
Felix pun tersenyum menggoda Cahaya, akhirnya setelah bertahun menyimpan perasaan kini bisa memiliki dengan sepenuhnya. Bibir Felix terus saja tersenyum bahagia melihat Cahaya yang kini berada di kamarnya. Cahaya berulang kali menatap dirinya dari pantulan cermin. Dengan piama berwarna pink.
Namun anehnya itu sudah cukup lama berlangsung, Felix sudah menunggu sejak tadi namun sampai saat ini pun sepertinya belum ada tanda-tanda istrinya itu untuk naik ke atas ranjang
Sampai di sini kesabaran Felix semakin di uji, bingung dan bertanya-tanya tentunya. Mengapa Cahaya hanya bercermin saja, padahal sudah jelas tanpa bercermin pun istrinya itu memang begitu cantik tiada yang dapat menandingi nya.
Felix pun mencoba untuk menghampiri Cahaya, tetapi sesaat kemudian Cahaya merasa perutnya sakit.
"Aduh," Cahaya pun meringis menahan sakit pada perutnya.
"Kenapa?" Wajah Felix tampak panik saat melihat Cahaya menahan sakit.
"Aku mules," secepat mungkin Cahaya masuk ke dalam kamar mandi, duduk diam tanpa melakukan apapun. Karena sebenarnya Cahaya tidak sakit perut seperti apa yang barusan di katakannya, melainkan ingin menghindari Felix.
Cahaya tidak tahu bagaimana cara untuk berhadapan dengan Felix sebagai suaminya apa lagi dirinya tahu suaminya itu mengajaknya naik ke atas ranjang dengan terang-terangan.
Cahaya bahkan menahan getaran di kakinya, saat Felix memeluknya barusan sudah membuatnya menegang.
Apa lagi lebih dari itu?
Cahaya masih malu untuk menunjukkan tubuhnya tanpa sehelai benang pun di hadapan Felix, padahal sebenarnya tidak perlu lagi merasa malu mengingat Felix sudah melihatnya jauh sebelum mereka menikah.
Tok... Tok... Tok!
Cahaya mendengar suara ketukan pintu, siapa lagi kalau bukan Felix.
Glek!
Cahaya meneguk saliva dengan berat, andai saja Felix tahu jika dirinya sedang gugup tentunya itu akan sangat memalukan.
"Sayang!" Lagi-lagi terdengar suara Felix yang memanggil dirinya dari luar sana.
Tunggu-tunggu, barusan Felix memanggil apa? Apakah dirinya tidak salah mendengar karena terlalu gugup.
Tok... Tok... Tok!
"Cahaya, apa kamu baik-baik saja!" Felix tampak tak bisa menyembunyikan perasaan cemasnya. Sebab Cahaya tidak juga bersuara dari dalam sana.
"Apa kamu baik-baik saja atau aku dobrak pintunya!" Felix pun tak lagi dapat menahan rasa cemasnya hingga memutuskan untuk mendobrak pintu kamar mandi. Dan di saat itu bertepatan dengan Cahaya yang membuka pintu. Akhirnya Felix pun terjatuh menimpa Cahaya berada di bawah tubuh Felix yang besar.
"Felix, sakit!" Seru Cahaya.
"Maaf," cepat-cepat Felix bangkit dari sana, hingga akhirnya membantu Cahaya untuk berdiri.
"Kamu apa-apaan, sih? Sakit tahu!" Cahaya pun menahan sakit pada pinggang nya.
Hingga kini keduanya berjalan keluar dari kamar mandi dan duduk di sisi ranjang dengan menahan sakit.
"Aku panik, kamu lama banget di dalam kamar mandi. Aku takut kamu kenapa- kenapa," jelas Felix mengutarakan apa yang ada di hatinya.
"Pijat!" Cahaya pun meminta Felix untuk memijat pinggang nya.
Dengan senang hati Felix memijat Cahaya, bahkan kalau perlu bukan hanya pinggang yang di pijat, mungkin juga gunung kembar yang sedang letih dan butuh pijatan nya.
__ADS_1
"Aduh, hati-hati! Sakit tahu!" Omel Cahaya.
"Baru juga begitu, belum juga yang lainnya!" Felix pun tak ingin kalah hingga memilih untuk menjawab.
"Aduh, Felix lebih kencang! Nggak kuat banget sih!"
Felix pun semakin kuat memijat Cahaya, agar lebih terasa dan membuat pinggang istrinya itu segera membaik.
"Auw! Kencang banget sih. Lebih pelan! Ya, begitu 'kan, enak, ayo lagi!"
Felix pun tersenyum miring, karena bosan terus memijat pinggang saja.
Sedangkan Vanya yang hendak mengetuk pintu kamar pengantin baru itu pun terdiam saat mendengar suara dari dalam sana.
Pintu yang tidak tertutup rapat meninggalkan celah hingga suara dari dalam sana terdengar hingga ke luar.
"Ah, enak banget. Lebih kencang dong," terdengar suara Cahaya di dalam sana.
