleh menatap Devan dengan penuh tanya.
Hingga Devan pun mengangguk pada Nayla sekaligus ingin meminta Nayla untuk menyetujui apa yang dikatakannya barusan. Lagi pula Devan hanya ingin melihat siapa lelaki itu. Dan sekuat apa mentalnya saat berhadapan dengan dirinya.
"Iya, benar. Bunda setuju," Nayla juga menyetujui apa yang dikatakan oleh Devan.
Dirinya juga yakin tidak akan ada pernikahan dalam waktu dekat ini, lagi pula dirinya juga tahu pasti calon suami anaknya itu juga masih bau kencur.
"Bunda, Ayah, serius?" Mata Vanya benar-benar berbinar mendengar apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya barusan, ini sungguh sangat luar biasa, ternyata usahanya tidak sia-sia.
__ADS_1
"Ya, Ayah tunggu malam ini!" Kata Devan kemudian pergi bersama dengan istrinya sambil menahan tawa, melihat raut wajah putrinya yang mendadak bahagia.
Tapi apakah keduanya masih bisa tertawa setelah mengetahui siapa orang yang ingin menikahi Vanya?