Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Agar hubungan keduanya tidak kandas...


__ADS_3

"Rena, aku bisa bertanya satu hal? Aku tidak bermaksud untuk ikut campur dalam urusan mu, tapi aku hanya ingin tahu saja"


Rena melihat keseriusan dari wajah Adnan, entah apa yang akan di tanyakan oleh seorang Adnan saat ini padanya.


"Kamu mau tanya apa?"


Adnan sejenak terdiam, menimbang pertanyaan nya. Membuat Rena yang malah penasaran dengan pertanyaan Adnan.


"Kamu mau tanya apa sih? Kenapa aku jadi mendadak penasaran," kata Rena.


Adnan pun tersenyum, di saat dirinya baru untuk mengutarakan pertanyaan nya malah Rena yang penasaran.


"Kamu mau nanya apa sih? Kok, serius banget kayaknya?"


Adnan pun bangkit dari duduknya, kemudian berjalan beberapa langkah mendekati bunga yang begitu indah.


Rena juga mengikuti langkah kaki Adnan, hingga Adnan pun berbalik dan malah bertabrakan dengan Rena.


Bruk!


Rena pun terjatuh seketika itu.


"Maaf," Adnan mengulurkan tangannya.


"Aku tidak tahu kamu ada di belakang ku."


"Hehe," Rena menyadari kesalahannya, memang dirinya yang aneh.


"Adnan, kamu mau tanya apa sih?" Rena yang terlanjur penasaran pun terus mendesak Adnan untuk melanjutkan pertanyaan.


Adnan tersenyum melihat keanehan Rena, mendadak merasa lucu.


"Kita ke sana, itu indah sekali," Adnan pun berjalan menuju kebun teh yang begitu indahnya,


Di pagi yang cerah ini keduanya menikmati pagi bersama-sama. Sampai akhirnya keduanya duduk


bersantai, Rena pun menyandarkan kepalanya pada punggung Adnan.


"Capek?"


"Tapi seru," jawab Rena dengan senyuman yang begitu bahagia, sesaat kemudian Rena pun menjauh.


"Kalau nanti kamu udah sama orang yang kamu cintai, kita tetap temenan dong?" Tanya Rena penuh harap.

__ADS_1


Adnan tertawa kecil mendengar keinginan Rena, dirinya sedang merasa lucu. Sebab orang yang di cintainya adalah orang yang sama dengan orang yang meminta mereka tetap berteman.


"Kamu kok ketawa sih? Aku aneh ya?" Tanya Rena kembali sambil menggaruk kepalanya.


"Tidak," Adnan masih terkekeh geli melihat Rena.


"Aku serius tau, aku mau kita tetap sahabat," Rena tersenyum dengan menunjuk kedua pipinya.


Adnan pun mengambil rumput dan membentuknya seperti cincin, kemudian memasangkan di jari manis Rena.


"Wah," Rena tersenyum bahagia, walaupun hanya rumput yang tidak ada nilainya tapi begitu berharga bagi Rena.


"Sahabat," kata Adnan dengan senyuman.


Biarkan saja Adnan hanyut dalam cintanya, sekalipun ke depannya tidak tahu akan seperti apa.


"Bagus ya," Rena tersenyum simpul, menatap jarinya dengan cincin rumput yang di pasangkan oleh Adnan.


"Oh ya, kita kan sahabat. Tadi kamu mau tanya apa?" Rena kembali mengembalikan topik pembahasan yang sebelumnya sempat terhenti, Rena yang memang penasaran sangat sulit untuk beralih sebelum semuanya jelas.


Malam tadi tidurnya begitu lelap, sehingga pagi ini begitu menyegarkan. Membuatnya terus saja tersenyum, belum lagi di dekat Adnan adalah satu hal yang sangat membuatnya menjadi bahagia.


"Baiklah kalau kamu memaksa. Apa kamu mencintai Kak Felix? Tadi malam kamu jawab tidak." Adnan menatap wajah Rena, menimbang apakah ada yang berbeda saat dirinya bertanya tentang Felix. Benar saja, raut wajah Rena seketika berubah, seakan tidak ingin membahasnya.


"Nggak apa-apa juga, aku tidak cinta. Hanya saja aku kesal."


"Kesal?" Tanya Adnan penasaran.


"Ya, dia berulang kali menghina aku. Mengatakan aku wanita murahan, sekalian saja kami menikah. Biar wanita murahan yang disebutnya adalah istrinya," kata Rena penuh kekesalan.


