
Tanpa pikir panjang Cahaya pun mengangguk entah mengapa dirinya juga tidak dapat menolak.
"Katakan iya!"
Cahaya pun segera bangkit dari atas pangkuan Felicia, seketika tersadar bahwa Felix sudah menjadi tunangan Rena.
"Aku tidak memungkiri perasaan mu tapi aku tidak ingin menerima cinta mu," papar Cahaya.
Felix pun segera bangkit dari duduknya merasa terkejut dengan jawaban Cahaya.
"Kenapa?"
"Kau sudah bertunangan dengan Rena!"
"Itu kesalahpahaman sebentar lagi harus di selesaikan. Aku tidak mencintainya!" Tegas Felix.
Cahaya tidak tahu lagi harus bagaimana, hatinya tidak lagi dapat mengelak ada cinta yang tumbuh seiring dengan kedekatan mereka akhir-akhir ini.
"Sudah lama aku menantikan saat-saat ini, saat-saat untuk mengungkapkan cinta pada mu! Aku kembali ke sini untuk mu! Tapi malah peristiwa gila malam itu terjadi, percayalah tidak ada yang terjadi di antara kami," Felix menggenggam erat tangan Cahaya, meyakinkan jika cintanya tidaklah main-main.
"Felix kamu serius nggak sih?" Cahaya benar-benar di ambang kebimbangan, di satu sisi merasa hatinya sudah di miliki Felix. Di sisi lain ada wanita lain yang berstatus sebagai calon istri Felix.
"Tataplah mata ku," Felix menangkup wajah Cahaya dengan kedua tangannya.
"Apa kamu tidak dapat melihat cinta ku? Pilihan mu hanya dua," Felix mengambil senjata api dari dalam saku jas nya dan meletakkan pada tangan Cahaya.
Cahaya mendadak terdiam saat melihat benda tersebut, terkejut sebab Felix memiliki benda itu yang tidak pernah di ketahui oleh Cahaya.
"Bunuh aku, agar kau tahu aku sudah terlalu lama memendam rasa cinta ini pada mu, aku sangat tersiksa! Aku tersiksa hanya melihat mu dari jarak jauh, di layar ponsel ku. Aku mencintaimu Cahaya!" Felix terus saja meyakinkan Cahaya, bahwa cintanya begitu besar.
Mendadak Cahaya kehilangan kata-kata, antara memilih Rena ataupun Felix sungguh membingungkan.
"Aku merasa Rena pun tidak tertarik pada ku, tapi entah kenapa dia tetap berkeras untuk melanjutkan hubungan kami sampai ke pernikahan," tambah Felix.
__ADS_1
Cahaya lagi-lagi hanya bisa mengusap wajahnya, masih bingung dengan keadaan yang ada.
"Felix, aku..."
"Tolong terimalah cinta ku!"
"Aku tidak bisa, bagaimana dengan Rena yang sekarang adalah calon istri mu?"
"Aku tidak mencintainya, bagaimana kami menikah tanpa cinta? Apakah nantinya dia bisa bahagia! Lebih baik sekarang membatalkan pernikahan tersebut, dari pada sudah menikah nanti kami harus bercerai!"
Cahaya pun mengangguk lemah, tidak tahu apakah ini benar atau salah. Tetapi, dirinya juga merasa memiliki perasaan pada Felix. Di tambah lagi dengan penjelasan Felix yang membuat nya semakin yakin.
"Terima kasih," seketika itu juga Felix memeluk Cahaya dengan kencangnya, rasa bahagia ini sungguh luar biasa.
"Aku tidak ingin ada kesalahan, jika kamu mencintai ku selesaikan masalah mu dengan Rena, tanpa ada yang merasa tersakiti," sebenarnya Cahaya takut jika nanti ternyata dirinya adalah orang ketiga di antara hubungan Felix dan Rena. Tetapi dirinya juga merasa cinta Felix begitu tulus, jadi tidak tahu harus bagaimana.
"Pasti," Felix tersenyum bahagia, seketika itu juga keduanya mendadak salah tingkah.
