Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Menjijikan sekali.


__ADS_3

Tap tap tap.


Terdengar suara langkah kaki yang kian semakin mendekati, membuat Riki dan Vanya pun terdiam dan mendengarkan suara langkah kaki tersebut dengan semakin jelas.


"Mas?" Vanya pun panik.


"Lari!" Riki juga malah ikut panik, kemudian menarik Vanya untuk pergi secepat mungkin dari sana.


Kemudian keduanya bersembunyi di bawah jendela.


Matanya mengintip sesekali dari celah yang ada, keduanya tepat seperti maling yang akan ketahuan saat sedang beraksi mencuri sesuatu benda berharga.


Hingga akhirnya Riki pun mengingat sesuatu dan membuatnya merasa aneh.


"Sayang..."


"Sssstttt!" Vanya langsung menutup mulut Riki dengan telapak tangannya, karena tidak ingin ketahuan oleh Felix yang kini sedang berada di dapur.


Entah apa yang dilakukan oleh Felix hingga mendadak menuju dapur, sepertinya dirinya tahu jika Vanya dan Riki ada di sana.


Jarang-jarang Felix mau menuju dapur, kecuali ada Cahaya di sana.


"Sayang."


"Diam dulu!" Lagi-lagi Vanya tidak ingin Riki bersuara, dengan alasan tidak ingin ada yang tahu kalau Riki berada di dalam rumah.


"Sayang, Ayah dan semua keluarga mu sudah merestui hubungan kita!" Kata Riki dengan cepat agar Vanya sadar.


Mengingatkan akan hubungan mereka yang sudah mendapatkan restu, lantas mengapa harus bersembunyi lagi.


Benar saja, Vanya langsung saja tersadar dari keanehannya.


Mengapa bisa dirinya lupa akan hal tersebut, ah. Ini salah Riki yang sudah membuat gombalan receh dan membuatnya menjadi aneh.


Benar-benar sesuatu yang gila setelah menyadari kebodohannya.


"Kalian ngapain di sini?"


Glek!


Riki dan Vanya pun seketika menyadari ada orang yang memergoki mereka di sana.


"Kalian sedang mesum di sini!" Tebak Felix dengan wajahnya yang menahan emosi.


"Apa!" Pekik Vanya tanpa sadar, kemudian menutup mulutnya sendiri karena panik bukan main.


Felix pun melihat keduanya yang sedang berpegang tangan, kemudian keduanya pun mendadak bangkit.


Hingga kepala keduanya terbentur pada jendela yang terbuka dengan lebarnya.

__ADS_1


"Aduh!" Vanya pun menggosok kepalanya, begitu juga dengan Riki.


Hanya bisa menggosok kepala masing-masing sebab takut pada Felix yang malah murka.


"Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada!" kata Felix menatap Riki dengan tajam.


"Kak, aku sama Mas Riki nggak ngapa-ngapain," jelas Vanya dengan cepat agar tidak sampai Felix berpikir hal negatif tentang mereka berdua.


Sebab memang semuanya tidak seperti apa yang dipikirkan oleh Felix.


Lantas apakah Felix percaya? Tentu saja tidak semudah itu.


"Lalu, untuk apa kalian berdua di sini?"


"Tadi itu, anu," Vanya tidak tahu cara menjelaskannya, sebab tidak ingin Felix lebih murka nantinya.


"Felix..." Riki pun mendadak terdiam saat tatapan mata Felix begitu tajam ke arahnya.


Kurang ajar, mengapa mendadak Riki menjadi tunduk. Bahkan terkesan segan pada seorang Felix, ini adalah sesuatu yang sangat menyulitkan sekali.


"Kalau mau mesum di kamar!" Ujar Felix.


"Emang boleh Kak?" Tanya Vanya penuh rasa penasaran.


Namun, di jawab dengan tatapan tajam oleh Felix.


"Kakak Felix....." Riki pun menutup matanya sejenak karena merasa geli, bayangkan saja kini harus memanggil Felix dengan sebutan Kakak.


"Jangan sampai kau kehilangan restu" Tegas Felix.


"Nggak, kami tidak melakukan apapun. Hanya tadi kami sedang labil saja dan bersembunyi," jelas Riki.


Lupakan masalah harga diri, asalkan karyawannya tidak ada yang tahu tentang dirinya yang kini menjadi tidak memiliki harga diri dengan mudahnya, demi apa? Demi cinta.


"Vanya, apa benar?" Tanya Felix yang ingin bertanya pada adiknya, sebab biasanya Vanya akan menjawab dengan sejujurnya jika sedang merasa terancam.


"Iya Kak, aku sama Mas Riki nggak ngapa-ngapain. Serius."


"Mas? Menjijikan sekali!" Kata Felix.


Sementara Vanya hanya tersenyum kecut, dirinya juga sebenarnya geli dengan panggilan itu. Tetapi bagaimana lagi ini demi ayang.


Ayang Riki yang sangat suka di panggil Mas, ah Vanya. Hanya bisa menurut demi cinta.


Sementara Riki hanya meneguk saliva seakan menjadi bahan tertawaan bagi Felix.


"Kamu ke kamar sekarang!" Titah Felix tanpa ingin dibantah sama sekali.


"Iya Kak," Vanya pun menurut saja.

__ADS_1


Namun tidak disangka Riki juga mengikuti langkah kaki Vanya.


"Kau mau ke mana?" Tanya Felix.


Riki pun terpaksa menghentikan langkah kakinya, sementara Vanya sudah pergi menuju kamarnya.


"Mau ke kamar juga," jawab Riki.


"Kurang ajar!" Felix pun menendang kaki Riki hingga meringis.


"Aduh."


"Kalian belum menikah goblok!"


"Oh iya, lupa!" Riki pun merasa malu, sambil menggaruk kepalanya.


Tidak lupa juga rasa sakit yang cukup terasa akibat tendangan barusan.


"Dasar gila! Jangan macam-macam pada adik ku!"


"Nggak, tadi aku hanya lupa. Kenapa bisa lupa," Riki mendadak kebingungan dan tidak tahu harus mengatakan apa.


Sementara Felix hanya menatapnya dengan tajam.


"Makanya nikahin aja kami sore ini, jadi bisa ke kamar bersama," Riki pun tersenyum memberikan sebuah penawaran pada Felix.


"Kau tahu ini apa?" Felix pun mengepalkan tangannya, jika saja masih melanjutkan apa yang dikatakannya maka, yakin saja itu bisa membuat hidung Riki menjadi bengkak.


"Hehe," Riki pun mengangkat tangannya, berusaha untuk melindungi wajahnya.


"Jangan rusak wajah ku yang tampan ini, kalau aku jelek kau juga yang malu,"


"Maksud mu!"


"Kau mau punya adik ipar jelek?"


"Dasar gila!"


"Hehe, sedikit. Itu karena tergila-gila pada adikmu," jawab Riki dengan senyuman.


"Sudahlah, cepat makan siang!"


"Wah, Kakak ipar sangat perhatian," celetuk Riki.


"Kau bisa diam tidak!"


"Hehe, ampun Kakak ipar."


"Menjijikan sekali!"

__ADS_1


__ADS_2