Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Asisten.


__ADS_3

Lantas seperti tidak dengan saat ini.


Tentu saja saat ini Vanya membutuhkan Riki karena Rangga yang biasanya menjadi ojek tercintanya sudah tak lagi ada. Karena mereka sudah berakhir juga pastinya setelah kejadian yang menimpa cintanya. Cinta terbagi dua sungguh sangat memilukan dada.


Lantas apakah saat ini Riki mau mengantarkan Vanya untuk pulang seperti apa yang di inginkan oleh wanita tersebut?


Tentu saja, apa yang tidak jika sudah menyangkut soal Vanya.


Tetapi tidak semudah itu, karena apa? Tentu saja karena dirinya ingin Vanya merasa benar-benar membutuhkan seorang Riki untuk hari ini, esok dan seterusnya.


"Om, kok diam aja sih?" Vanya kesal sebab Riki tidak merespon sama sekali.


Bahkan Riki langsung saja masuk ke dalam mobilnya tanpa mengajaknya sama sekali.


"Sabar Vanya, kau tidak mau kan pulang harus jalan kaki," gumam Vanya berusaha untuk menetralkan diri agar tak lagi emosi.


Hingga akhirnya Vanya pun memilih untuk ikut masuk duduk manis di samping Riki.


Meskipun tidak mendapat ijin dari si pemilik kendaraan sekalipun.


Tetapi bukan Vanya namanya jika tidak dapat membuat Riki menuruti keinginannya.


"Siapa yang mengijinkan mu masuk?" Tanya Riki dengan wajah dinginnya.


Meskipun sejujurnya hatinya begitu hangat jika untuk Vanya.


Lagi-lagi Riki berusaha untuk memainkan sedikit permainan yang mungkin saja bisa menguntungkan dirinya sendiri.


Tentu!


Dasar duda lapuk kurang ajar, otaknya memang tak pernah kehabisan akal jika menyangkut soal Vanya.


Akal busuknya akan selalu saja berjalan mulus, perduli apa?


Yang di perdulikannya saat ini hanyalah tujuannya mendapatkan seorang wanita yang masih bau kencur, tapi cukup membuatnya tergila-gila.


"Om," Vanya pun merengek bahkan sambil bergelayut manja di lengan Riki.


Sejak kapan Vanya berani melakukan hal tersebut, apakah karena terlalu galau karena cintanya yang sudah kandas bersama dengan sang pujaan hati.


Kurang ajar.


Riki menarik napas panjang karena dirinya bisa saja luluh dengan mudahnya.


Tapi tidak, karena Riki harus bisa mempertahankan rencana awalnya.


"Om, please......"

__ADS_1


"Turun!"


"Om, aku lagi galau. Sedih banget, Om nggak takut aku nanti bunuh diri?"


Aneh-aneh saja, Riki merasa semakin tidak beres.


Karena Vanya tetep saja menjadi bodoh, tapi tidak masalah.


Bukankah ketertarikan terhadap Vanya berawal dari keanehan yang di miliki oleh bocah kurang ajar itu.


"Om, sepuluh hari lagi aku udah nggak lagi terikat sama Om. Ya Om, setelah itu Om nggak akan lihat wajah aku setiap harinya seperti sekarang."


Bocah tengil!


Tidakkah tahu jika Riki tidak ingin masa perjanjian itu habis, dirinya ingin terus bersama dengan Vanya sampai selamanya.


Kesal rasanya saat membahas tentang berakhirnya perjanjian mereka.


"Baik, tapi besok temani aku ke kantor. Sekarang, kamu jadi asisten ku!"


"Bukannya ada Om Andre, asistennya?"


"Aku mengatakan kau harus menjadi asisten ku, bukannya membahas orang lain!


"Tapi, aku nggak ngerti Om, aku ini seorang guru!"


Lantas apa yang nantinya dapat di kerjakan?


Aneh sekali.


Kenapa juga Riki harus memaksa dirinya.


