
Pagi ini Riki menerima kiriman paket, meskipun tidak tahu apa dan dari siapa. Bahkan dirinya tidak ingin tahu sepertinya, dari siapa saja terserah. Tidak perduli dan tidak ingin perduli sama sekali. Mood nya benar-benar tidak baik. Semua karena Vanya, seorang pujaan hati yang telah bertahta dalam hati.
Riki pun tidak mengerti mengapa bisa bocah ingusan seperti Vanya mampu membuatnya tergila-gila, bahkan membalikkan dunianya dalam sekejap saja.
Sayangnya kisah cinta tidak semulus jalan tol pada kenyataannya kerikil dan badai siap menghantam untuk menghalangi keduanya untuk bersama-sama membangun mahligai rumah tangga.
Tetapi tunggu dulu, seperti ada yang janggal, isi dari paket tersebut adalah benda-benda yang pernah di beli oleh Vanya menggunakan uangnya, bahkan Riki sangat mengenali semuanya.
Apa yang tidak diingat tentang Vanya, tidak ada. Semuanya Riki ingat tanpa terkecuali.
Tas dengan harga cukup fantastis, ponsel. Semua benda itu di beli benar-benar dengan uang Riki.
Tetapi ada yang jauh lebih mencengangkan lagi, cek dengan tulisan nominal cukup mencengangkan. Sepertinya cek itu dengan sengaja di kirimkan padanya.
"Kata Tuan Devan itu bayaran karena Anda sudah mengeluarkan banyak uang untuk putrinya. Bahkan, nominalnya menjadi dua kali lipat," jelas Andre, seorang asisten yang bekerja dengan baik selama beberapa tahun ini pada Riki.
Menjelaskan sesuatu yang diucapkan oleh seorang asisten Devan yang diutus untuk menyerahkan barang tersebut pada dirinya.
Sementara Riki yang mendengarkan saja, tubuhnya seketika terasa lemas hingga dirinya menyandarkan kepalanya pada sofa.
Semua kisah dari awal bertemu sampai jatuh hati pun mulai terngiang-ngiang di kepala Riki, apakah memang semuanya tidak ada jalan terbaik.
Tanpa perlu membuatnya jauh dari Vanya, apakah benar-benar semua jalan sudah buntu sehingga tidak lagi ada kesempatan untuk dirinya memiliki Vanya dengan seutuhnya. Setelah kejadian malam tadi semuanya tak lagi sama, semuanya berubah tanpa bisa dicegah.
Tidak ada lagi rutinitas pagi seorang Riki yang menjemput Vanya, tidak lagi ada Riki yang pusing karena mendengar mulut Vanya yang komat-kamit.
Tidak ada lagi Riki yang pusing sebab mendengarkan Vanya dengan lagu-lagu anehnya itu, bahkan dengan volume suara yang cukup tinggi seakan membuat telinga Riki hampir pecah.
Semuanya tidak lagi sama, Riki sangat merindukannya.
Sampai kapan ini akan berlangsung, Riki tidak sanggup. Bahkan hanya untuk satu hari ini saja dirinya sudah tidak kuasa menahan rindu yang kian menyesakkan dada.
Tidak lagi melihat wanita itu mengajar di sekolah seperti sebelumnya, semuanya benar-benar sudah berbeda, waktu tidak lagi berpihak padanya.
Tetapi sampai di sini semua seakan semakin membawanya pada sebuah keyakinan bahwa mencintai Vanya bukanlah satu hal yang main-main,
"Cari tahu di mana dia kuliah."
"Siap Bos."
Andre pun memutuskan untuk pergi, menjalankan perintah dari Riki tanpa menunda sama sekali.
__ADS_1
Kali ini Riki tidak tahu lagi bagaimana cara berhubungan dengan Vanya, sebab ponselnya juga sudah berada pada dirinya.
Hingga akhirnya Riki pun mengingat seseorang yang cukup dekat dengan Vanya.
"Ninda? Mungkin dia bisa membantu ku," Riki pun segera menuju kediaman Ninda, tanpa memikirkan sesuatu yang lebih panjang lagi.
Setelah sampai di kediaman Ninda, Riki pun bergegas untuk turun.
Ternyata Ninda sedang menyapu halaman membuat Riki segera mendekatinya.
