
"Ouw," Felix pun mengangguk.
"Artinya calon suamimu ini sangat, sangat, sangat baik ya," kata Felix dengan santainya.
Sementara Vanya merasa bahagia karena Felix pun tampaknya sudah sadar betapa baiknya Riki selama ini.
"Iya, Kak. Berarti Kakanda nya aku adalah orang baikkan Kak?" Tanya Vanya lagi penuh semangat.
Bahkan terkesan bangga bisa diperjuangkan oleh Riki, meskipun seorang duda namun jauh lebih baik tentunya tidak menjadi masalah sama sekali.
"Iya, tentu," Felix pun mengangguk, kemudian meneguk mineralnya.
"Nah, Ayah jangan ragu ya, Kakanda Riki baik kok," Vanya pun cengengesan pada Devan, tidak mengerti hati Ayahnya itu sedang terbakar kemarahan.
"Percaya, Ayah pasti percaya," Felix pun melihat Riki dengan tajam.
"Kakanda Riki ini," Felix tersenyum miring melihat Riki.
Rasanya ingin sekali menelan Riki hidup-hidup.
"Kak Felix, aku tanya ke Ayah! Kok, Kakak yang jawab."
"Iya, tapi Kakak tahu isi pikiran Ayah. Jadi, Kakak saja yang mewakilinya," jelas Felix.
Sementara Devan sama sekali tidak bisa berbicara apapun saat ini.
"O gitu," Vanya pun mengangguk mengerti, lagi pula sama saja pikirnya.
Sebab biasanya jika Felix setuju maka Devan pun mengikuti saja, begitupun sebaliknya.
Jadi, tidak ada masalah sama sekali, tetap tenang, santai dan nikmati sarapan pagi dengan keluarga yang penuh keharmonisan.
Menurut Vanya.
Tapi tidak menurut yang lainnya.
Felix pun bangkit dari duduknya, kemudian berpindah duduk di samping Riki.
Membuat Riki semakin tegang saja berdekatan dengan calon mertua dan calon Kakak iparnya itu.
Andai saja Vanya bukan anggota keluarga Devan Bima Putra mungkin saat ini Riki tidak akan tegang begini.
Namun apa daya, nyatanya dunia begitu sempit sehingga tidak bisa untuk sedikit lebih lega.
Apa yang akan terjadi selanjutnya Riki sudah pasrah saja, yakin akan ada yang terbaik setelah ini.
"Vanya, panggilkan Kang Diman," titah Devan pada putri kesayangannya.
__ADS_1
Mungkin yang lainnya sedikit bingung, tetapi pastinya akan ada yang aneh setelah itu.
Riki yang was-was memikirkan nasibnya, sementara Felix dan Adnan yang menjadi penonton menyaksikan kelanjutan dari semuanya.
"Siap Ayah!" Vanya langsung saja bangkit dan mengerjakan apapun yang diperintahkan oleh Devan tanpa terkecuali.
Seperti dulu Vanya, selalu menurut pada apapun yang diperintahkan oleh Devan.
Sesaat kemudian Vanya pun kembali seperti apa yang diperintahkan oleh Devan, yaitu membawa Kang Diman.
"Ayah, ini Kang Diman."
Devan pun mengangguk, kemudian menyandarkan tubuhnya sambil melihat Diman yang kini berdiri tidak jauh darinya.
"Bunda, istirahat dulu ya," Nayla memilih untuk beristirahat di kamarnya, karena ingin memulihkan tenaga.
Lagi pula dirinya juga kesal mendengar apa yang dikatakan oleh Vanya barusan, jadi silahkan saja jika Devan ingin menghukum Riki.
Jika perlu Vanya juga ikut mendapatkan hukuman, karena tentunya jika Vanya menolak tidak akan itu semua terjadi.
"Bunda, bisa jalan?" Tanya Vanya.
"Bisa, kamu di sini saja."
"Iya Bunda," Vanya pun tersenyum dan kembali duduk manis di tempatnya.