Adnan hanya diam menimbang apa yang di katakan oleh Rena saat ini, alasan yang di berikan oleh Rena terdengar tidak masuk akal.


"Kamu sadar kan, apa yang kamu lakukan ini menyangkut masa depan kamu sendiri?"


"Iya," Rena mengangguk pasti.


"Aku sudah terlanjur sakit hati, lagian juga saat itu dia tidak mendengarkan penjelasan ku dulu. Langsung marah begitu saja, mencaci maki aku, sedangkan keluarga ku pun saat itu ragu pada ku, bahkan semua orang sedang menyudutkan aku," kata Rena lagi.


Adnan kembali terdiam, mengangguk saat Rena bercerita tentang apa yang tengah di rasakannya saat ini.


"Kamu tidak ingin mundur?"


"Untuk apa? Iya, kalau saja orang yang aku suka menyukai aku. Sayangnya dia sudah jatuh hati pada wanita lain," wajah Rena tampak murung, kemudian menatap cincin rumput di tangannya.

__ADS_1


Bahkan cincin rumput belulang itu jauh lebih berharga bagi Rena, dari pada cincin pertunangan nya bersama Felix yang padahal adalah emas putih bertahtakan berlian. Rena bahkan tidak perduli sama sekali dimana keberadaan cincin tersebut.


Aneh bukan?


Tentu.


Rena pun sadar jika dirinya adalah orang paling bodoh sejagad raya.


"Kenapa kamu diam? Kamu juga mau bilang aku bodoh? Tidak apa, aku juga mengakuinya," kata Rena sambil tersenyum kecil pada Adnan.


Adnan tidak tahu harus berkata apa, namun dirinya juga tidak membenarkan apa yang di lakukan oleh Rena.


"Kamu tahu tidak cerita tentang Bunda Nayla, Ayah dan Tante Jessica?"


"Cerita?" Rena sama sekali tidak mengerti, bahkan dirinya tidak tahu apa-apa.


"Dulu, sebelum Bunda Nayla dan Ayah ku menikah, Tante Jessica adalah istri Ayah..."


"Kamu jangan gila!" pekik Rena.


Adnan pun mengangkat bahunya.


"Tapi itu adalah kenyataannya, tapi dengan ketulusan hati yang dimiliki ketiganya mereka saling memaafkan kesalahan di masa lalu. Mereka tetap kuat dan saling menerima satu sama lainnya," Adnan pun memberi jeda agar Rena mengerti dengan apapun yang di ceritakannya saat ini.


Sampai akhirnya Adnan melihat wajah Rena yang penasaran akan lanjutan dari ceritanya.


"Yang aku tahu perjuangan Tante Jessica, Bunda dan Ayah sangat menyakitkan. Banyak air mata dan pengorbanan, pertanyaannya apa kamu yakin dengan segala resiko ke depannya?"


"Resiko nya?" Tanya Rena kembali.


"Iya, Kak Felix sejak dulu sudah jatuh hati pada Cahaya. Bahkan dulu sering kali aku di perintahkan untuk memata-matai Cahaya, aku juga setuju. Sebab, ada imbalan uang jajan saat aku masih SMA. Sedangkan Kak Felix sudah kuliah di Amerika."


"Apa Cahaya mencintai Felix?"


"Beberapa hari yang lalu Kak Felix diam-diam menyelinap masuk ke kamar Cahaya, sampai akhirnya Tante Jessica memergoki mereka sedang berduaan. Setelah itu hubungan mereka di tentang keras, karena Ayah dan Om Alex tahu Kak Felix akan segera menikah dengan mu," jelas Adnan.


Rena pun terdiam sejenak, pikirannya di penuhi dengan kebingungan yang begitu luar biasa.


"Maaf kalau aku terlalu ikut campur," Adnan pun memilih mengakhiri ceritanya, sebab tidak ingin terlalu jauh masuk ke dalam masalah pribadi Rena.


"Tidak,, tidak," Rena tidak merasa terganggu dengan pertanyaan maupun pernyataan yang di berikan oleh Adnan, sebab dengan demikian dirinya tahu sudah menjadi benteng pemisah antara Cahaya dan Felix.


Rena akan menjadi manusia paling bersalah jika saja menikah dengan Felix.

__ADS_1


"Adnan, tolong antarkan aku pulang. Aku ingin membatalkan pernikahan ku yang tinggal hitungan hari dengan Felix," dengan refleks Rena menarik tangan Adnan, dirinya sudah tidak sabar untuk menemui Devan dan Nayla, terutama Cahaya agar hubungan keduanya tidak kandas karena dirinya.


__ADS_2