Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Bukan wanita murahan!


__ADS_3

"Lepas!" Vanya pun berusaha untuk melepaskan tangan Riki, tetapi tidak bisa. Sebab, tangan pria itu begitu besar.


"Sejak kapan wanita murahan di sini menolak ku?" Riki pun kebingungan saat ini, tetapi dirinya semakin menginginkan untuk berkencan dengan wanita yang entah siapa pun itu.


"Aku bukan wanita murahan!" Vanya pun mengambil botol minuman, kemudian memukulnya pada kepala Riki.


Krang!


Kepala Riki pun berdarah.


Membuat Vanya pun mengambil kesempatan untuk melarikan diri, tak lupa menarik Ninda.


Keduanya benar-benar panik dan berlari dengan secepat mungkin, selain tidak ingin berurusan dengan pria barusan keduanya juga tak ingin Devan tahu tentang mereka yang membuat masalah di tempat tersebut.


Sampai akhirnya keduanya duduk di tepi jalanan, dengan napas yang terengah-engah karena terlalu jauh berlari.


"Vanya, apa orang itu mati?" Tanya Ninda.


"Hus! Kalau ngomong jangan asal," Vanya pun menepis apa yang dipikirkan oleh Ninda.


Namun, sesaat kemudian Vanya pun memikirkan apa yang dikatakan oleh Ninda barusan.


Bagaimana jika ternyata orang itu benar-benar mati? Tentu dirinya akan menjadi seorang pembunuh.


Belum lagi hukuman yang didapatkan nantinya pasti hukum mati juga.


"Ninda, aku takut," Vanya pun mulai melihat sekitarnya dengan rasa takut.


"Kita pulang dulu," Ninda pun memanggil taksi yang melintas, kemudian keduanya menumpangi taksi tersebut.

__ADS_1


Sesampainya di rumah keduanya sudah di sambut oleh Ina. Menatap pakaian yang dipakai oleh dua wanita cantik di hadapannya.


"Kalian dari mana saja? Perawan, keluyuran. Ini pakaian apa?" Tanya Bu Ina, begitulah panggilan Vanya pada wanita yang adalah pembantu di rumah orang tuanya.


"Bu, kami habis dari acara ulang tahun teman," bohong Ninda demi keselamatan keduanya, Ninda pun menggerakkan sebelah tangan Vanya, berharap bisa membantunya.


"A, iya. Betul, teman aku ulang tahun Bu. Kan, Bu Ina bilang, kalau aku harus dengan Ninda kalau ke mana-mana."


"Begitu?" Ina masih memperhatikan pakaian Vanya dan juga Ninda.


"Jangan lagi pakai-pakaian seperti ini," imbuh Ina.


"Iya Bu."


"Cepat masuk, ini sudah malam."


Sesampainya di dalam kamar, keduanya tetap saja tidak bisa tenang.


Pikiran mereka masih saja pada pria barusan, Vanya masih mengingat jelas melihat darah yang mengalir dari kepala pria tersebut.


"Ninda, bagaimana kalau dia mati?" Tanya Vanya dengan rasa takut.


"Mati?" Ina pun terkejut mendengarnya.


"Siapa yang mati?"


"Nggak Bu, nyamuk nakal dan mati karena di tepuk," Ninda pun lagi-lagi memberi alibi.


"Makanya, ini Ibu bawa obat nyamuk bakar," Ina pun meletakkan pada lantai, kemudian segera pergi dari kamar para wanita tersebut.

__ADS_1


Sesaat kemudian keduanya pun bernapas lega, tetapi tidak berlangsung lama kembali lagi pusing memikirkan nyawa seorang pria barusan.


"Aku rasa dia masih hidup, lemah sekali kalau dia mati," kata Vanya menyemangati dirinya sendiri.


Kemudian menutup matanya, karena sudah sangat mengantuk.


"Bangun!" Ina pun memasuki kamar anaknya, kemudian membangunkan Vanya dan juga Ninda.


"Bu, masih ngantuk," keluh Vanya.


"Bangun, ini sudah pagi!"


"Ya ampun, padahal aku baru saja tidur."


"Bangun, anak perempuan harus di siplin! Kecuali mau dapat jodohnya Om-Om!"


"Itu mitos Bu," Ninda pun menarik selimut dan menutup wajahnya, karena masih mengantuk.


"Di bilangin kok ngeyel! Bangun!" Ina pun menarik selimut.


Akhirnya Vanya dan juga Ninda bangun dengan terpaksa, keduanya memasuki kamar mandi dengan mengumpulkan nyawa begitu beratnya.


############


Mampir ke novel baru ku yah..


"Pria Pilihan Kakek"


mksh sebelumnya😊🙏

__ADS_1


__ADS_2