
"Ada-ada saja," umpat Felix kemudian menutup pintu dan menguncinya dengan segera.
Glek!
Cahaya meneguk saliva saat kunci pintu kamar berhasil di putar oleh Felix.
Seketika Felix pun menatapnya, berjalan ke arahnya dan melingkarkan tangannya di pinggang Cahaya.
"Felix, aku," Cahaya berusaha untuk mencari alasan, berharap bisa menghindari malam ini.
Bukan Cahaya tidak mau, hanya saja dirinya masih malu.
"Apa?" Bisik Felix dengan parau di telinga Cahaya.
Lagi-lagi Cahaya menegang merasakan napas hangat Felix.
"Kenapa tegang sekali?" Felix menyadarinya sehingga merasa bingung.
"Anu, aku. Aku, sakit perut," Cahaya pun memegang perutnya.
Felix pun mengangkat sebelah alisnya, tampaknya tahu istrinya itu sedang berusaha untuk mengelabuinya. Artinya dari tadi Cahaya juga demikian.
"Sakit?"
"He'um, lepasin ya. Aku mau ke kamar mandi," Cahaya berusaha untuk melepaskan tangan Felix yang melingkar pada pinggangnya. Tetapi Felix tidak mau, dirinya sadar, Cahaya sedang menegang dan berusaha mencari alasan.
"Tidak apa, itu biasa. Nanti lama-lama juga terbiasa, santai saja."
Glek!
Cahaya menyimpulkan bahwa Felix sudah tahu dirinya tengah berusaha mencari seribu alasan agar bisa menyehatkan pernapasan untuk malam ini saja.
"Felix, aku..." Cahaya tak tahu harus beralasan apa, namun dirinya juga tak kuasa menahan malu yang begitu luar biasa.
Felix menggigit kecil tengkuk Cahaya, seakan tak ingin melewati sedikitpun.
Cahaya menutup matanya, memikirkan cara agar Felix mau meloloskan nya malam ini saja.
Cahaya ingin sekali malam ini di berikan sebuah kebebasan untuk tidak langsung melakukan ritual malam pengantin.
Felix pun tahu Cahaya begitu tegang, sesaat kemudian melepaskan Cahaya.
"Aku mandi dulu," Felix pun segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Huuuufff," Cahaya menarik napas panjang, seakan merasa udara segar kembali menjadi miliknya.
Dengan segera Cahaya menaiki ranjang kemudian menarik selimut dan memejamkan matanya agar segera terlelap.
Tapi tidak, Cahaya tak dapat terlelap, karena perasaan tidak karuan yang di rasakannya.
Hingga akhirnya Felix pun selesai mandi, kemudian Cahaya pun memejamkan matanya agar Felix mengira dirinya sudah terlelap.
Felix pun tersenyum, tahu istrinya itu kini sedang berpura-pura. Seakan mengikut permainan Cahaya, Felix pun segera memakai pakaiannya. Kemudian ikut naik ke atas ranjang.
Cahaya yang memunggunginya tak lantas membuat Felix diam, dirinya melingkarkan tangannya pada perut rata Cahaya.
Cahaya menggigit selimut menahan tubuhnya yang gemetaran.
"Sebentar lagi perut rata ini akan menjadi kembung," goda Felix.
Felix mencoba untuk mengintip wajah Cahaya. Menyadari kebenaran bahwa istrinya itu belum terlelap, sebab wajahnya yang bersemu merah.
"Seperti masih perawan saja," seloroh Felix di iringi tawa kecil.
Ingin membuat Cahaya berhenti dari kepura-puraan.
Glek!
__ADS_1
Ingin sekali memukul Felix tetapi tidak. Sebab, Cahaya masih dalam keadaan berpura-pura tidur.
Cahaya menahan diri sekuat mungkin, jika tidak maka habislah dirinya malam ini.
"Selamat tidur," Felix pun mematikan lampu, kemudian kembali memeluk Cahaya.
Cahaya benar-benar lega, karena Felix tidak meminta apa yang menjadi milik nya malam ini.
Tetapi tunggu, Cahaya merasa ada tangan yang menelusup masuk ke dalam piamanya.
Batin Cahaya mengatakan begitu malu saat tangan Felix menelusuri tubuhnya, walaupun tidak ada keinginan untuk menolak tapi percayalah ini sangat malu sekali rasanya.
Sesaat kemudian tangan Felix mulai berjalan kesana-kesini, membuat Cahaya tak bisa lagi berpura-pura.
"Felix, aku boleh minta libur nggak?" Tanya Cahaya dengan hati-hati.
Raut wajahnya penuh permohonan berharap Felix mengasihani nya malam ini saja.
"Libur?" Felix tidak mengerti sama sekali, libur apa yang di maksud oleh Cahaya.
"Hu'um, malam ini saja," pinta Cahaya lagi-lagi dengan nada memohon.
"Em, baiklah tidak masalah," Felix pun mengerti apa yang di rasakan oleh Cahaya.
Tetapi apakah benar Felix akan meloloskan istrinya itu walaupun hanya satu malam saja? Sepertinya sulit sekali. Sebab dari tadi sudah tak sabar, bahkan ingin mengusir para tamu undangan untuk pulang. Jadi bagaimana mungkin bisa dirinya bisa di ajak berkompromi untuk itu. Sepertinya itu hanya mimpi untuk Cahaya.
"Terima kasih," Cahaya pun tersenyum dan merasa lega.