"Diman, apa kolam renang sudah di bersihkan?" Tanya Devan.
Degh!
Riki merasa ada yang tidak beres, jangan bilang Devan akan memintanya untuk menguras kolam.
Sementara Felix dan Adnan tersenyum, keduanya sudah bisa menebak apa yang akan terjadi pada Riki.
Tapi keduanya tidak ingin salah dalam menebak, sehingga memilih untuk diam dan menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Menjadi penonton sepertinya lebih baik bukan?
"Untuk minggu ini belum, Tuan," jawab Diman dengan kepalanya yang sedikit menunduk.
Devan pun beralih menatap Riki, kemudian kembali melihat Diman.
"Ambilkan gayung," titah Devan dengan wajahnya yang serius.
"Gayung, Tuan?" Tanya Diman tidak mengerti.
"Apa kau sudah tuli?"
__ADS_1
"Baik, Tuan," dengan segera Diman pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Devan.
Sementara jantung Riki semakin berdetak kencang, bukan karena jatuh cinta. Melainkan hampir jatuh pingsang karena memikirkan nasibnya setelah ini.
Hingga Riki pun memiliki sedikit ide yang mungkin saja bisa meloloskan dirinya.
"Om, saya permisi dulu. Ada rapat penting untuk pagi ini," Riki pun bangkit dari duduknya, berniat untuk segera pergi.
"Ini, Tuan," Diman pun kembali dengan membawa apa yang diminta oleh Devan.
"Terima kasih dan kau," Devan pun menunjuk Riki.
Jantung Riki benar-benar tidak dapat di kondisikan, rasanya tidak mungkin untuk bisa meloloskan diri dengan begitu saja.
"Iya Om?"
"Satu minggu lagi kau dan Vanya akan menikah, sekarang kau harus menguras kolam renang. Jika berhasil. Maka, pernikahanmu akan dilangsungkan. Jika, tidak. Maka, tunggu sampai anakku lulus kuliah!" Papar Devan.
Riki cukup terkejut mendengarnya, tetapi syarat yang diberikan oleh Devan pun tidak kalah mengerikan.
"Ayah!" Vanya pun menunjukkan tatapan tajamnya pada Devan.
Hingga Devan pun membalas dengan tatapan tidak kalah tajam.
Membuat Vanya tidak berani berkutik lagi, hingga akhirnya melihat Riki dengan penuh kebingungan.
"Cepat, pergi dan tunggu sampai anakku selesai kuliah. Atau, lakukan apa yang aku perintahkan, jika berhasil minggu depan kalian akan menikah!" Tambah Devan lagi.
Baiklah Riki pun menyetujuinya dengan sangat berat hati, karena menguras kolam renang dengan gayung bukanlah hal yang mudah.
Namun, demi cinta juga tidak mengapa.
"Kau keberatan? Lihat Vanya, ini artinya dia tidak tulus padamu!" Devan pun tersenyum miring.
Vanya pun bingung sambil menatap wajah Riki, menimbang apa yang dikatakan oleh Devan.
"Tidak Om, aku serius dan akan melakukannya," jawab Riki dengan cepat, berharap tidak ada keraguan yang terlintas dibenak Vanya, karena cinta untuk Vanya begitu besar.
"Berikan pada calon suami Vanya, gayungnya!" kata Devan.
Riki pun memegang gayung di tangannya dengan nanar, kemudian Devan pun bangkit dari duduknya.
"Sebelum matahari tenggelam sudah harus selesai," Devan pun memilih untuk pergi, kini Devan berpikir untuk segera menikahkan Riki dan Vanya, karena tidak ingin putrinya hamil sebelum menikah.
Bahkan untuk mendengar saja Nayla sampai jatuh pingsan, bagaimana jika nyata terjadi.
Lagi pula Vanya pun sudah begitu menginginkan Riki sehingga tidak salah untuk menikahkan keduanya dengan segera demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
__ADS_1