"Om Riki?" Ninda cukup terkejut melihat kehadiran Riki, tapi bukankah seharusnya Riki sudah tahu bahwa Vanya sudah kembali ke rumah kedua orang tuanya.
Vanya sendiri yang mengatakan saat kemarin sebelum pulang ke rumah orang tuanya.
Bahkan Ninda juga merasa kesepian setelah Vanya tidak lagi tinggal di rumahnya, apa lagi kedekatan mereka yang kini seperti saudara.
Padahal selama satu bulan lebih ini dirinya merasa bahagia memiliki teman.
"Vanya, udah nggak tinggal di sini Om."
Riki pun mengangguk, maka dari itu mendatangi Ninda karena benar-benar membutuhkan bantuan Ninda.
Sebab, semuanya tidak main-main sehingga tidak perlu untuk menunda.
Kerinduan ini sudah begitu menyiksa, entah sampai kapan semuanya bisa terluapkan.
"Bantuan?" Ninda tampak tidak mengerti hingga bertanya kembali.
Lagi pula apa yang bisa dilakukan olehnya, apakah dirinya begitu berguna.
Ninda benar-benar tidak tahu apa yang bisa dilakukannya untuk menolong Riki.
"Saya akan memberikanmu bayaran, jika kamu bisa memberikan ponsel ini padanya," Riki pun memberikan sebuah paperbag pada Ninda sebab dirinya ingin tahu kabar Vanya saat ini.
Ninda pun terdiam sejenak sambil memikirkan sesuatu, tetapi Ninda tahu tentang Vanya juga Riki yang sedang dalam masalah.
Vanya sendiri yang menceritakan pada dirinya melalui sambung telepon malam tadi, bahkan terdengar suara Vanya yang bergetar.
Ninda bisa menebak jika Vanya sedang menangis kencang.
Sementara Ninda hanya mendengarkan apapun curhatan hati Vanya, sebagai seorang sahabat pastinya ingin membuat perasaan Vanya menjadi lebih baik.
__ADS_1
"Tapi, tadi malam aku bisa menghubungi Vanya, Om?"
"Iya, tidak dengan pagi ini."
"Apa iya?" Ninda pun mengambil ponselnya dari saku celananya, kemudian mencoba untuk menghubungi Vanya.
Tetapi, tidak bisa.
"Nggak bisa Om," Ninda juga bingung mengapa Vanya mendadak tidak bisa dihubungi.
"Rp100.000.000.00."
"Apa?" Ninda terkejut mendengar nominal yang disebutkan oleh Riki.
Nominal yang tidak sedikit bagi Ninda yang terlahir dari kalangan biasa tentulah itu sangat banyak sekali.
Tetapi pertanyaannya apakah benar Riki akan memberikannya uang sebanyak itu?
Tidak tahu pasti, tapi saat mendengarnya saja Ninda sudah hampir lupa caranya untuk bernapas seperti semula.
"Saya tidak main-main," Riki pun langsung meminta nomor rekening Ninda, kemudian mentransfer uang sesuai dengan apa yang dia katakan olehnya barusan.
Tidak ada main-main apa lagi menyangkut Vanya, apapun akan dilakukan oleh Riki jika sudah menyangkut tentang Vanya.
Sementara Ninda benar-benar shock melihat nominal yang cukup fantastis tersebut, bahkan kedua bola matanya masih saja membulat sempurna.
Berulang kali Ninda menggosok matanya, menghitung berapa jumlah angka o yang berurutan setelah angka 1 di depannya.
"Om? Ini serius? Nggak kebayakan Om? Om, nggak nyesel?"
"Cepat!"
"I... iya, baik Om. Lagi pula Vanya juga sayang sama Om, jadi beres," Ninda segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Riki.
Tidak sulit untuk memasuki kediaman keluarga Vanya, selain karena Bik Ina adalah Ibunya semua pekerja di sana pun sudah mengenali dirinya.
Hingga akhirnya Ninda pun menuju kamar Vanya, tetapi malah melihat ada Nayla di sana yang sedang menangis.
Ninda hanya diam mematung di depan pintu, menyaksikan sebuah kesedihan yang sedang tampak di depan sana melalui pintu kamar yang setengah terbuka.
Apakah Ninda tidak sopan mendengarkan pembicaraan majikannya, tapi saat ini bahkan untuk mundur saja Ninda lupa caranya bagaimana.
__ADS_1