
Vanya terus saja melihat gambar pada ponsel Riki, sampai akhirnya melihat sebuah foto yang cukup mencengangkan sekali.
"Kak Felix?" Vanya pun menutup mulutnya secepat mungkin, tetapi matanya masih saja menatap layar ponsel Riki.
Meyakinkan bahwa penglihatannya tidak salah, dan itu benar Felix.
"Mereka kuliah bareng?" Tanya Vanya melihat foto wisuda kedua pria itu.
Vanya pun merasa semakin ketakutan, andai saja Felix tahu dirinya bekerja dengan Riki sudah pasti habislah dirinya.
Belum lagi kalau laki-laki ini mengatakan bahwa dirinya sudah banyak menghabiskan uang Riki.
Ya ampun.
Vanya menatap wajah Riki yang dengan mata terlelap di atas pahanya, entah apa yang terjadi pada dirinya setelah ini semua.
Apakah dirinya masih bisa bernapas? Sudah pasti dirinya akan sangat di anggap memalukan sekali seakan orang tuanya atau Kakaknya tak memiliki apa-apa.
Padahal nyatanya tidak, dirinya terlahir dari keluarga berada dan tak mungkin meminta uang pada orang lain meskipun ada sesuatu hal yang menjadi penyebabnya.
Entah apa yang akan terjadi pada Vanya setelah itu semua, dirinya benar-benar ketakutan saat ini dan apa yang bisa di lakukan.
Sampai akhirnya Riki pun terjaga dan melihat wajah Vanya yang aneh.
"Kamu kenapa?" Riki pun duduk di samping Vanya dan melihat raut wajah wanita yang mampu membuat membolak-balikan dunianya dalam sekejap saja itu dengan serius.
Kemudian melihat ponselnya ada pada Vanya.
"Itu ponsel ku?"
"I... iya, tadi bunyi terus. Tapi, aku nggak jawab," mendadak Vanya gelagapan karena pertanyaan Riki.
Tetapi apa yang di ketahuinya sungguh sangat mencengangkan.
Riki dan Felix adalah teman, meskipun tidak tahu entah sedekat apa keduanya berteman.
Hanya saja foto itu sudah menjelaskan jika memang benar keduanya saling mengenal satu sama lainnya.
"Kamu kenapa?" Riki tahu ada suatu hal yang membuat Vanya menjadi begini, raut wajahnya jelas menyimpan kepanikan yang begitu menimbulkan tanya.
"Aku..." Vanya mendadak terdiam saat tangan Riki merapikan beberapa helai anak rambut yang mengenai wajahnya bahkan menyelipkan pada bagian belakang telinga.
Vanya pun terdiam sambil menatap manik mata Riki dengan serius, entah mengapa mendadak semuanya seakan begitu nyaman.
Vanya merasa tenang saat tangan Riki menyentuh rambutnya, mengapa bisa?
Tidak mengerti sama sekali atas penyebabnya, sungguh ini rasanya begitu berbeda.
"Kenapa?" tanya Riki lagi sebab Vanya masih saja diam.
__ADS_1
Tatapan mata pria duda itu masih saja begitu dalam, apakah selama ini terus saja tatapan yang seperti ini tertuju padanya?
Sungguh untuk saat ini Vanya seakan berada dalam sebuah keanehan yang mendadak menyerang dirinya sendiri.
Sejuta pikiran dan juga sejuta rasa yang memanglah sangat berbeda.
"Om. liat aku biasa aja!" Vanya benar-benar tidak sanggup membalas tatapan mata Riki saat ini.
"Apaan sih!" Vanya pun bangkit dari duduknya, tak ingin lebih lama terjebak dalam tatapan mata Riki yang membuatnya semakin tak menentu.
"Kita makan yuk, aku yang pesankan,"
Riki pun bergegas menuju kamar setelah memesan makanan untuk mengganti pakaiannya yang jauh lebih santai.
Rasanya tak ada keinginan sama sekali untuk bekerja, hingga akhirnya Riki pun kembali keluar dari dalam kamar.
"Om, nggak ngantor?" Vanya kebingungan setelah melihat Riki berganti pakaian.
"Kepala ku ini sakit sekali," Riki pun menunjuk dahinya.
"Hehe, maaf Om. Abisnya, aku shock begitu dengar Om bercandanya kelewatan. Nggak lucu tau Om!" Kedua tangannya saling meremas, seakan menyimpan sebuah keresahan.
Entah keresahan seperti apa, Vanya pun tak tahu sama sekali.
Suara bell pun berbunyi, ternyata pesanan makanan sudah sampai dan Vanya pun menyajikannya.
