
Riki menuruni anak tangga, lengkap dengan pakaian kantornya karena hari ini ada rapat yang begitu penting.
Sesampainya di meja makan ternyata semua sudah berada di sana. Tak terkecuali Vanya yang ternyata sudah sampai lebih awal dari biasanya.
"Hay Om," sapa Vanya dengan suara nyaring nya.
Sedangkan Riki hanya diam saja bahkan tak merespon sama sekali. Memilih untuk duduk di kursi meja makan dan memulai sarapan pagi lebih baik setelah itu harus segera berangkat ke kantor.
Banyak hal yang jauh lebih penting yang harus dilakukan oleh Riki. Dari pada hal lainnya termasuk Vanya.
"Om, kartu kreditnya kapan aku balikin? aku belum sempat balikin? aku belum sempat menggunakannya karena hari ini aku sama Tante Sela ke sekolah," kata Vanya.
Sela terkejut mendengarnya bahkan sampai kartu kredit milik Riki saja ada pada Vanya.
"Terserah pada mu saja!" Kata Riki, tidak mempermasalahkan sama sekali.
Vanya pun mangguk-mangguk seperti anak kecil tapi paling tidak dirinya masih memiliki waktu untuk berbelanja menggunakan kartu ajaib tersebut. Bagaimana tidak ajaib hanya dengan sebuah benda kecil dirinya bisa berbelanja bebas. Tanpa perlu uang, tidak masalahkan Vanya sedikit di anggap bodoh. Karena saat ini Vanya hanya sedang menikmati dirinya yang menjadi seorang dari kalangan bawah.
"Ayo kita berangkat."
"Ayo, aku bantu ya, Tante?!!
"Iya, sayang."
Vanya pun mendorong kursi roda Sela menuju mobil, setelah itu membantu untuk masuk ke dalam mobil dengan perlahan pula.
Hari ini yang mengantarkan mereka adalah Andika sendiri. Hingga Vanya duduk di jok belakang sendirian, lain hal jika bersama Riki. Dirinya yang duduk di depan dan Sela yang duduk sendirian di belakang.
"Vanya, kamu diberikan kartu kredit oleh Riki?" Sela tak bisa menahan rasa penasaran jika sebelum bertanya secara langsung maka dirinya akan terus dihantui rasa penasaran.
"Iya, Tante," Vanya pun menjawabnya dengan sebenarnya karena dirinya tak suka berbohong.
Andai Sela minta di kembalikan saat ini juga, maka dengan tidak ada rasa keberatan sama sekali Vanya langsung mengembalikan pada Sela detik ini juga. Karena Vanya tahu, itu bukanlah miliknya. Kemudian tidak ada haknya sama sekali.
"Kapan?"
"Kemarin Tante, jadi Om Riki datang ke rumah aku. Terus ngajak nemenin makan, aku nolak soalnya capek. Tapi Om Riki nawarin kartu kredit aku mau dong mana mungkin nolak, Tante mau ambil? Ada, ini dia," cepat-cepat Vanya mengambil dari dalam tasnya kemudian memberikan pada Sela.
Sela tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.
"Itu urusan kamu dengan Riki, ambil saja. Maaf, kalau omongan Tante menyinggung kamu"
"Nggak kok, Tan. Kan, memang bukan punya kau. Tapi, kalau di kasih juga namanya rezeki. Dan kalau nolak nggak boleh. Ya kan Tante? Tidak baik menolak rezeki," Tanya Vanya dengan sedikit cekikikan.
"Iya," Sela mengangguk sambil tertawa kecil, karena apa yang di katakan oleh Vanya memang sangat benar. Karena tentunya semua orang akan melakukan hal sama jika berada di posisi Vanya.
"Tante, boleh nanya nggak?"
"Boleh dong Tante, tanya aja. Aku sih nggak suka tersinggung."
Lagi-lagi Sela hanya tersenyum karena jawaban Vanya cukup sederhana tapi juga cukup membuatnya semakin tertarik.
"Kamu suka uang?"
"Iya dong Tan, nggak ada uang aku bisa kelaparan."
"Ahahahhaha," Sela tidak lagi memiliki pertanyaan karena apa yang dijawab oleh Vanya semuanya terbilang cukup benar.
Sejatinya memang semua orang membutuhkan uang? Segalanya membutuhkan uang tanpa terkecuali.
Realistis itu harus bukan?
Ataukah karena Sela sudah sangat menyayangi Vanya, sehingga apapun yang dikatakan oleh Vanya adalah benar.
__ADS_1
Tetapi mungkin sebenarnya wanita yang berbahaya itu adalah wanita yang selalu menolak dan juga merasa uang bukanlah segalanya. Padahal di hatinya berbeda. Bahkan mungkin sangat menginginkan. Tetapi berpura-pura menjadi seorang yang tidak membutuhkan, memainkan peran menjadi baik dengan tujuan materi.
