Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Sana jauh-jauh!


__ADS_3

Terus saja mengompres lehernya yang terkena gigitan nyamuk nakal, entah mengapa selalu saja dirinya menjadi korban dari kejailan seorang Felix. Sambil berdiri di depan cermin untuk melihat benda merah keunguan di lehernya, tangannya yang memegang kain pun terus berusaha bergerak agar bekas tersebut segera menghilang. Apa kata dunia jika ada yang melihatnya, terutama Jessica.


Oh tidak. Mom nya itu pasti akan sangat marah jika saja melihatnya.


"Apa maunya coba? Kenapa dia selalu saja semena-mena pada ku. Aku ini juga manusia, sejak dulu sampai sekarang selalu saja aku di lecehkan oleh pria gila itu! Kenapa?" Mulut Cahaya terus saja menggerutu kesal, sambil memandangi diri di balik pantulan cermin yang lebar di hadapannya.


Lagi-lagi Cahaya mendesus, otaknya terus saja mencari jawaban atas Felix yang sangat suka mengganggunya. Sehingga selalu saja Cahaya berusaha menghindari untuk bertemu Felix. Namun, anehnya selalu saja bertemu walau sudah menghindar, tidak tahu mengapa begitu.


"Kalau sampai benda ini tidak hilang dan Mom melihatnya?" Cahaya pun bergidik ngeri membayangkan wajah marah Jessica yang akan memarahinya habis-habisan, atau bisa saja memintanya menikah saat itu juga karena di anggap sudah melakukan apa yang seharusnya belum boleh di lakukan.


Tidak, Cahaya tidak liar. Dirinya terus berusaha menjadi wanita baik. Itu yang di inginkan kedua orang tuanya.


"Aku benar-benar pusing," Cahaya terus saja menekan kain dengan air hangat pada tengkuknya agar benda aneh itu segera hilang.


Sampai akhirnya mata Cahaya melihat ada seseorang dari pantulan cermin, Cahaya pun melebarkan matanya agar menatap wajah tersebut dengan jelas.


"Tidak mungkin sepertinya aku terlalu trauma dengan manusia itu. Sampai-sampai wajahnya ada di cermin begini," kata Cahaya mengomel sendiri.


Tapi anehnya wajah pria itu tampak tenang saja memantul di cermin, kedua tangannya di lipat di dada dan tersenyum padanya.


Cahaya pun mulai penasaran kemudian melirik ke belakang, tapi tidak melihat siapapun.


Wajar, Cahaya tidak melihat siapapun. Karena matanya tertutup rapat saat berbalik sejenak ke belakang. Membuat seseorang di sana tersenyum karena kelucuan Cahaya. Sejak dulu sampai kini Cahaya memang sangat menggemaskan di matanya.

__ADS_1


"Huff. Tidak ada siapapun" kata Cahaya sambil membuka matanya perlahan.


Mengembalikan tatapan ke depan. Felix menggelengkan kepalanya karena merasa Cahaya semakin membuatnya merasa nyaman.


Kemudian Cahaya kembali melihat cermin di hadapannya, ingin kembali memulai mengompres tengkuknya. Tapi lagi-lagi ada Felix di sana. Cahaya pun kesal dan akhirnya menyiramkan air hangat pada wadah ke cermin.


"Mampus kamu di situ!" Umpat Cahaya.


"Kenapa masih ada?" Cahaya pun mengambil handuk basah yang sebelumnya di gunakan untuk mengompres tengkuknya dan membersihkan cermin karena ada wajah Felix di sana. Tapi tidak bisa, sejenak Cahaya terdiam sambil terus menatap wajah pria aneh itu pada cermin. Kemudian tiba-tiba saja pantulan Felix tersenyum padanya.


"Ha?" Cahaya terkejut bukan main, tapi apa mungkin benar adanya Felix di sana. Tapi tadi tidak ada saat dia berbalik. Tapi wajar juga karena tubuhnya berputar tapi matanya terpejam. Sebab, takut mendapati Felix benar adanya di dalam kamarnya.


"Tapi tidak mungkin!" Dengan menguatkan hati Cahaya pun berbalik ingin memastikan apakah benar adanya Felix di sana.


"Ya ampun," Cahaya pun merasa tercekik karena kehilangan udara ternyata benar ada Felix.


"Kenapa kau ada di rumah ku? Bahkan di kamar ku!" Napas Cahaya begitu berat seiring dengan kekesalannya pada Felix.


Felix pun tersenyum dengan cepat tangannya menarik Cahaya. Sejenak Cahaya terdiam karena bingung mengapa bisa Felix berada di kamarnya.


"Apa yang kau lakukan, gila?" Cahaya tersentak saat Felix menariknya begitu cepat.


Tubuh Cahaya bersandar di dinding dengan Felix yang menghimpitnya, sehingga tidak bisa berpindah dari bawah kungkungan Felix.

__ADS_1


"Gila, apa yang mau kau lakukan?" Cahaya semakin panik saja berusaha untuk melepaskan diri nya tapi tetap saja tidak bisa.


Felix hanya diam sambil terus menatap wajah Cahaya dengan bibir komat-kamit. Sampai akhirnya dengan perlahan Felix mencium bibir Cahaya. Cahaya terkejut hingga menggigit bibir Felix sekuatnya agar dirinya terlepas. Benar saja Felix pun menghentikan aksinya hanya saja tidak untuk melepaskan Cahaya.


"Kau sudah gila ya?" Cahaya benar-benar di buat geram, dirinya yang biasanya lebih memilih diam kini memilih mengeluarkan suara karena terlalu kesal pada Felix bahkan apa yang di lakukan oleh lelaki gila itu sudah sangat melewati batas.


Felix tersenyum, tapi apa yang bisa di katakannya. Dirinya sangat merindukan Cahaya. Cukup lama hanya melihat Cahaya melalui ponselnya, sebab seseorang yang di perintahkan untuk mengawasi setiap gerak-gerik Cahaya selama dirinya masih harus berada di Amerika. Hingga semua kerinduan itu ingin di lepaskan begitu kembali ke Negerinya ini.


"Apa kau tidak merindukan ku?" Tanya Felix.


Cahaya terkejut mendengar pertanyaan Felix, sungguh aneh tapi itu adanya.


"Sejak kapan kamu ada dalam pikiran ku, sampai-sampai aku merindukan mu?" Ejek Cahaya.


Felix pun merasa lucu dengan jawaban Cahaya.


"Lagian juga kamu mau menikah dengan Rena!" Cahaya pun mengingatkan akan status Felix saat ini. Tidak lain adalah calon suami dari Rena.


"Bagaimana kalau kita saja yang menikah?" Tawar Felix.


"Ahahahha," Cahaya tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Felix.


Felix mengerutkan keningnya melihat ekspresi wajah Cahaya saat mendengar penawarannya.

__ADS_1


"Ada yang lucu?" Felix pun semakin menghimpit tubuh Cahaya.


"Ish! Sana jauh-jauh!" Seru Cahaya.


__ADS_2