
"Om, pegangin!"
Riki harus memegang semua barang yang sudah di beli oleh Vanya, begitu banyak hingga akhirnya Riki pun dipaksa masuk ke sebuah toko pakaian dalam khusus wanita.
Riki menolak untuk masuk dirinya hanya ingin menunggu di luar saja.
Tetapi Vanya tidak menerima penolakan, malahan memaksa Riki untuk memasuki toko tersebut.
Hingga akhirnya Riki pun masuk dengan terpaksa pula, saat Vanya mendorong tubuhnya.
"Om, ini aku pilihin," Vanya pun menunjukan sebuah dalaman berwarna pink.
Riki hanya diam bahkan tak perduli sama sekali.
"Ini namanya dalaman kupu-kupu dengan full renda, buat Om," ujar Vanya dengan senyuman.
Wajah Riki langsung memerah mendengar apa yang dikatakan oleh Vanya barusan, bahkan beberapa pramuniaga toko ikut menahan tawa mendengarnya.
"Nggak kok, bercanda. Ini buat aku, bagus kan Om?" Tanya Vanya lagi dengan konyol.
Bagaimana bisa bertanya pada Riki perihal pakaian dalam, sungguh sangat aneh sekali bocah itu.
Lantas apakah Riki akan perduli? Tentu saja tidak, bahkan untuk membayangkan saja sudah cukup mengerikan sekali.
"Tapi warna merah ini juga bagus, kira-kira aku ambil yang mana ya Om?"
Sampai disini apakah harus bertanya kepada Riki masalah pakaian dalam saja?
Rasanya saat ini Riki kembali lagi menjadi seorang Om yang mengasuh keponakannya.
Yang harus mendengarkan serta melihat setiap benda aneh di kedua tangan Vanya dan beberapa kali bertanya padanya tentang warna dan bentuk.
"Itu Om nya?" Tanya seorang wanita, tampaknya dia adalah pemilik toko tersebut.
"Iya," Vanya pun mengangguk membenarkan.
Wanita tersebut tampak begitu bahagia mendengarnya, tampaknya cukup tertarik pada Riki.
Sejenak wanita tersebut menatap penampilan Riki, kemeja hitam yang dilipat pada bagian lengan hingga di siku, jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan. Berpadu dengan celana senada, jangan lupa jambang tipis dengan bentuk alis yang tebal.
Kurang ajar!
Siapa saja bisa panas dingin, tak terkecuali sang pemilik toko tersebut.
"Hay, boleh kenalan?" Wanita itu mengulurkan tangannya pada Riki, sayangnya tak di respon sama sekali.
"Om, Tante itu minta kenalan!" Seru Vanya kesal karena Riki masih saja dengan wajah datarnya.
Sedangkan wanita yang bermaksud berkenalan dengan Riki masih tersenyum menunggu Riki untuk membalas uluran tangannya.
Namun, sayang tampaknya tidak akan pernah terbalas hingga dengan perlahan menurunkan tangannya. Meskipun rasanya sangat memalukan sekali, tetapi harus bagaimana lagi.
Wanita itu masih saja percaya diri bisa berkenalan lebih dekat, apa lagi jika bisa saling bertukar nomor ponsel. Mungkin jauh lebih membahagiakan lagi dari itu tentunya.
__ADS_1
"Om senyum dong. Jangan diam mulu, mau jadi duda seumur hidup?" Tanya Vanya dari kejauhan.
Vanya kesal luar biasa, sebab dirinya sudah ingin membantu Riki perihal jodoh.
Tetapi apa?
Malahan pria itu tetap saja dingin seakan tidak menginginkan mengakhiri kedudaannya tersebut.
"Kamu duda?" Tanya wanita itu lagi.
Tetapi Riki tak menjawab sama sekali, tidak ada sedikitpun niat untuk berbicara pada wanita dihadapannya.
Karena saat ini Vanya sudah mengalihkan dunianya, lagi pula Riki tak suka pada wanita seperti di hadapannya. Dirinya lebih suka wanita seperti Vanya yang menantang dan sulit saat untuk mendapatkannya.
"Mas, udah lama sendiri? Kesepian dong? Butuh teman nggak?" Wanita tersebut masih terus mencoba untuk mendekati Riki, tapi sangat sulit sekali.
"Saya, sudah punya pacar. Sebentar lagi kami akan menikah!" Tegas Riki.
"Benarkah?" Wanita tersebut masih terus menatap penuh keraguan, karena dirinya masih yakin jika apa yang dikatakan Vanya benar.
Sedangkan Riki hanya sedang berbohong saja.
Sesaat kemudian wanita tersebut pun mendekati Vanya, kemudian menarik bocah itu sedikit menjauh.
