
Tangisan Vanya membuat Riki merasa iba, seketika itu bangkit dari atas tubuh wanita tersebut.
Begitu pun dengan Vanya yang segera menuruni ranjang, kedua tangannya meremas kemejanya. Sedangkan wajahnya begitu sembab.
Tatapan mata Riki yang tajam seakan menatapnya penuh intimidasi.
"Kamu yakin masih perawan?" Tanya Riki dengan suara beratnya.
Sulit sekali ingin merasakan tubuh wanita itu saja, karena banyaknya drama.
Saat ini Riki hanya ingin dihargai, sebab malam tadi dirinya merasa direndahkan oleh seorang wanita di hadapan orang banyak.
Bahkan Riki berencana untuk membawa Vanya ke tempat hiburan malam itu, kemudian melayani banyak pria hidung belang di sana.
Benar-benar untuk membuktikan bahwa seorang wanita memang tidak pantas untuk dihargai.
"Om, aku benar-benar minta maaf."
Riki pun terdiam sambil menimbang sesuatu, meyakinkan dirinya bahwa apa yang dikatakan oleh wanita itu benar adanya atau hanya sekedar mengelabuinya saja.
Sebab wanita adalah racun dunia, sangat suka menipu dengan liciknya. Riki tidak lagi mau tertipu akan wajah polos dan air mata palsu.
"Om," Vanya masih memohon, berharap Riki luluh hatinya.
__ADS_1
"Kau yakin tidak berbohong?"
Selama ini Riki hanya bermain dengan wanita yang jelas-jelas sudah rusak, tak pernah dirinya merusak wanita baik-baik yang jelas masih perawan.
Bahkan saat menikah dengan mantan istrinya dulu dirinya sendiri tak merasakan kenikmatan seorang perawan.
"Iya, Om. Aku belum pernah ciuman juga. Apa lagi hubungan suami istri. Aku ke club juga cuma coba-coba, Om. Pengen jadi anak gaul," jelas Vanya dengan baik.
Agar Riki tahu jika dirinya sama sekali tak pernah mengerti apa itu dunia malam, dunia gelap lainnya.
Riki masih saja diam, jika biasanya melihat wanita itu selalu marah karena mudah membuat emosinya meninggi.
Maka tidak dengan kali ini, karena kali ini wanita itu tampak berbeda.
Riki merasa semakin penasaran pada Vanya, sebab jarang sekali terjadi pada wanita di jaman sekarang masih perawan.
Perlahan kakinya melangkah, mencoba untuk mendekati Vanya.
Hingga dengan kaki yang bergetar kaki Vanya pun ikut melangkah mundur, sampai akhirnya terjatuh di atas sofa.
"Om, tolong lepasin aku. Janji nggak akan mengulangi lagi," peluh Vanya kian bercucuran, kemudian tubuhnya pun tampak bergetar hebat.
Riki tak mendengarkan sama sekali, perlahan menggapai bibir Vanya yang terus saja membuatnya penasaran.
__ADS_1
Hingga akhirnya isak tangis Vanya pun pecah, membuat Riki benar-benar mengurungkan niatnya.
Lagi pula untuk kali ini Riki hanya ingin mengetes Vanya, tetapi tampaknya wanita itu tidak berbohong.
"Bangun!"
"Om?" Mata Vanya berkaca-kaca seakan meminta dikasihani.
Mungkin ini untuk terakhir kalinya pergi ke tempat terlarang tersebut, Vanya benar-benar menyesal sudah melanggar aturan yang dibuat oleh Devan.
"Apa kamu tidak mendengar?"
Dengan segera Vanya pun bangkit, menurut pada apa yang dikatakan oleh Riki.
"Kamu mau aku lepaskan?"
"Mau Om, aku minta maaf ya, Om"
"Tapi ada syarat lainnya, kau tetap harus bertanggung jawab atas kepala ku ini."
"Iya Om, asalkan tidak tidur seperti itu ya Om," maksud Vanya adalah tidak melakukan hubungan suami istri, tetapi tidak bisa bibirnya berkata langsung untuk hal demikian.
Polos dan juga belum pernah merasakan tentunya akan menyulitkannya untuk berkata hal dewasa.
__ADS_1
Akan tetapi Riki mengerti apa yang dimaksud oleh Vanya.