"Aku hanya pegang saja, tidak usah takut," tangan Felix kembali berada di balik piama Cahaya.
"Katanya nggak malam ini?"
"Cuma pegang aja, nggak lebih!"
"Janji?"
Cahaya pun membiarkan Felix melakukan yang ingin di lakukannya, lagi pula hanya sekedar pegang saja.
Apa Cahaya percaya?
Tentu, apa lagi yang bisa di pegang dari lelaki selain burung nya? Pasti ucapannya.
Itulah yang kini di pikirkan oleh Cahaya, padahal percaya pada lelaki itu adalah hal yang aneh.
Sesaat kemudian Felix pun menarik Cahaya agar saling berhadapan.
"Felix, aku mengantuk sekali," Cahaya pun berpura-pura menguap, berharap di perbolehkan untuk segera tidur.
"Tidak masalah, tidur saja. Aku juga hanya pegang-pegang saja," kata Felix sambil tersenyum penuh misteri.
Cahaya pun memejamkan matanya, merasa perasaan aneh saat tangan Felix terus kesana-kesini.
Sesaat kemudian Felix pun mencium bibir Cahaya, membuat sang empu membuka matanya dengan perlahan.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit saja," Felix pun meyakinkan Cahaya tetapi sesaat kemudian mencium kembali bibir itu.
"Tangannya!"
Felix pun mengangkat tangannya, berhenti melakukan seperti sebelumnya.
Namun itu hanya berlaku sebentar saja, setelah itu tangannya kembali bergerak.
"Felix?" Cahaya menutup mata merasa malu.
"Hanya sedikit saja," kata Felix dengan santainya, kemudian mulai menyusu seperti bayi kehausan.
Cahaya pun menahan suaranya yang sebenarnya ingin keluar, tetapi lagi-lagi rasa malu tak bisa dikatakan hingga memilih untuk menahannya dengan menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
Sesaat Felix pun menghentikan aktivitasnya, beralih menatap Cahaya dan melihat ekspresi wajah istrinya tersebut.
Felix pun tersenyum samar, kemudian kembali melanjutkan permainan yang sempat terhenti.
Jika saat itu Felix memaksa Cahaya namun tidak dengan kali ini, kini Cahaya tampak diam saja meskipun banyak alasan.
"Felix jangan!" Cahaya menahan tangan Felix saat tangan Felix semakin menjadi-jadi.
"Tidak, tidak ada apa-apa," kata Felix dengan santainya.
"Aku malu."
"Tutup mata mu! Jangan melihat!" Kata Felix dengan tawa yang tertahan.
"Felix..."
"Tidak apa-apa," Felix pun perlahan menindih Cahaya dan melanjutkan aksinya.
"Sssst," satu ******* terdengar hingga membuat Felix semakin bertambah bersemangat dalam menuntaskan permainannya.
Ingin berhenti pun sudah sulit, permainan sudah sampai di tengah.
"Felix!"
"Tidak apa"
Cahaya pun kembali rileks, setelah Felix terus bermain di bagian utama istrinya tersebut.
Wajah Cahaya mendadak memerah, namun kedua tangannya tanpa sadar menekan kepala Felix, agar lebih dalam lagi untuk menggigit bibir bagian bawahnya itu.
"Felix, ah," desah Cahaya begitu menantang di telinga Felix.
Felix pun tersenyum kemudian melepas pakaiannya, sesaat kemudian turun dari ranjang dan meminta Cahaya untuk memegang pusaka keramat miliknya.
Cahaya pun menggeleng cepat, namun tangannya di tuntun untuk memegang benda tersebut.
"Ya, ah....bagus. Lagi sayang," Felix pun meracau penuh kenikmatan, betapa tangan Cahaya jauh lebih nikmat dari pada dirinya yang suka bermain solo.
"Felix!"
Dengan cepat Felix memasukan benda miliknya ke dalam mulut Cahaya, menarik kepala Cahaya maju mundur dengan penuh kenikmatan.
Bahkan terlihat begitu seksi di mata Felix, sampai Cahaya terbatuk-batuk saat Felix memperkuat tempo pada pinggangnya.
"Uhuk-uhuk," Cahaya merasa ada yang keluar, lendir cinta milik Felix yang tertahan selama ini akhirnya tumpah juga.
"Enak?" Tanya Felix menggoda Cahaya.
Belum juga Cahaya menjawab kini tubuhnya sudah terlentang di atas ranjang dan Felix kembali menghisapnya.
"Felix, ah..." saat itu cairan kepuasan pun tumpah, Felix menjilatinya hingga bersih.
Setelah itu napas Cahaya terengah-engah, menatap Felix yang berada di atasnya.
Sesaat kemudian Felix pun kembali mencium bibir Cahaya.
"Felix," Cahaya tak dapat lagi menahan suaranya, suara rancauan kenikmatan yang tiada bandingan.
Dan secepat mungkin memasukan miliknya, benda itu masih keras walaupun sudah memuntahkan laharnya barusan.
"Jangan tegang sayang," bisik Felix.
Cahaya pun mendesah seiringan dengan gerakan pada pinggang Felix yang membuat dirinya melayang ke awan.
"Sayang," Felix merasa suara desah Cahaya begitu seksi.
Hingga akhirnya Felix pun kembali mendapatkan puncaknya, bersamaan dengan Cahaya yang akhirnya terkulai lemas.
__ADS_1