Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Tidak selamanya kebahagiaan bisa di tukar dengan uang!


__ADS_3

Nayla pun membuang pandangannya ke arah lain, tahu perasaan Jessica saat ini seperti apa. Namun, mungkinkah sanggup untuk membiarkan Jessica dalam derita? Bukankah ini adalah derita di atas harapan bahagia ingin melahirkan anak keduanya.


"Nayla," suara lemah Jessica seakan menggoyahkan hati, di satu sisi dirinya ingin menuruti keinginan tersebut. Di sisi lainnya juga pasti akan merasa bersalah jika ternyata Jessica dalam masalah besar.


"Kamu ingin aku menjadi wanita jahat?"


"Aku tidak menginginkan itu, aku hanya ingin kamu mengerti perasaan ku sebagai seorang istri dan seorang ibu."


"Aku tidak bisa Jessica, keselamatan mu jauh di atas segala nya."


"Nayla," Jessica pun bangkit dari duduknya dan segera berjalan mendekati mantan madunya itu, pandangan sayu dengan mata yang terus menitihkan air mata.


"Harus kah aku bersimpuh agar kamu mengerti tentang aku?"


Nayla pun mencoba menatap wajah Jessica, hati seakan belum bisa menerima penawaran tersebut. Tetapi, wajah Jessica terus memohon padanya hingga membuatnya luluh.


"Baiklah, tapi aku tidak berjanji sampai kapan."


"Terima kasih," Jessica tersenyum dan merasa lebih lega, memeluk Nayla yang kini tengah menahan tangis. Sampai akhirnya tangis Nayla benar-benar pecah setelah Jessica memeluknya.


"Aku akan menjadi wanita paling bersalah jika ternyata hal buruk itu benar menimpa mu," tutur Nayla dengan suara bergetar.


"Aku yakin, akan ada jalan yang terbaik untuk ku," Jessica lagi-lagi berusaha meyakinkan bahwa dirinya akan baik- baik saja. Walaupun sejujurnya, rasa takut jelas ada. Namun, meyakinkan lebih baik.


Nayla pun mengangguk lemah, satu butir air matanya menetes begitu saja.


"Akulah orang paling bersalah jika kamu kenapa-kenapa," papar Nayla lagi.

__ADS_1


"Aku akan baik-baik saja, ingat dulu kamu pun pernah berusaha mempertahankan Felix? Apa belum juga percaya akan keajaiban?"


Nayla lagi-lagi mengangguk, jika memang itu adalah keinginan Jessica rasanya sulit untuk menolak.


Wanita baik itu sudah seperti saudaranya sendiri, rela memberikan suaminya tanpa rasa dendam di hati. Alex adalah lelaki beruntung bisa memiliki wanita sebaik Jessica, selembut dan seindah mutiara. Nayla sendiri mengagumi itu. Jessica pun segera mengusap air mata, memakai make up kembali. Menutupi wajah pucatnya. Pada dasarnya Jessica adalah wanita modis yang pintar dalam berdandan.


"Jangan lupa tebus resep yang ku berikan di apotik, jika ada keluhan segera hubungi aku," kata Devan.


"Jangan sungkan ya, aku nggak masalah kok kalian tetap sahabatan," Nayla pun meyakinkan bahwa tidak ada masalah sama sekali, jika pun Devan dan Jessica bertemu tanpa dirinya.


Nayla sudah yakin pada Devan yang begitu mencintainya, yang ada Devan sendiri yang tidak mau pergi bertemu Jessica tanpa dirinya.


"Makasih ya, aku beruntung banget bisa dapat sahabat seperti kalian berdua," Jessica tersenyum, kemudian keluar dari ruangan Devan.


"Jessica?" Alex yang melewati ruangan Devan malah tanpa sengaja bertemu dengan Jessica.


Jessica pun sedikit tersentak, baiklah. Menetralkan diri lalu memasang senyuman manis adalah jalan terbaik.


Pertama kalinya seorang Jessica yang duluan memeluk sahabat lama yang kini merangkap jadi sahabat hidupnya itu. Alex tentu saja tersenyum bahagia, seketika lupa dengan banyaknya pertanyaan yang sebenarnya ingin ditanyakan olehnya.


"Makan yuk, aku lapar. Kamu, suapin aku tapi," pinta Jessica


Alex pun mengangguk setuju, berjalan beriringan menuju ruangannya dengan Jessica yang masih memeluk perut ratanya.


"Kamu mau makan apa?"


"Aku mau rujak, tapi di suapin kamu ya," pinta Jessica lagi. Alex pun melepaskan pelukan Jessica.

__ADS_1


Jessica pun bingung dan menghentikan langkah kakinya, padahal sudah di depan ruangan Alex. Sedangkan Alex kini berdiri tegak pada daun pintu, kemudian memberikan hormat pada Jessica.


"Siap Tuan putri!" Kata Alex dengan suara lantang


Kemudian menurunkan tangannya.


"Hehe, Jessica sampai tersenyum bahagia, perlakuan sederhana namun khusus itu terasa menenangkan hati.


"Silahkan masuk Tuan putri," Alex pun membukakan pintu, kemudian mempersilahkan Jessica untuk masuk.


"Terima kasih," Jessica tersenyum kemudian masuk.


Setelah itu Alex meminta seorang perawat untuk membelikan rujak, kemudian ikut masuk juga. Saat Jessica akan duduk di sofa, tiba-tiba saja Alex tidak mengijinkannya.


"Tunggu dulu!"


Jessica pun urung untuk duduk, menatap Alex penuh tanya.


Tanpa diduga, Alex pun mengambil beberapa helai tisu dan membersihkan sofa untuk di duduki Jessica.


"Selesai, silahkan Tuan Putri ku," Alex mengulurkan tangannya, membantu Jessica untuk duduk.


"Oh, Terima kasih," Jessica tidak pernah bisa menghilangkan senyum di bibirnya, sehingga dirinya benar-benar lupa akan keadaan yang sedang mengancam nyawanya sendiri. Bahkan Jessica kini semakin kuat dalam keyakinan mempertahankan janinnya, sebab perlakuan manis Alex membuatnya terasa hanyut dalam kebahagiaan yang selama ini belum pernah dirasakannya. Sejatinya tidak selamanya kebahagiaan bisa di tukar dengan dollar maupun rupiah, emas, dan berlian. Akan tetapi, secercah kebahagiaan dengan adanya perhatian juga tentu sangatlah dibutuhkan.


"Sama-sama ratu ku, mulai saat ini aku akan memanggil mu ratu. Ratu dari segala ratu, ratu yang bertahta di hati ku," ujar Alex dengan bangga.


"Ahahahhaha," Jessica malah tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan Alex barusan, mendadak dirinya mengingat saat-saat mereka masih duduk di bangku SMA.

__ADS_1


"Kenapa tertawa?" Alex yang merasa bingung pun bertanya.


"Aku nggak tahu, tapi dulu kamu manggil aku monyet kan?" Tanya Jessica lagi, sambil terus tertawa tanpa hentinya.


__ADS_2