
"Om, kamar mandinya di mana? aku kebelet pipis nih."
Riki pun menunjukan arah kamar mandi dengan senyuman miringnya. Vanya pun berlari menuju kamar mandi.
Sesaat kemudian pintu pun terbuka tampak Felix dengan seorang asistennya yang masuk.
Wajah Felix tampak begitu serius sedangkan Riki malah tersenyum melihat kedatangan Felix dengan wajah kesalnya.
"Ini ada yang salah," Felix menunjukkan dokumen yang di maksudkannya membuat Riki langsung memeriksanya.
"Nanti asisten ku yang memperbaikinya setelah itu aku minta langsung di antarkan pada mu," jawab Riki.
Felix pun melihat ada banyak makanan di atas meja sejenak mengedarkan pandangannya. Tetapi tidak ada siapapun selain dari mereka.
"Aku harus pergi! Banyak pekerjaan, ingat dalam waktu tiga puluh menit berkas ini harus sampai di tangan ku lagi!" Tegas Felix. Mengingat Riki sekarang sangat tidak tepat waktu.
Membuat Felix harus tegas karena mereka bisa kehilangan triliun rupiah. Tentunya Devan akan sangat kesal jika pekerjaannya tidak ada yang benar.
Sedangkan Devan sudah mewariskan kepadanya dan juga Adnan yang kini memiliki kuasa penuh atas perusahaan.
Felix tidak mau perusahaan mendadak rugi setelah berada dalam genggamannya.
"Siap Bos!" Riki pun tersenyum dengan yakin akan tetap waktu.
Sampai akhirnya Felix pun benar-benar pergi.
Sesaat kemudian Vanya pun keluar dari kamar mandi kemudian kembali duduk di sofa dan kembali memakan camilannya.
Ting.
Ponsel Vanya pun berbunyi dengan segera. melihatnya.
Tertulis nama Sandi membuat jantung Vanya berdegup kencang.
Dengan segera Vanya pun membuka isi pesan tersebut, tentunya sangat tidak sabaran ingin melihat apa isi dari pesan tersebut.
( Kamu sedang apa? ) Sandi.
Baru membaca pesan saja Vanya sudah di buat melayang ke awan tanpa tahu jalan pulang ke bumi ini.
Apa lagi sampai berhadapan secara langsung, mungkin saja Vanya lupa bagaimana caranya untuk mengalihkan tatapannya selain pada Sandi.
( Sedang mikirin kamu ) Vanya.
Vanya pun meloncati sofa sampai akhirnya bergoyang-goyang karena begitu bahagia. Sesaat kemudian kembali mendapatkan balasan pesan dari sang tambatan hati.
( Kok sama ) Sandi.
"Sandi, love you," Vanya memeluk sofa dengan gembiranya, membayangkan bahwa yang di peluknya adalah Sandi.
Tetapi Riki malah kesal pada Vanya yang begitu bahagia menyebut nama laki-laki lain. Riki pun bangkit dari duduknya dan merebut ponsel Vanya.
"Om, apaan sih!" Vanya sangat kesal saat Riki merebut ponselnya.
Vanya pun ingin mengambilnya kembali, tetapi begitu sulit. Meskipun demikian tidak lantas membuatnya putus asa. Vanya tidak suka ada yang menindasnya sekalipun Riki.
"Kau tau aku siapa?" Tanya Riki.
__ADS_1
"Siapa?" Tanya Vanya dengan mengejek Riki.
"Aku ini kekasih mu!" Papar Riki.
"Hueekkkkkk" Vanya ingin muntah mendengarnya, andai bukan karena terpaksa tentunya Vanya tidak akan mau.
Sesaat kemudian Vanya pun mencoba untuk merebut kembali ponselnya, tetapi tetap saja gagal karena Riki masih saja tidak ingin mengembalikan padanya.
"Om!"
"Kau tidak lupa kita sudah menjadi sepasang kekasih?"
Vanya pun menggaruk kepalanya, kesal sekali dengan apa yang di inginkan oleh Riki.
"Iya, tapi balikin ponsel aku."
Lagi-lagi Vanya mencoba untuk merebut ponselnya, tetapi masih saja dengan hasil yang sama.
"Vanya?"
"Iya, Om. Iya, kita kekasih. Jangan lupa sampai beberapa hari ke depan saja," kata Vanya dengan suara pelan namum ada penegasan yang keluar dalam setiap katanya.
Tidak perduli tulus atau tidak, yang jelas ucapan Vanya tersebut membuktikan bahwa mereka benar-benar kekasih.
"Kau mau ponsel mu?" Riki menggerakkan ponsel Vanya yang ada di tangannya.
Bagaimana reaksi Vanya?
Tentu saja mau, mana mungkin menolak ponsel tersebut.
