
Andai saja sejak dari dulu tau adik dari Felix lah yang akan dicintainya, sudah pasti Riki akan menunjukan sikap yang paling baiknya.
Bahkan membuat Felix pun sampai bangga karena memiliki calon adik ipar seperti dirinya.
Karena sudah pasti Riki akan menjadi seorang yang sangat baik.
Tapi itu hanyalah andai-andai saja, sebab semua jalan yang sudah ditentukan hanya bisa dijalani saja dan berusaha untuk menjadi seorang yang lebih baik.
"Sudah malam, masih saja berduaan begini," kesal Felix.
"Kami nggak ngapa-ngapain kok Kak," jawab Vanya berusaha untuk membela dirinya.
Terutama takut jika saja Felix mencabut restu yang sudah diberikannya.
"Iya, karena aku datang tepat waktu Kalau tidak?" Felix pun menggantung ucapannya sambil melihat Riki.
"Entah apa yang sudah kalian lakukan di sini," lanjut Felix lagi.
Sementara Riki hanya bisa diam saja, persis seperti seorang anak kecil yang dihukum oleh gurunya berdiri di depan kelas, karena tidak mengerjakan tugas sekolah.
Sejak kapan Riki jadi demikian, sejak saat ini dan seterus-terusnya.
Itulah resiko mencintai Vanya, tapi Riki masih memilih untuk bertahan dalam mencintai Vanya.
"Kau, cepat makan sana. Setelah itu pulang. Kalian belum sah menikah!" Kata Felix.
"Iya, Kakak Ipar," jawab Riki.
Felix pun merasa jijik saat Riki menyebutnya lagi-lagi sebagai Kakak Ipar, ingin sekali meludahi wajah Riki saat ini juga.
"Cepat sana. Vanya kasih peliharaan mu itu makan, aku tidak mau kalau dia mati di rumah ini," kata Felix lagi.
"Dia calon suami aku, Kak."
"Aku pikir peliharaan mu!"
Glek!
Riki hanya bisa meneguk saliva, sambil berusaha untuk tetap tenang demi tujuan dapat tercapai.
Ayolah Riki, semuanya harus segera terbayarkan dengan tunai.
Lihat saja saat malam pertama nanti, Riki akan merayakan kemenangannya.
"Ngapain liatin adik ku seperti itu?" Tanya Felix yang menyadari tatapan mata Riki yang terus tertuju pada Vanya.
"Nggak boleh? Aku calon suaminya!"
"Baru calon!"
Ya ampun, lagi-lagi Riki kalah menghadapi calon Kakak iparnya tersebut.
"Kau mau makan dulu sebelum pulang atau langsung pulang sekarang?"
"Aku makan dulu," Riki pun segera bangkit dari duduknya, kemudian segera menuju ruang makan tanpa dipinta kedua kalinya.
"Jangan macam-macam!" Felix pun menunjukan jari telunjuknya pada wajah Vanya.
__ADS_1
"Ini satu Kak," jawab Vanya dengan polosnya sambil menunjuk tangan Felix.
"Satu macam berarti," kata Vanya lagi dengan senyuman.
Felix pun menurunkan tangannya, terlalu lama berdebat dengan Vanya bukannya membuat wanita itu semakin pintar malah dirinya yang bisa stres dengan tingkah laku adik tersayangnya itu.
"Kak, aku sama Mas Riki nggak macam-macam. Cuma satu macam aja. Boleh nggak Kak?" Vanya pun mengajukan sebuah permintaan.
Ya, tidak banyak. Hanya satu saja, tetapi bisa saja permintaannya membuatnya hampir di cincang.
Sementara wajah Felix masih tampak serius melihat wajah Vanya.
"Cuma peluk doang Kak, satu macam" kata Vanya lagi.
"Kau pilih satu tangan saja untuk mencekik mu, atau dua tangan?" Tanya Felix sambil tangannya bergerak ke arah Vanya.
Membuat Vanya pun ketakutan.
"Ampun Kak, janji nggak akan pernah begitu," kata Vanya lagi dengan bersungguh-sungguh.
"Awas kau berani melanggar!"
"Nggak Kak, janji aku nggak akan peluk-peluk Mas Riki."
