
Sedangkan di tempat lainnya seorang pria dengan kepala yang diperban sedang melihat rekaman CCTV club malam. Dimana tampak rekamannya saat dihantam oleh seorang wanita.
Beberapa kali Riki mengulangi rekaman agar melihat wajah wanita kurang ajar yang sudah membuat masalah dengannya.
"Kenapa ada wanita murahan yang berani melakukan ini, aku akan membuatnya menyesal," umpat Riki.
Riki pun menutup laptopnya, kemudian menyambar ponselnya. Dirinya ada rapat penting untuk pagi ini, hingga harus segera berangkat. Sedangkan kepalanya terus saja berdenyut nyeri, dalam hati akan mencari kemanapun wanita itu pergi. Bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun, tidak akan ada kata menyerah.
Hingga sesampainya di perusahaan milik Felix dan kurang ajarnya Felix malah menertawainya.
"Kau tahu? Ini karena seorang wanita murahan," kata Riki.
"Wanita murahan?"
"Iya, biasanya wanita di sana yang menjajakan tubuhnya pada ku. Tapi, kali ini?" Riki mendesus kesal sambil terus berusaha mengingat wajah wanita tersebut.
"Aku tidak menyangka ada juga wanita yang berani menolak sahabat ku ini," celetuk Felix sambil terus tertawa terbahak-bahak mengejek Riki.
Tanpa diketahuinya jika orang yang dimaksud oleh sahabatnya itu adalah adik kesayangannya. Riki pun mendesus kemudian kembali memikirkan wanita aneh tersebut.
"Sudahlah, itu tidak akan sulit untuk mu mendapatkan dimana keberadaannya"
"Itu harus, karena dia harus bertanggung jawab!" Kata Riki dengan yakin.
Sesaat kemudian keduanya pun memulai rapat, hingga akhirnya selesai, sampai pada akhirnya Riki pun memutuskan untuk kembali ke kantornya.
Ada banyak hal yang harus dilakukannya, terutama mencari seorang wanita, ataupun tersangka yang sudah membuat kepalanya bocor.
Riki terus saja berjalan sampai akhirnya ada yang menyenggolnya.
Hingga tanpa sengaja Riki pun menginjak sebuah ember, air pun tumpah dan membuatnya ikut terpeleset.
"Maaf Bapak, Om, Kakek dan lainnya," Vanya menggabungkan kedua tangannya berharap dirinya tidak terkena masalah.
"Ya ampun, sampai kapan dia tidak ceroboh," Ninda pun menyadari kecerobohan Vanya, selalu saja panik dan sulit untuk bisa tenang.
Itulah Vanya.
Tapi Riki merasa mengenali wanita tersebut, tapi siapa dan di mana? pikir Riki.
"Hey, kamu yang kemarin itu kan?" Vanya malah mengingat saat itu pernah bertemu dengan Riki, di kantor juga. Tapi sepertinya melupakan sesuatu, lupa saat berjumpa malam tadi di tempat hiburan malam.
"Kamu wanita yang memukul ku dengan botol malam tadi kan?" Tanya Riki sambil memicingkan kedua matanya.
Malah Riki yang mengingat wajah wanita yang kini berada dihadapannya tersebut, walaupun sebenarnya ada sedikit keraguan. Takut salah menuduh orang
Degh!
Vanya dan juga Ninda pun shock mendengarnya.
"Kamu masih hidup?" Tanya Vanya.
Tapi percayalah saat ini Vanya bisa bernapas dengan lega, karena dirinya tidak menjadi seorang pembunuh.
__ADS_1
Saat mendengar jawaban Vanya membuat Riki yakin seratus persen jika dirinya tidak salah orang, baiklah semua akan dimulai. Wanita kurang ajar itu harus mendapatkan hukuman nya.
"Hampir saja aku jadi pembunuh, tapi tidak," Vanya tersenyum seakan merasa tak lagi memiliki masalah apapun.
"Kau!" Riki justru kesal mendengar kata-kata Vanya barusan.
"Ikut aku!"
"Maksud mu!"
"Kau akan ku bawa ke kantor polisi!"
"Apa?" Pekik Vanya shock, bagaimana bisa dirinya akan dibawa ke kantor polisi.
"Lepas atau aku teriak?" Vanya pun memberikan ancaman, berharap Riki bisa takut padanya.
"Silahkan! Kalau mereka tahu apa yang kau lakukan, mereka sendiri yang akan menyeret mu ke dalam penjara!" Kata Riki membungkam mulut Vanya seketika itu juga.
Hingga akhirnya Vanya pun hanya bisa duduk di dalam mobil orang asing yang sama sekali tidak dikenalinya tersebut. Mobil itupun melaju kemudian berhenti tepat di depan kantor polisi.
Sampai disini Vanya semakin tidak baik-baik saja, karena malah masuk ke dalam masalah yang jauh lebih besar.
