
Di sebuah restoran ternama salah satu milik yang tak lain adalah milik Riki, kini Vanya sedang menikmati makan malamnya. Menemani seorang Riki yang lagi-lagi menjadi klien nya dan sesaat kemudian akan mendapatkan bayaran sebuah tas branded keluaran terbaru dengan harga 1 M.
Cukup mahal, tetapi tidak menjadi masalah untuk Riki.
Asalkan bisa menemaninya bahkan tanpa sadar Riki mulai meninggalkan dunia hiburan malam yang biasanya menjadi tempatnya untuk menghibur diri.
Selesai makan malam, Vanya dan Riki pun menuju pusat perbelanjaan.
Vanya memilih tas sesuai dengan keinginannya, tak lupa membelikan untuk Ninda juga. Meskipun tidak semahal miliknya, tetapi tas tersebut berkisar antara Rp. 100.000.000.00.
"Makasih ya Om, ini buat saudara aku. Buat sogokan nanti kalau dia laporin aku ke Ibu karena pulang malam kan bahaya, Om" jelas Vanya.
Padahal Riki tak membutuhkan penjelasan Vanya sama sekali karena percuma saja. Sekali Vanya mengatakan membelinya, tak akan ada cara untuk menghentikannya.
Anehnya Riki hanya bisa diam saja tanpa bisa melakukan apapun, meskipun sebenarnya dirinya tidak memiliki hak untuk memenuhi segala kebutuhan Vanya yang jelas bukan siapa-siapa tentunya.
"Sudah siap?"
"Udah dong," Vanya pun tersenyum sambil memegang dua paperbag di tangannya.
Hingga kemudian berjalan di belakang tubuh Riki mengikuti langkah kaki pria itu yang terus saja berjalan.
"Pelan-pelan kek," gerutu Vanya kesal, karena begitu sulit untuk mengimbangi langkah kaki Riki.
Hingga akhirnya ada seseorang yang menabrak dirinya, membuat paperbag di tangannya terlempar ke arah sembarangan.
Vanya pun meringis menahan sakit, apa lagi dirinya kini sampai terjatuh.
"Aduh, sakit banget sih," Vanya pun melihat seorang wanita yang menabrak dirinya.
Tapi entahlah, Vanya pun tak tahu pasti. Apakah wanita itu yang menabrak dirinya atau dirinya yang menabrak wanita tersebut.
Sebab memang Vanya tak fokus pada sekitarnya saat berusaha untuk tetap mengejar Riki yang terlebih dahulu berjalan di depannya.
"Hey, kalau jalan pakai mata dong!" Sergah seorang wanita yang kini berdiri di hadapan Vanya.
Vanya tahu itulah wanita yang bertabrakan dengan dirinya.
Hingga akhirnya Vanya pun bangkit kembali dan menatap wajah wanita tersebut.
"Nggak usah ngegas dong, biasa aja. Aku yang padahal sampai jatuh, kamu nggak kenapa-kenapa juga kan?" Bukan Vanya namanya jika hanya diam tanpa melawan.
Prinsip seorang Vanya adalah melawan meskipun kalah, bukan kalah sebelum melawan, itu sama dengan seorang pengecut.
Begitu pun juga dengan kali ini, wanita di hadapannya itu cukuplah menjengkelkan sekali.
Karena, merasa dirinya lebih dari wanita yang bertabrakan dengan dirinya barusan, tentunya tak aka menerima saat dipersalahkan.
__ADS_1
"Kamu berani ya, nggak ada sopan santunnya sama sekali!"
"Bodo amat!" Vanya pun memungut barang belanjaannya, kemudian kembali melihat wanita tersebut.
Ingin sekali Vanya menarik mulut wanita di hadapannya itu, tetapi tidak. Sebab, Vanya sudah diajarkan rasa sopan oleh kedua orang tuanya.
Hingga memilih untuk mengalah dari pada beradu mulut dengan orang lebih tua darinya itu.
Hingga akhirnya Vanya ingin pergi tetapi malah di tarik bagian lengannya.
"Apaan, sih!" Vanya pun bergerak untuk melepaskan diri, hingga akhirnya ada tangan yang menarik lengan wanita tersebut dan menghempaskannya.
"Mampus kamu!" Seru Vanya saat menyaksikan wanita tersebut meringis karena kesakitan, siapa lagi yang menolongnya kalau bukan Riki.
Besarnya tangan Riki tak akan mampu membuat wanita aneh itu terus mencengkram tangannya.
"Kamu..." Mendadak wanita tersebut diam saat melihat wajah lelaki yang mendorongnya barusan.
"Mas Riki?" Wanita tersebut terlihat shock.
