
Dari sejak tadi Riki kebingungan untuk menghubungi Vanya, sebab dari sekian banyak panggilan telpon darinya tidak satu pun yang mendapatkan jawaban.
Benar-benar Riki tidak bisa tenang, bahkan saat malam harinya saja tidak dapat terlelap sama sekali hingga pagi harinya.
Segera Riki pun bergegas menuju kamar mandi, setelah itu memakai pakaiannya dan segera pergi menuju rumah Vanya.
Namun, sesampainya di sana ternyata Vanya sudah pergi ke kampus.
"Bunda, apa Vanya sudah lama perginya?"
"Iya, beberapa menit yang lalu. Bunda, pikir Vanya ke kampus sama kamu," jawab Nayla yang sedang menyirami tanamannya.
"Nggak Bunda," wajah Riki tampak kecewa, sebab tidak biasanya Vanya begini.
"Kamu susul saja Vanya ke kampus, kalau ada masalah segera selesaikan," kata Nayla memberikan saran.
"Aku, permisi Bunda."
"Iya, hati-hati."
Riki pun segera menyusul Vanya menuju kampus, ingin berbicara dan meminta maaf karena dirinya tidak sanggup sampai tidak dipedulikan sama sekali seperti saat ini.
Sesampainya di kampus Riki pun mencari Vanya, hingga beberapa kali bertanya kepada mahasiswa yang ditemuinya.
Sampai akhirnya Riki pun melihat Vanya berada di ruangannya, namun bersama dengan seorang lelaki.
__ADS_1
"Entar, jalan yuk. Cari angin segar gitu. Kamu udah lama banget nggak ke kampus, aku kangen tau," kata Indra yang tampak begitu akrab dengan Vanya.
Saat keduanya asik berbincang tiba-tiba Riki pun muncul di hadapan Vanya.
Vanya pun terkejut melihat Riki yang tiba-tiba datang.
Tetapi wajah Vanya malah berubah masam mengingat Riki begitu perhatian terhadap wanita yang bernama Sandra itu.
Benar-benar membuat mood Vanya menjadi rusak.
"Indra, jalannya sekarang aja yuk!" Vanya langsung saja bangkit dari duduknya, kemudian menarik tangan Indra untuk ikut dengan dirinya.
Riki sangat kesal melihat Vanya memegang tangan pria lain, bahkan di depan mata kepalanya.
"Vanya!" Riki pun meraih tangan Vanya yang satunya lagi, dirinya tidak ingin ditinggal pergi begitu saja.
Karena tidak ingin Vanya kesakitan.
"Vanya, kita harus bicara. Lepaskan!" Riki pun menatap tangan Vanya yang memegang tangan seorang pria.
"Kenapa?" Tanya Vanya seakan tidak ingin menuruti keinginan Riki.
Riki pun memilih untuk melakukannya sendiri, menghempaskan tangan Indra yang dipegang oleh Vanya.
"Apaan sih? Aku nggak boleh pegang-pegang sama temen aku! Nah, kamu? Pegang-pegang, gendong-gendong juga. Itu gimana?"
__ADS_1
"Vanya, itu hanya salah paham dan bentuk tanggung jawab."
"Tanggung jawab apa? Aku nggak salah!"
"Vanya?"
"Sekalian aja nikah sama dia, nggak usah sama aku!"
Vanya pun segera pergi, tidak perduli pada Riki yang terus saja memanggil dirinya.
"Vanya," sapa Derren yang tak lain juga teman Vanya, melihat Vanya yang melewati dirinya.
"Aku balik duluan ya," kata Vanya sambil terus berjalan.
"Kok balik?" Tanya Derren bingung.
Namun, Vanya sudah pergi begitu saja. Tidak lama kemudian Riki pun terlihat menyusul Vanya.
"Siapa?" Tanya Derren pada Indra.
"Nggak tau juga, tapi kayaknya mereka lagi berantem," jawab Indra yang juga melihat Vanya yang semakin menjauh.
Sedangkan Riki masih saja mengejar Vanya, hingga akhirnya Vanya pun masuk ke dalam mobilnya.
"Vanya!" Riki memanggilnya, namun mobil Vanya sudah melesat jauh.
__ADS_1
Akhirnya Riki pun memilih untuk menyusul Vanya, sampai akhirnya ternyata Vanya kembali ke rumah membuat perasaan Riki menjadi lebih baik, sebab Vanya yang mengemudi di jalan raya begitu ugal-ugalan.