Sejenak Riki pun menatap Vanya, melihat keadaan ekonomi keluarga Vanya rasanya tidak mungkin memiliki ponsel semahal itu
"Apa kau mendapatkan dari seseorang?" Kali ini Riki malah penasaran dan memilih untuk mengintimidasi seorang Vanya.
"Ye!" Vanya pun menunjukan senyum miringnya, kemudian berusaha untuk merebut ponsel miliknya, tetapi tidak bisa. Lagi-lagi Riki menjauhkan darinya.
"Jangan-jangan kau punya sugar Daddy!" Tebak Riki.
Mengingat kini banyak sekali wanita yang memilih jalan pintas demi mendapatkan sebuah kemewahan.
"Enak aja, kalau ngomong ngasal aja. Memangnya kalau aku orang miskin nggak boleh pakai barang mahal, kalian yang kaya aja boleh menikmati yang mahal-mahal!" Cerca Vanya kesal pada Riki.
"Baiklah," Riki pun tidak lagi banyak bertanya, yang terpenting kini Vanya bersama dengan dirinya.
Sekaligus menjadi mainannya sampai beberapa hari ke depan.
"Kalau kamu mau mendapatkan ponsel mu, sekarang kamu harus tersenyum manis pada ku. Seperti pagi tadi kamu tersenyum pada manusia orangan sawah itu!" Pinta Riki
"Maksudnya gimana sih Om?"
"Tersenyum, seperti pagi tadi! Tersenyum pada ku"
"Pagi tadi? Ya ampun, jangan bilang orangan sawah yang Om maksud adalah Sandi, lelaki paling tampan dan yang bikin jantung aku berdetak kencang?" Tebak Vanya.
"Diam!" Bentak Riki dengan refleks.
Mendadak Vanya pun meneguk saliva saat melihat kemarahan Riki.
__ADS_1
Mata Vanya pun malah berkaca-kaca seakan menyiratkan bahwa dirinya akan segera menangis.
"Baiklah, cepat tersenyum agar aku tidak marah," Riki pun meredam kemarahannya, kemudian berbicara baik-baik pada Vanya.
Vanya pun mengangguk, kemudian tersenyum menurut pada apa yang di katakan oleh Riki.
"Senyuman yang lebih tulus, kenapa pagi tadi kamu tersenyum begitu centil pada pria orangan sawah itu!"
"Namanya Sandi, Om. Dia my love nya aku!" Papar Vanya.
Anehnya malah Riki kesal mendengar penjelasan Vanya saat ini.
"Vanya"
"Iya, ini aku udah senyum. Tapi abis itu balikin ponsel aku, kalau nggak aku mau manyun aja!"
"Iya"
Vanya pun memasang senyuman manis bahkan semanis mungkin agar membuat Riki luluh kemudian mengembalikan ponselnya.
Tanpa Vanya sadari jika saat ini Riki mendadak tidak bisa berkedip karena senyuman Vanya yang mendadak mengalihkan dunianya. Tapi benar saja, senyuman itu tidak dapat membuatnya berkedip walaupun hanya sedetik saja.
Sampai disini Riki mengakui bahwa Vanya memanglah bocah yang menawan.
Tampaknya Riki menjilat ludahnya sendiri, karena saat itu pernah mengatakan tidak tertarik pada Vanya.
Tidak.
Kini tidak lagi sama, karena lagi-lagi Vanya benar-benar terlihat begitu sempurna.
Meskipun memuji dengan begitu besar tetapi Riki hanya menjadikannya sebagai mainan saja.
Mainan yang bisa membuatnya terhibur, melepaskan lelah saat sedang bekerja.
Lagi pula tidak ada salahnya untuk mencoba hal baru. Contohnya mencoba wanita bau kencur seperti Vanya.
"Om, udah belum? aku capek tau!"
Riki pun tidak mendengar sama sekali yang ada di kepalanya hanya wajah Vanya yang begitu meneduhkan hati. Membuatnya menjadi bersemangat dalam bekerja.
"Om!" Seru Vanya.
Seketika itu Riki pun tersadar dari lamunannya, tetapi tetap saja wajahnya seakan tenang tanpa ada yang berbeda.
Meskipun sebenarnya dirinya sedang memuji seorang bocah di hadapannya.
Riki pun mengembalikan ponsel milik Vanya sesuai dengan janjinya.
Seorang Riki tak akan mengingkari janji jika sudah mendapatkan sesuatunya.
"Gitu kek dari tadi, nggak perlu juga kan aku harus senyum-senyum dulu kaya orang gila," omel Vanya penuh kekesalan.
"Ayo aku antarkan pulang!"
Vanya pun mengikuti langkah kaki Riki, entah apa yang di lakukannya selama di kantor.
Karena hanya duduk diam dan memakan camilan saja. Tetapi tidak masalah, lagi pula sebenarnya Vanya belum pulih.
__ADS_1