Sejenak terdiam sambil melihat lebih jelas, meyakinkan bahwa matanya masih melihat jelas atau tidak.
Tetapi memang benar jika itu adalah mantan suaminya.
Tidak di pungkiri bahwa dirinya tidak bisa berpaling arah saat melihat Riki saat ini, pria itu tampak lebih gagah dari pada dulunya.
Sesaat kemudian Indah pun melihat ke arah lainnya, melihat seorang bocah dengan penuh tanya.
Pergi lebih cepat adalah keputusan tepat namun siapa sangka. Ternyata tidak semudah itu karena Indah menghalangi langkah kaki Riki dengan cepat.
"Mas, aku mau bicara."
Riki pun menatap Indah sesaat kemudian membuang tatapannya ke arah lainnya.
"Om, kenal sama dia?" Vanya langsung saja bertanya padahal sudah jelas bahwa Riki dan wanita tersebut memang saling mengenal. Meskipun tanpa perlu lagi Vanya bertanya.
"Tidak, dia hanya orang asing!" Jawab Riki menepis dengan cepat.
Sementara Indah sungguh shock mendengarnya, hingga membuatnya mengepalkan tangannya yang menggantung.
"Dasar, Tante-tante aneh," kata Vanya dengan polosnya, merasa wanita di hadapannya sudah gila.
Tak perduli pada Vanya sama sekali Indah kembali berusaha untuk berbicara pada Riki.
"Mas Riki, aku mau bicara. Kamu udah lupain aku gitu aja? Kamu udah lupain cinta kita?" Tanya Indah lagi.
Riki terlihat tak perduli sama sekali hingga memilih untuk pergi dengan menarik lengan Vanya.
__ADS_1
Berbicara dengan wanita tersebut hanya membuang-buang waktunya saja, siapa itu Indah?
Kini dan dulu sudah berbeda, waktu pun terus berjalan tentunya begitu pun dengan perasaan yang tak lagi sama.
Riki lebih memilih untuk menjadi gila seperti sebelum bertemu Vanya dari pada harus mengejar wanita pengkhianat seperti Indah.
"Om, wanita tadi siapa?" Vanya kini duduk di samping Riki yang sedang mengemudikan mobilnya.
Tapi rasa penasaran terhadap wanita barusan sungguh menjadi-jadi.
Terlihat keduanya saling mengenal jelas, hanya saja entah apa hubungannya dengan Riki. Dan sebelum mendapatkan jawaban yang pasti Vanya akan terus bertanya tanpa hentinya.
"Om, pasti kenal baikkan sama wanita ngeselin tadi? Buktinya dia tau nama Om, manggilnya juga Mas Riki, jawab dong Om?" Vanya sangat kesal melihat Riki hanya diam saja.
Padahal mulutnya sudah berbusa saat terus berbicara. Di tambah dengan rasa penasaran yang begitu luar biasa.
"Om?"
"Dia mantan istri ku," jawab Riki dengan suara beratnya.
"Apa?" Mulut Vanya pun terbuka lebar mendengarnya.
"CK!" Riki pun berdecak kesal melihat ekspresi wajah Vanya yang sangat berlebihan itu.
"Mantan istri?"
"Sudahlah tidak usah membahasnya!" Riki tak memiliki waktu jika hanya membahas tentang masa lalu yang menyakiti hatinya tersebut.
Tetapi apalah daya jika Vanya sudah terlanjur penasaran, maka sampai kapanpun akan terus bertanya sebelum mendapatkan jawaban pasti.
"Judes amat ya Om, persis kayak Om. Pantesan aja kalian jodoh!" gerutu Vanya, Riki hanya melirik Vanya sekilas, setelah itu terus berfokus pada jalanan.
"Om. Tapi, aku penasaran. Kok bisa Om sama dia cerai?"
"Apa tidak ada pembahasan lain, merusak mood saja!"
"Apaan sih!"
"Turun!"
Riki pun meminta Vanya untuk turun dari mobilnya, terlalu fokus pada pertanyaannya akan wanita yang berstatus sebagai mantan istri Riki membuat Vanya tidak sadar sudah sampai di rumah.
"Ya ampun Om, biasa aja dong. Nggak usah ngegas juga kale!" Vanya pun memilih untuk turun dari pada terus berdebat dengan Riki.
Karena tak mendapatkan jawaban sama sekali atas pertanyaannya sama sekali.
Bahkan masih saja wanita itu mengatakan sebuah gelar yang mencengangkan sebelum akhirnya menutup pintu mobil.
__ADS_1
"Dasar duda lapuk!"
Mobil Riki pun seketika melesat, membuat Vanya merasa kesal.