"Apa?" Vanya merasa tidak beres, sebab yang sakit kepala Riki. Namun mengapa tangannya yang tidak bisa mengangkat sendok.
"Kepala ku sakit, mau aku lapor Polisi!"
"Apaan, sih, Om," Vanya pun memilih untuk menyuapi Riki, meskipun bibirnya terus saja menggerutu kesal.
Riki hanya tersenyum melihat bibir Vanya yang terus saja komat-kamit tidak jelas.
Percayalah jika bibir Vanya sangat menggemaskan di matanya. Bocah, tapi begitu mudahnya membuatnya menjadi tergila-gila
"Om aneh deh, yang sakit kepala. Kok makan pakai tangan sendiri nggak bisa!"
"Kau harus bertanggung jawab!"
"Iya, dasar adik bayi!" Vanya pun mengejek Riki, benar-benar menyuapi Riki layaknya bayi kecil yang sedang di suapi oleh ibunya.
"Ayo buka mulutnya lagi, pinter sekali. Ciluk ba." Vanya pun tertawa mengejek Riki.
Memang ada ada saja kelakukan konyolnya hingga membuat Riki tersenyum melihat tingkah Vanya yang memang berbeda dari wanita lainnya.
Tentu saja berbeda sebab wanita di luar saja sibuk akan memamerkan lekuk tubuhnya, seakan ingin di jamah dan mendapatkan uang.
Sedangkan Vanya, tidak.
__ADS_1
"Sedikit lagi, ayo. Anak pintar," Vanya pun mengusap kepala Riki saat makanannya sudah habis seakan-akan melihat Riki menjadi seorang bayi.
"Dasar kau itu ya!" Riki pun tersenyum kemudian meneguk mineral.
"Hehehe, kan Om seperti bayi yang makan juga harus di suapin," kini Vanya pun memulai makannya, sebab barusan menyuapi bayi besar terlebih dahulu.
Riki hanya tersenyum tanpa bisa berkata-kata sama sekali, menatap wajah Vanya adalah suatu pemandangan yang jauh lebih indah dari pada segalanya.
Selesai Vanya makan, barulah Riki memintanya untuk membuatkan secangkir kopi.
Tidak butuh lama untuk menunggu, sebab Vanya segera membuatkan secangkir kopi sesuai dengan keinginan Riki.
Lagi pula itu untuk rasa bersalahnya yang sudah membuat kepala Riki menjadi benjol.
Suara ponsel Riki pun berbunyi, tertulis nama Andika di sana.
Riki pun menjawabnya, ternyata dirinya harus berangkat ke luar Negeri untuk pekerjaan di sana. Menggantikan Andika yang sedang tidak enak badan.
Dengan berat hati Riki pun segera mempersiapkan diri, sedangkan segalanya sudah di urus oleh seorang asistennya yang bernama Andre.
########
Di dalam pesawat Riki hanya diam saja, duduk sambil memejamkan matanya. Memikirkan Vanya yang kini tidak bersama dengan dirinya untuk beberapa hari kedepanya.
Tidak di pungkiri, rasa itu memang ada. Meskipun tak tahu pasti kapan awalnya. Namun, pastinya tak butuh waktu lama untuk jatuh hati pada Vanya.
Hitungan hari saja sudah cukup membolak-balik dunia seorang Riki.
Akan tetapi sebelum berangkat Riki sudah mengatakan pada Vanya akan perasaan yang di milikinya.
"Vanya, aku berbicara serius kali ini. Aku mencintaimu. Aku tidak main-main, terserah bila kamu mau mengejek apa lagi menertawakan aku. Tapi, cinta adalah cinta dan tidak bisa di tawar. Aku ingin menikahi mu"
Itulah kata yang di ucapkan oleh Riki membuat Vanya benar-benar mematung.
Apa yang di katakan oleh Riki memang mengejutkan, di tambah dengan perasaan aneh yang terus saja menghantam dirinya.
Vanya benar-benar di buat tak berdaya, rasa di dada membuatnya menjadi hampir gila.
"Aku" Vanya tak tahu harus mengatakan apa, tapi semua ini benar benar membuatnya bingung.
"Aku berikan waktu, sampai aku kembali lagi ke sini. Aku serius, tidak main-main. Aku tidak bisa semakin lama memendam semuanya."
Kata itu pun menutup pembicaraan keduanya, saat ini Riki pun tiba di Negara tujuannya.
Membuatnya menepikan sejenak tentang Vanya, wanita yang sangat di cintainya.
Dalam hati Riki pun berharap, semoga cintanya di terima.
Riki bersedia menunggu Vanya mencintainya, hanya saja Vanya yang harus tahu akan rasa yang terus bergemuruh di hatinya.
__ADS_1