"Boleh aku memeluk mu?" Pertama kalinya Felix meminta izin, entah otak pria itu sudah tergeser atau bagaimana. Tetapi saat ini suasananya memang begitu mendebarkan.
Felix pun tersenyum kemudian kembali bertanya.
"Kita pacaran?" Felix mengarahkan jari kelingking nya.
Cahaya pun mengangguk dan menunjukkan jari kelingking nya.
"Yes!" Felix berseru kemudian memeluk Cahaya dengan cepat.
"Uhuk... Uhuk..." Cahaya sampai terbatuk- batuk saat merasa tubuhnya terhimpit.
"Maaf," Felix pun melepas Cahaya, sesaat merasa bersalah.
"Kamu ishhh!" Cahaya pun menepuk pundak Felix, hampir saja dirinya tidak bernapas.
__ADS_1
"Maaf, abisnya kamu ngegemisin,"
"Sejak kapan kamu jadi genit!" Cahaya tertawa melihat tingkah laku Felix yang menurut nya cukup menarik. Setahunya selama ini Felix adalah lelaki kasar yang sangat dingin.
"Kesini!" tiba-tiba Felix menarik tangan Cahaya untuk duduk di sofa, rasa bahagia tidak dapat di pungkiri. Seketika itu menjadikan paha Cahaya sebagai bantal.
"Felix!" Cahaya tidak bisa dengan posisinya saat ini, dirinya tidak pernah berpacaran sehingga merasa aneh.
"Kitakan udah pacaran, ayolah. Aku hanya ingin tidur sebentar," Felix tidak ingin berpindah, tidur di atas paha Cahaya adalah suatu kebahagiaan baginya, kedua tangannya melipat di dada dengan mata yang terpejam. Tampaknya cinta mampu meruntuhkan dinginnya seorang Felix, Cahaya benar-benar menyinari hari-harinya kini.
Hingga pintu pun terbuka tampak Devan yang berdiri di ambang pintu. Cahaya pun cepat-cepat bangkit, hingga kepala Felix terjatuh pada sofa.
"Maaf," Cahaya yang panik menyadari kesalahan nya, tapi wajah Devan jauh lebih menyeramkan bagi Cahaya. Apa lagi Jessica mendidik nya dengan kesopanan yang tinggi.
"Permisi Om," Cahaya menunduk dengan sopan kemudian berlalu pergi.
Devan pun berjalan masuk, Felix pun mendesus melihat tamu yang tidak di undang tersebut. Rasanya kesal sekali mengetahui Devan datang di saat yang tidak tepat ini.
"Ternyata benar kau sedang rapat penting," Devan pun mengangguk mengerti.
"Tetapi, sejak kapan Cahaya menjadi rekan kerja mu?" Tanya Devan lagi ingin membuat Felix tersudut.
"Ck," Felix pun berdecak kesal, sebab Devan menyudutkan dirinya. Mengusap wajahnya beberapa kali, menahan malu yang begitu luar biasa.
Sepertinya Dean semakin tidak bisa mengerjakan tugasnya dengan baik, buktinya tidak bisa membuat Devan percaya.
"Di sini Ayah merasa ada yang aneh, kau bertunangan dengan Rena atau Cahaya? Ayah harap kau tidak menghancurkan persahabatan yang sudah terjalin antara kami dengan Om Nanda," Devan pun memberikan peringatan kepada Felix, sebenarnya tidak ingin ikut campur. Tapi apa daya, dirinya juga tidak bisa membiarkan Felix membuat kesalahan.
"Ayah, aku benar-benar tidak melakukan apapun dengan Rena. Aku akan membuktikan nya atau kita bisa membuktikan dengan membawa Rena ke rumah sakit. Aku tidak menyentuhnya sama sekali," Felix pun berusaha untuk meyakinkan Devan, bahwa dirinya tidak ingin bertunangan apa lagi menikah dengan Rena.
Devan tidak melihat cincin di jari Felix seharusnya ada cincin pertunangan di sana.
"Ayah, tidak mau ada masalah. Selesaikan dulu urusan mu dengan Rena!" Devan menepuk pundak Felix.
__ADS_1
"Satu lagi, tolong katakan rapat seperti apa yang kalian lakukan barusan?"
Degh!