
"Kamu serius mau batalin pernikahan itu?"
"Aku sangat serius," Rena pun mengangguk dengan pasti, dirinya tidak ingin menjadi penghalang antara Cahaya dan Felix. Jika pun membenci Felix tidak selayaknya Cahaya juga mendapatkan hukuman.
"Tapi undangan pernikahan mu dan Felix sudah disebar," kata Adnan lagi.
"Tidak masalah, aku tidak mau kisah Bunda Nayla terulang kembali berganti dengan versi cerita kita di masa kini," kata Rena lagi dengan yakin.
"Apa kau tidak malu batal menikah?"
"Ya udah, kamu aja yang nikahin aku. Biar aku nggak malu!" Kata Rena dengan asal.
Degh!
Adnan mendadak diam saat mendengar peryataan Rena.
"Aku hanya bercanda, aku tahu kamu pun sudah mencintai wanita lain. Tenang, aku tidak akan mau menjadi orang ketiga," kata Rena.
###########
Kini keduanya sudah sampai di rumah Adnan, sesuai dengan keinginan Rena yang ingin menemui Devan dan juga Nayla. Dengan cepat Rena pun turun dari mobil, kemudian berlari masuk ke dalam rumah tanpa ijin sekalipun.
Bruk!
Rena menabrak Felix tanpa sengaja yang juga sedang berada di ambang pintu.
"Felix aku mau bicara," kata Rena.
Felix tidak perduli sama sekali, sampai akhirnya Adnan pun muncul dan membantu Rena untuk berdiri.
"Apa kau tuli?" Tanya Adnan.
"Kalau kau mencintai dia nikahi segera. Agar tidak ada penghalang di antara hubungan ku dan Cahaya!" Papar Felix.
Degh!
Jantung Adnan terpacu saat mendengar sebuah ucapan yang memang benar adanya, entah dari mana Felix tahu jika dirinya sangat tertarik pada Rena. Namun, ada yang lebih menyulitkan, Rena mendengar dengan jelas.
"Felix, aku ingin bicara! Tidak usah mengarang cerita!" Rena pun menimpali dengan cepat, tidak ingin melihat Adnan tersudutkan. Lagi pula Rena merasa yang di katakan Felix hanyalah sebuah omong kosong.
Felix pun tersenyum miring, setelah itu menarik Rena menuju kamar Adnan. Memperlihatkan gambar wajah Rena yang begitu banyak terpampang di sana.
__ADS_1
"Apa lagi yang ingin kau katakan?" Felix tersenyum miring setelah membuktikan apa yang dikatakan barusan bukanlah sebuah karangan semata.
Adnan pun menyusul dan ingin membuat Rena tidak melihat semuanya, sayangnya Felix lebih cepat hingga Rena melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Sejenak semuanya terdiam, tapi sesaat kemudian Rena malah tertawa terbahak-bahak.
"Ahahahha........." Tawa Rena menggelegar seketika itu juga tanpa bisa di tahan sama sekali.
Adnan dan Felix kebingungan melihat Rena, bahkan keduanya mendadak merasa horor. Mungkin juga Rena sedang sakit jiwa.
"Apa wanita ini gila?" Tanya Felix merasa horor.
"Mungkin, karena terlalu banyak teror dari mu!" Ujar Adnan.
Rena pun mendengar apa yang di katakan oleh Adnan, seketika itu langsung menghentikan tawanya. Beralih menatap Felix dengan tajam.
"Apa?" Pekik Rena.
"Jadi, kamu yang meneror aku?" Wajah Rena mendadak memerah penuh kemarahan, ternyata selama ini yang membuat hidupnya tidak tenang adalah Felix.
"Itu karena kau memaksa untuk tetap menikah dengan ku!" Felix pun tidak mau mengalah, sehingga menjawab setiap kata yang di ucapkan oleh Rena.
"Ada apa ini?" Nayla pun muncul saat mendengar keributan dari arah kamar Adnan, kemudian melihat Rena dengan daster di tubuhnya. Rena memang masih memakai daster.
"Rena, kamu juga di sini?"
"Bunda, Felix selama ini meneror aku! Kelinci aku di bunuh juga!"
"Felix?" Nayla menatap putra sulungnya dengan penuh tanya.
"Iya, karena dia yang tetap keras kepala untuk menikah!" Kata Felix membela dirinya.
Nayla pun kini beralih menatap Rena.
"Memang kalian harus menikah!" Kata Nayla.
"Bunda, aku boleh bicara nggak?"
"Boleh."
"Aku mau Bunda, minta Abi, Umi juga segera pulang. Dan, Om Devan juga. Aku mau ngomong serius."
__ADS_1
##########2
Setelah mengumpulkan semua anggota keluarga, kini mereka semua duduk di ruang keluarga. Menunggu apa yang akan di katakan oleh Rena.
Rena pun mengatakan kejadian sebenarnya, sekaligus ingin membatalkan pernikahannya dengan Felix.
Felix tersenyum bahagia karena Rena akhirnya membatalkan pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.
"Tidak bisa," kata Nayla. Hingga semuanya menegang dan beralih menatapnya.
"Undangan sudah disebar persiapan pun sudah delapan puluh persen," lanjut Nayla.
"Aku nggak mau, Aya aja gantinya. Kan Aya sama Felix saling cinta," Rena pun memberikan saran.
Devan dan Nayla saling menatap, kemudian Nanda pun demikian dengan Reyna.
"Devan, aku rasa tidak ada salahnya untuk membatalkan pernikahan ini. Lagi pula aku takut nantinya akan ada perceraian dan akhirnya persahabatan kita akan terpecah belah," kata Nanda memberikan saran.
"Apa kamu tidak keberatan pernikahan ini dibatalkan?"
"Tidak, aku pun tidak merasa kesal, apa lagi sakit hati. Aku hanya takut nantinya rumah tangga yang mereka jalani hancur juga, jika dari awal menikah dengan cara paksa, aku percaya pada putri ku, dia pasti mengatakan yang sejujurnya," kata Nanda.
"Baiklah, jika keputusannya memang begitu. Aku ikut saja," Devan pun menyetujui kesepakatan bersama.
"Ingat Felix pernikahan ini tetap berlanjut. Temui Cahaya, tanya apakah dia mau menikah dengan mu. Jika tidak, kalian berdua akan tetap menikah!" Kata Nayla memberikan ancaman.
"Ya Bunda, Cahaya pasti mau menikah dengan ku." Felix pun tersenyum dan menatap Rena.
"Rena, aku minta maaf atas kata-kata ku yang menyakiti hati mu, aku akan belajar lebih bijak dalam memilih ucapan. Dan sekali lagi terima kasih banyak." kata Felix penuh haru.
"Andai kau begini dari awal, sudah pasti aku tidak akan keras kepala untuk tetap menikah dengan mu," kata Rena.
"Sekali lagi aku minta maaf," Felix pun memeluk Rena.
Merasa bersalah atas apa yang pernah di ucapkannya pada Rena, kini dirinya menganggap Rena layaknya Vanya yang adalah adik kandung nya sendiri.
"Temui Cahaya, kalian akan segera menikah," kata Rena.
"Pasti," Felix pun dengan cepat berlari menuju mobil, sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Cahaya dan mengatakan pernikahan mereka akan segera berlangsung.
Felix benar-benar tidak menyangka akan segera memiliki Cahaya dengan sepenuhnya.
__ADS_1