Bagaimana caranya untuk menyelamatkan dirinya sendiri?
"Tuan, aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan mengulangi lagi, tolong jangan penjarakan aku," kata Vanya berharap di kasihani.
Mendadak Riki merasa tertarik pada wanita tersebut, walaupun masih bau kencur tapi cukup membuatnya menjadi penasaran. Hingga akhirnya Riki pun menemukan jalan keluar lainnya.
"Aku bisa memaafkan mu dan membebaskan mu"
"Tapi kamu harus memuaskan aku?" Kata Riki dengan menggerakkan sebelah alisnya.
Senyuman Vanya pun mendadak hilang seketika, karena apa yang di katakan oleh Riki sungguh mengejutkan.
"Kamu pikir aku wanita murahan?" Teriak Vanya penuh emosi.
"Lalu apa? Mana ada wanita baik-baik pergi ke club malam. Yang ada wanita murahan!" Terang Riki menatap Vanya dengan remeh.
Wanita seperti Vanya tentunya membutuhkan uang dan itu yang kini sedang disusunnya rapi, menurut Riki itu adalah permainan lama.
"Dasar gila!"
"Kalau begitu ayo turun!" Riki pun berusaha untuk menarik tangan Vanya, ingin menyeretnya masuk ke dalam kantor polisi.
"Tuan, aku mohon. Jangan," Vanya pun akhirnya menangis kencang, karena begitu ketakutan.
"Baiklah, tapi tolong setelah itu bebaskan aku," kata Vanya dengan gemetaran bahkan tanpa pikir panjang.
Vanya terus saja mengusap air matanya, menyesal pun sudah percuma.
Tapi siapa yang bisa membebaskan dirinya, sampai di sini Vanya sadar bahwa dirinya hanya anak yang selalu menyulitkan kedua orang tuanya.
Kali ini Vanya akan menyelesaikan masalahnya sendiri, tanpa perlu bantuan dari Ayahnya ataupun Kakaknya.
__ADS_1
Vanya sadar ternyata inilah alasan dibalik Devan yang selalu kejam padanya.
Tapi malah menganggap Devan kejam padanya.
Riki tersenyum menatap wanita dihadapannya tersebut.
"Bagus," Riki pun kembali mengemudikan mobilnya. Kemudian membawa Vanya ke salah satu apartemen miliknya.
Sampai di sini Vanya semakin ketakutan, membayangkan jika dirinya harus menyerahkan keperawanannya kepada pria yang tak dikenalnya sama sekali.
"Kenapa kau bertingkah seperti perawan?" Tanya Riki saat melihat Vanya yang terus saja menangis tanpa henti.
"Aku memang masih perawan, Om," jawab Vanya.
"Benarkah?" Tanya Riki dengan tawa yang menggelegar. Membuat Vanya kebingungan, tak ada yang lucu sama sekali. Tetapi, mengapa lelaki hidung belang itu malah terus saja tertawa tanpa henti.
Bahkan Vanya menganggap orang tersebut tidak waras.
"Mana ada di dunia ini wanita perawan?" Tanya Riki seakan meremehkan Vanya.
"Kecuali, bayi," imbuh Riki.
Vanya benar-benar takut saat melihat wajah Riki, apa lagi tawa Riki yang begitu menggelegar.
"Ikut aku!" Riki menarik paksa lengan Vanya dan melemparnya pada ranjang.
Vanya pun terlentang kemudian bangkit dengan cepat.
"Om, aku minta maaf. Bisakah untuk tidak melakukan ini?" Vanya berharap ada penawaran untuknya, walaupun rasanya begitu mustahil.
"Tidak! Malam tadi kau sudah mempermalukan aku, setelah kau melarikan diri aku menjadi tontonan dan kau tahu aku ini siapa? Aku ini adalah tamu VIP di tempat itu!" Terang Riki penuh kemarahan.
Vanya tersentak saat mendengar nada suara Riki yang meninggi.
"Tapi, Om yang memegang ku! Om, yang lancang terus mendekati aku," kata Vanya berusaha untuk membela dirinya.
"Aku tidak akan menggangu kalau kau tidak jual diri!"
"Aku tidak jual diri!"
"Apapun alasannya! Kau sudah membuat kepala ku berdarah, dan aku dipermalukan!"
Riki pun naik ke atas tubuh Vanya, kemudian mengigit tengkuk wanita itu dengan brutal.
Vanya menangis tersedu-sedu merasa ketakutan, dan juga membayangkan wajah Devan. Menyesal pun sudah percuma, semua benar-benar menjebaknya hingga akhirnya harus berakhir di sini.
"Kenapa menangis?"
"Om, tolong lepaskan aku. Aku masih perawan"
############
Mampir ke novel baru ku yah..
__ADS_1
"Pria Pilihan Kakek"
mksh sebelumnya😊🙏