"Banyak bicara! Kembalikan black card ku!"


"Hehe, Om. Aku siap deh jadi asisten Om. Tapi, bayarannya pakai black card ya, soalnya aku butuh shopping buat ngilangin stres," Vanya pun cengengesan sambil berusaha untuk mendapatkan simpatik dari seorang Riki.


Tapi percayalah tak ada kemarahan sedikitpun di hati Riki, itu hanya sekedar ucapan agar Vanya menurut pada keinginannya.


Lagi pula bagaimana mau marah jika wajah wanita itu saja semakin menggemaskan di matanya.


"Itu derita mu padahal kita kekasih. Tapi malah kau berselingkuh dengan pria bau kencur itu!" Masih saja ada kata yang terucap dari bibir duda lapuk itu.


Vanya hanya cengengesan saja, perduli setan pada apa yang di katakan oleh Riki.


Dirinya hanya membutuhkan seorang teman untuk mendengarkan segala kesedihannya yang begitu dalam.


Sedalam air bak mandi.

__ADS_1


"Maafkan, Adinda wahai Kakandaku. Adinda berjanji tak akan mengulangi lagi," Vanya semakin memeluk lengan Riki berusaha untuk meyakinkan pria tersebut.


"Dasar gila!" Riki mengetuk kepala Vanya, tapi percayalah jika hatinya saat ini begitu berbunga-bunga.


Keanehan serta kekonyolan Vanya mampu menciptakan suasana yang sangat menenangkan hati.


Lelahnya pun seakan terbayarkan jika sudah bersama dengan bocah tengil itu.


Akhirnya Riki pun mengemudikan mobilnya karena semakin lama bocah di sampingnya semakin membuatnya hampir tidak bisa bernapas sebab selalu berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawa agar terus terlihat marah.


"Temani aku makan!"


"Siap! Abis itu shopping ya, Om?"


Riki hanya diam saja, sekalipun tidak menjawab tetapi tetap saja menurutinya.


Sedangkan Vanya menganggap diamnya Riki sebagai jawaban setuju atas keinginannya


Seketika bibir Vanya tersenyum dengan bahagia, melupakan Rangga yang sudah membuatnya benar-benar terluka begitu dalam sedalam air bak mandi.


Aneh-aneh saja bocah itu, sedang galau juga masih saja dengan tingkah laku yang terbilang cukup menghibur.


"Om, aku boleh beli tas branded keluaran terbaru nggak? Harganya murah kok?"


"Berapa?"


"Satu M."


Riki langsung saja melirik Vanya dengan penuh tanya.


Darimana berasal wanita aneh di sampingnya tersebut, wanita biasa tetapi setiap selera yang di miliknya tak pernah biasa saja.


"Caelah Om, biasa aja kali! Lagian juga aku nemenin Om, kan? Bayarannya lah, Om!" Gerutu Vanya.


Riki hanya diam saja masih memikirkan tentang sesuatu yang mengganjal di benaknya.


"Lagian ya, Om. Selama ini Om kerja, banting otak buat kerja untuk siapa? Uangnya untuk apa? Ya 'kan, Om? Mending sedikit berbagi kepada ku yang membutuhkan," Vanya pun memasang wajah melasnya, seakan berada dalam posisi yang begitu terdesak.


"Iya! Puas!"


"Hehe, terima kasih Kakanda, Adinda sangat bahagia," Vanya pun kembali melingkarkan tangannya pada lengan Riki yang sedang mengemudikan mobilnya.


Sedangkan Riki hanya diam saja, rasanya jika pun Vanya meminta lebih tidak akan keberatan sama sekali asalkan wanita itu terus saja bersama dengan dirinya.


Tak ingin pergi, tak ingin berpikir untuk mencari yang lainnya lagi.


Semoga saja tujuan Riki untuk memiliki Vanya seutuhnya akan segera tercapai dengan sempurna.

__ADS_1


__ADS_2