"Kamu bisa mengambil semua barang belanjaan di sini, semau mu. Asal....." Wanita tersebut pun berbisik pada Vanya.
Mata Vanya pun membulat setelah mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu.
"Nama Tante?"
"Siap, Tante Gebi!"
Vanya pun mengacungkan jempolnya kemudian memberikan nomer ponsel Riki, tentu saja tanpa sepengetahuan Riki.
Demi apa?
Demi mendapatkan banyak barang gratis setelah itu dirinya pun keluar dari toko dengan membawa banyak paperbag.
"Om, bantuin!" Vanya langsung memberikan pada Riki, tanpa perduli jika duda lapuk tersebut hanya memiliki dua tangan.
Sedangkan keduanya sudah penuh dengan paperbag.
"Udah, ah..... aku udah capek banget." Akhirnya memutuskan untuk pulang.
Vanya pun duduk santai di samping Riki yang sedang mengemudikan mobilnya.
Tetapi tiba-tiba ponsel Riki berdering sambil mengemudi dengan sebelah tangannya menjawab panggilan tersebut.
"Halo, aku Gebi. Ingat?" Terdengar suara seorang wanita dari seberang sana bahkan tanpa basa basi sama sekali.
"Gebi?" Riki pun bertanya sebab tak tau siapa wanita yang kini berbicara dengan dirinya melalui sambungan telepon.
"Kamu lupa? Ah, kita belum berkenalan. Tepatnya kamu pasti ingat saat membawa keponakan mu berbelanja beberapa menit yang lalu di toko ku," jelas wanita tersebut agar Riki tahu siapa wanita tersebut.
__ADS_1
Riki pun melirik Vanya yang duduk di sampingnya, bocah itu terlihat asik meminum minuman kekinian yang baru saja dibelinya.
Riki pun memilih untuk memutuskan panggilan sepihak, tak perduli ada seorang wanita yang kesal padanya. Bahkan merasa direndahkan.
"Kamu memberikan nomor ku pada wanita tadi?" Tanya Riki secara langsung meskipun matanya hanya tertuju pada jalanan.
"Hu'um, soalnya aku di kasih belanja gratis," jawab Vanya dengan santai bahkan kakinya kini berada di atas dasboard mobil milik Riki.
Apakah Vanya perduli?
Tidak!
Tujuannya apa?
Tidak ada, dirinya hanya sedang menikmati kebebasannya menjadi orang biasa dan berbuat sesukanya sampai nanti pada waktunya kebebasan tersebut harus di tinggalkan lagi saat berakhir masa perjanjian dengan Riki.
Riki hanya meremas kemudi, karena tak bisa marah pada Vanya.
Entah kenapa dirinya selalu saja kalah dengan seorang bocah ingusan tersebut.
"Bukankah seharusnya kau bisa membeli semuanya sesuka mu?"
"Iya, Om. Tapi, kan ada yang gratis, sayang kalau dilewatkan," Vanya pun tersenyum pada Riki.
Seakan dirinya tidak memiliki kesalahan apapun padahal ingin sekali Riki membenturkan dahinya sendiri sebab dirinya tak mampu menyalurkan kemarahan pada Vanya.
"Om, nggak takut jadi duda selamanya?"
"Kan aku sudah bilang, ada kamu!"
"Ogah! Enak aja, siapa yang mau sama Om-om, nggak banget deh!" Vanya pun tersenyum miring seakan jijik pada Riki.
Lihatlah wanita tersebut semakin berusaha untuk membuat Riki menjauh, maka Riki semakin penasaran. Bahkan semakin bertekad untuk memiliki Vanya dengan seutuhnya.
Ponsel Vanya pun berbunyi, tertulis nama Rangga di sana yang menanyakan kabarnya.
Membuat bibir Vanya tersenyum penuh kebahagiaan dengan segera Vanya pun menulis pesan balasan.
"Kalau sampai aku di lamar sama Rangga terus punya anak banyak dan Om masih Duda, nanti anak aku mau panggil Opuk aja sama Om."
"Maksud mu?"
"Opa, duda lapuk Ahahahhaha...."
"Dasar gila! Sudah diberikan black card masih mencari gratis!"
"Kenapa? Kalau perlu demi barang gratis maka Om juga aku gadaikan!"
Riki pun mengetuk kepala Vanya dengan kesal, apa yang dikatakan bocah aneh itu memang tak ada yang benar.
Sedangkan Vanya malah tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Riki.
Meskipun tangannya menggosok kepalanya yang cukup sakit.
__ADS_1
"Siapa tahu ada yang mau Om," kata Vanya sambil cekikikan.
Riki pun memilih untuk tidak perduli, karena berdebat dengan Vanya tak pernah bisa mendapatkan solusi yang tepat.