
"Om, marah?" Tanya Vanya dengan hati-hati, melihat raut wajah Riki yang menegang sempurna.
"Aku tersenyum!"
"Senyum begini Om," Vanya pun mendekati Riki, kemudian kakinya berjinjit dan tangannya menarik masing-masing sudut bibir Riki.
"Mmmmfffffpp," Sela menahan tawa karena melihat tingkah laku Vanya.
Sedangkan Riki sedang berusaha untuk tidak marah, walaupun sebenarnya ingin mencekik bocah kurang ajar yang ada dihadapannya itu.
Beruntung ada Sela, hingga Riki benar-benar menahan dirinya.
"Aku buatin kopinya ya Om, nggak boleh marah-marah nanti cepat tua," tambah Vanya lagi penuh rasa percaya diri.
Sela benar-benar tidak bisa lagi untuk menahan tawanya, karena ulah wanita aneh yang dibawa oleh Riki sendiri ke dalam rumahnya.
Tetapi percayalah, hari ini saja Sela sudah bisa tertawa. Sebab, selama dirinya dinyatakan menderita kanker payudara saat itu juga tak ada tawa di dalam rumah tersebut, di tambah lagi dengan Riki yang terus terpuruk karena dikhianati oleh istrinya dan sahabatnya sendiri.
Dengan perlahan Riki pun duduk di kursi meja makan, diam di sana dengan sejuta kekesalan karena ulah Vanya.
__ADS_1
Sesaat kemudian Riki pun mengeluarkan tab dari balik saku jasnya, dan memeriksa beberapa pekerjaan.
Sedangkan Vanya sedang dalam misi barunya, yaitu membuat kopi.
Dan saat ini dirinya sedang mencari tutorial cara membuat kopi di salah satu situs online, setelah mendapatkan video tutorial cara membuat kopi kini waktu untuk mempraktikkannya.
Hingga akhirnya Vanya pun berhasil, membuatnya tersenyum puas.
Nanti juga kalau memasak akan melakukan hal sama, yaitu mencari kembali tutorial video masakan sesuai yang di inginkan oleh Sela.
Semuanya begitu mudah, tidak ada yang sulit jika sudah di tangannya.
Kini Vanya sudah percaya diri, karena bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan keluarga seperti sebelumnya.
Perlahan meletakan pada meja, senyum penuh percaya diri pun masih saja menghiasi bibirnya.
Bayangkan saja itu adalah kopi perdana buatan seorang Vanya dan langsung di suguhkan pada Riki.
Dari pada banyak berbicara dengan Vanya lebih baik langsung menyeruput kopi tersebut pikir Riki.
__ADS_1
Sedangkan Vanya masih diam saja di tempatnya, karena menantikan kalimat pujian setelah Riki nantinya mencicipi kopi buatannya dengan rasa penuh percaya diri.
"Kenapa masih di sini?" Riki malah kesal melihat bocah ingusan yang malah cengar-cengir di hadapannya.
Di mata Riki lebih terlihat seperti pengemis yang meminta receh.
"Nggak apa-apa, aku cuma mau dengar komentar Om aja," Vanya pun tak ingin lebih lama dihadapan Riki, selain ingin melihat ekspresi wajah Riki setelah mencicipi kopi ternikmat di dunia ini dan kopi itu tentunya adalah kopi buatannya itu.
Lagi pula setelah itu Vanya pun ingin menyombongkan dirinya.
Menyombongkan pada Riki bahwa tangan mulusnya sangat pintar dalam menyeduhkan kopi.
Setelah itu Vanya pun akan memasak, saat di cicipi lagi makanan nya pun akan kembali membungkam mulut Riki.
Vanya tersenyum samar penuh kebahagiaan dan siap menantikan detik-detik kebanggaannya tersebut.
Lagi-lagi rasa percaya dirinya semakin menjadi-jadi.
Namun saat belum juga Vanya menyelesaikan lamunan indahnya tiba-tiba saja Riki menyemburkan kopi sampai mengenai wajah Vanya.
__ADS_1
Vanya seakan mendadak menjadi seekor banteng, wajah memerah, telinga mengeluarkan asap dan juga tanduk besarnya.
"Om!" Pekik Vanya penuh kekesalan.