"Seperti ini?" Tanya Felix.
"Besar sekali!"
Mata Vanya seketika melebar, otaknya kini di penuhi dengan kekotoran yang begitu luar biasa.
'Agak pelan, ah.....iya. Enak, kamu sangat hebat,' kata Cahaya memuji.
"Tentu saja, aku kan suami yang baik!" Felix pun begitu bangga saat Cahaya memujinya.
Cahaya pun menutup matanya, sebenarnya dirinya ingin menghindari malam pengantin baru karena malu. Dan sakit pada pinggang nya tidak sama sekali parah, dirinya hanya sedang mengelabui Felix.
"Seperti ini?"
"Ah, lagi!"
"Enak banget, agak kencang dikit"
"Seperti ini?"
"Iya, ah..sssst ini enak sekali, ayo lagi," pinta Cahaya.
Sedangkan Vanya semakin meneguk saliva, dirinya yang di minta mengantarkan makanan oleh Nayla pada Cahaya yang belum makan sama sekali sejak siang tadi merasa gerah.
Dirinya memang belum dewasa seperti dua Kakaknya ataupun Kakak iparnya. Akan tetapi otaknya sudah mengerti apa itu malam pengantin.
"Ya ampun, sepertinya mereka sedang mantap-mantap. Nasib jadi aku, jangankan suami, pacar saja tidak punya" Vanya pun mendesus lesu.
Sampai akhirnya tanpa sengaja pintu pun terdorong, Vanya pun kehilangan keseimbangan nya.
Brak!
"Aduh," Vanya terjatuh, meringis menahan sakit, seiring dengan nampan di tangannya yang jatuh berserakan di lantai. Cahaya dan Felix pun seketika melihat ke arah pintu.
"Vanya?"
__ADS_1
"UPS!" Vanya menutup mata, membayangkan ada pengantin baru yang sedang tanpa sehelai benang pun.
Cahaya dan Felix pun saling melihat satu sama lainnya, mereka bingung dengan apa yang terjadi pada Vanya.
"Aku nggak lihat apa-apa," kata Vanya sambil berusaha untuk bangkit kembali.
Vanya pun akhirnya berhasil berdiri, kemudian berlari secepat mungkin dengan kedua matanya yang masih saja di tutup rapat. Sampai akhirnya kembali membentur dinding, membuatnya kembali terjatuh. Kali ini dahinya tampak membiru, penglihatan nya pun terasa berbintang.
"Vanya, kamu baik-baik saja," Cahaya pun panik dan menghampiri Vanya.
"Aku nggak liat apa-apa beneran, tadi aku cuma dengar suara kalian aja. Serius, aku nggak bohong," jelas Vanya dengan polosnya, dirinya ingin meyakinkan Cahaya dan Felix, tak melihat pergulatan panas seperti yang di bayangkan oleh otak polosnya.
Polos?
Bukan!
Tepatnya, otak polosnya kini sudah ternodai.
"Buka mata!"
Vanya pun menggelengkan kepalanya, menolak. Dirinya yakin jika Cahaya dan Felix tidak memakai apa-apa.
"Kamu jangan gila, mana pintu?" Vanya pun merentangkan kedua tangannya, meraba-raba sekitarnya mencari jalan keluar. Sebab tak ingin membuka mata takut matanya pun ikut tercemar.
"Ya ampun, ada apa dengan manusia aneh ini?" Cahaya pun memaksa kedua mata Vanya untuk terbuka.
"Nggak!" Seru Vanya, namun matanya sudah terlanjur terbuka.
Seketika melihat sekitarnya, Cahaya yang lengkap dengan pakaiannya begitu pun dengan Felix.
Ranjang yang juga masih rapi tidak yang berantakan sama sekali.
"Ranjangnya juga masih rapi," gumam Vanya tanpa sadar.
"Otak mu yang kusut!" Kata Felix yang tahu apa yang kini di pikirkan oleh adiknya tersebut. Tetapi Cahaya yang belum mengerti dengan keanehan Vanya.
"Hehehe," Vanya pun menggaruk kepalanya, merasa malu setelah menyadari hanya otaknya saja yang kotor, lalu apa yang barusan dia dengar? Vanya pun berdecak kesal.
"Keluar dari sini!"
"Keluar?" Tanya Vanya yang belum kembali normal.
"Kamu mau lihat kami bermesraan?"
Vanya pun menggelengkan kepalanya dengan cepat, kemudian berlari keluar. Tanpa sadar tangannya ikut menarik lengan Cahaya.
"Hey!" Felix pun dengan cepat memegang lengan Cahaya.
"Ada apa lagi?" Vanya menatap Felix penuh permusuhan.
"Lepaskan tangan istri ku!"
Vanya pun melihat tangannya dan cepat-cepat melepaskan tangan Cahaya.
__ADS_1
"UPS!" Setelah melepaskan tangan Cahaya dengan secepat mungkin Vanya pun melarikan diri, membawa rasa malu sampai di ubun-ubun.