"Bagus, temani dia makan dulu. Setelah itu langsung suruh pulang!" Setelah mengatakan itu Felix pun langsung pergi, meskipun sebenarnya dirinya masih saja mengawasi dari kejauhan.
"Iya, Kak."
Vanya pun segera menuju ruang makan, menyusul Riki yang ternyata sudah duduk di kursi meja makan.
"Sebentar ya Mas, aku hangatkan dulu makanannya."
Bibirnya terus saja tersenyum bahagia karena bisa di layani oleh Vanya saat ini.
Bahkan sampai mengisi piringnya dengan nasi dan lauk.
Beruntung masakan itu tidak di masak oleh Vanya, yang hanya menghangatkan saja. Karena, Riki bisa merasa horor jika harus memakan masakan Vanya yang super keren itu.
"Ayo Mas, makan."
"Iya. Kamu nggak makan?"
"Nggak."
"Kenapa?"
"Kata Mas, kamu bilang nggak makan? Ya, nggak makanlah."
"Ya sudah, kamu makan."
"Itu baru bener!"
Vanya pun akhirnya mengisi piringnya sendiri kemudian memulai makanya dengan begitu lahap.
"Sayang, kamu lapar banget ya."
"Ya, soalnya nggak makan dari semalam. Aku baru sadar ternyata makan cinta doang nggak kenyang," celetuk Vanya.
__ADS_1
"Ahahahhaha," Riki pun tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Vanya barusan.
Sungguh ini adalah hal yang teramat indah untuk dikenang sampai suatu hari nanti mereka menua bersama dan menyaksikan anak cucu mereka.
"Mas, jangan berisik. Nanti, Kak Felix dengar, bisa marah lagi dia."
"Ya juga ya, sekarang dia mendadak jadi jailangkung datang gitu aja. Tiba-tiba pulang," gerutu Riki.
"Mas, apaan sih. Itu Kakaknya aku."
Akhirnya setelah selesai makan Riki pun berpamitan untuk pulang, perasaannya benar-benar lega setelah hubungannya dengan Vanya sudah kembali membaik seperti sebelumnya.
Sesampainya di rumah Riki pun langsung membersihkan tubuhnya, kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan agar lebih santai.
Seperti seorang pada umumnya yang sedang jatuh cinta, Riki pun terlentang di atas ranjang dan meraih ponselnya.
Kemudian mengirimkan pesan pada Vanya.
( Udah, tidur belom ) Riki.
Vanya yang melihat pesan dari Riki pun kembali menuliskan pesan balasan.
( Ini udah siap-siap mau tidur, Mas ) Vanya.
Riki di sebrang sana hampir gila karena pesan balasan dari Vanya yang terkesan sederhana namun membuatnya berbunga-bunga.
Seketika Riki pun kembali menuliskan pesan balasan.
( Kamu tidurnya miring ke kanan ya, soalnya Mas miring ke kiri. Jadi kita bisa dekat deh ) Riki.
Ya ampun, begini sekali jatuh cinta. Bahkan duda saja bisa jadi anak baru gede lagi.
( Kan kita jauh Mas ) Vanya.
Bocah polos itu sama sekali tidak mengerti dengan maksud Riki.
( Bayangin aja ) Riki.
( Caranya gimana ) Vanya.
( Tutup mata sayang ) Riki.
Vanya pun segera menutup matanya, seperti apa yang diperintahkan oleh Riki.
Namun, Riki masih menunggu pesan balasan dari Vanya.
Hingga akhirnya Riki pun kembali mengirimkan pesan pada Vanya.
( Sayang ) Riki.
Bahkan pesannya tidak dibaca sama sekali oleh Vanya.
Karena di suruh tutup mata akhirnya Vanya pun terlelap dalam mimpi, lupa jika sedang berbalas pesan dengan Riki yang masih menunggu balasan pesan darinya.
"Ya, ampun. Apa yang sedang dia lakukan?" Riki di sebrang sana benar-benar menantikan balasan besar dari Vanya.
Tanpa diketahuinya Vanya sudah mendengkur dengan kencang, bahkan ada air liur yang keluar.
__ADS_1
Riki yang akhirnya memutuskan untuk melakukan panggilan telepon pun kecewa, karena panggilannya tidak dijawab sama sekali.
Bahkan ponsel yang berada di dekat wajah Vanya pun sudah terkena larva alias air laut Vanya.