Sela lebih suka wanita seperti Vanya, apa adanya tanpa dibuat-buat sama sekali
"Aku aneh ya, Tante?" Vanya merasa malu karena jawaban anehnya membuat Sela tertawa terbahak-bahak.
"Nggak, tapi kamu benar sekali. Kamu, mengatakan dengan jujur."
Akhirnya setelah beberapa saat diperjalanan kini mereka sampai di sekolah, perjalanan dari rumah menuju sekolah terbilang cepat.
Karena Sela dan Vanya bercerita banyak hal sehingga tidak menyadari bahwa mereka sudah tiba di sekolah.
Sementara itu bagaimana dengan Riki, kepalanya sedikit pusing. Dari tadi dirinya menatap ponselnya, dimana ada wajah Vanya yang sedang terlelap dalam tidurnya.
Sejenak bibir Riki tertarik pada masing-masing sudutnya mengingat betapa lucunya bocah tersebut.
Tidak.
Mungkin juga aneh, tapi juga sedikit menggemaskan hingga Riki terus saja memikirkan bocah bau kencur itu.
Malam tadi tidurnya benar-benar tidak nyaman seperti malam sebelumnya saat dirinya tanpa sengaja tidur di samping Vanya.
Riki benar-benar kebingungan karena ulah gadis kecil yang nakal, tapi malah dirinya sangat menyukai mainannya tersebut.
Menyukai?
Tidak!
Riki hanya sedang tertarik saja pada mainan barunya itu tepatnya setelah bosan maka akan dibuang dengan begitu saja.
Tetapi mendadak Riki malah memikirkan apa yang dikatakan Sela malam tadi, semuanya yang di katakan oleh Mamanya tersebut mendadak terngiang-ngiang di kepala Riki entah apa penyebabnya.
Akhirnya Riki pun memilih untuk menghilangkan Vanya dari pikirannya. Kemudian melanjutkan kembali pekerjaan yang sempat terhenti karena memikirkan Vanya
Suara ketukan pintu pun terdengar, ternyata itu adalah Andre, seorang asisten Riki.
"Bos, waktunya berangkat," kata Andre.
Riki pun mengangguk kemudian segera pergi bersama dengan Andre, ada banyak pekerjaan yang menantinya saat ini.
Sesampainya di luar kota Riki pun menghubungi Sela memberitahukan bahwa dirinya tidak pulang untuk malam ini. Sebab, masih banyak pekerjaan yang menantinya esok hari.
Hari memang masih cukup sore tetapi Riki memiliki kewajiban untuk memberi tahu pada Mamanya yang sedang dalam proses penyembuhan agar tak mengkhawatirkan dirinya.
Hingga Riki memilih untuk melakukan panggilan video agar melihat wajah Mamanya tersebut secara langsung.
"Ma, aku malam ini tidak pulang. Masih harus mengecek proses pembuatan produk terbaru kita," kata Riki dari balik sambungan telepon seluler di mana Riki melihat wajah Sela di sana.
"Begitu, baiklah," jawab Sela.
Hingga sesaat kemudian Vanya pun menampakkan dirinya pada kamera, wajah wanita tersebut terlihat sangat ceria.
"Hay, Om!" Seru Vanya.
Sesaat kemudian tidak lagi terlihat wajah wanita aneh tersebut.
Setelah panggilan terputus tapi tidak dengan pikiran Riki yang masih memikirkan Vanya.
Seharian penuh tak bertemu membuatnya merasa sedikit memiliki keinginan untuk menghubungi Vanya saat ini juga.
Berbicara langsung.
Tapi tidak, Riki mengurungkan keinginannya tersebut. Memilih untuk memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.
__ADS_1
Malam harinya lagi-lagi pikiran Riki hanya tertuju pada seorang Vanya membuat Riki kesal pada dirinya sendiri hingga mengacak rambutnya beberapa kali.
"Mungkinkah Mama benar? Mungkinkah aku sudah tertarik pada bocah ingusan itu?" Riki bertanya-tanya tetapi tak menemukan jawaban apapun.
Tidak mungkin!
Itu tidak mungkin terjadi, sebab jatuh hati itu tidaklah mudah.
Butuh proses panjang jika pun iya, tidak mungkin hanya hitungan hari saja seperti ini.
Tetapi bagaimana cara menghilangkan bayangan wajah Vanya.
"Hay Om!" Sapa Vanya yang mendadak hadir di depan wajahnya.
Riki pun menggosok matanya, tetapi wajah Vanya berubah menjadi Andre.
"Bos? Apa ada yang salah?" Andre kebingungan saat melihat Riki mendadak mengucek matanya saat melihat dirinya.
Padahal sapaannya hanya mengatakan.
"Selamat malam"
Apa lagi barusan dirinya sudah bersuara saat meminta izin masuk ke kamar tersebut.
Memang tidak ada jawaban, lagi pula itu biasa terjadi bukan?
Riki kini berada di hotel miliknya, tempatnya biasa menginap saat sedang berada di kota Surabaya.
"Kau?" Riki malah kebingungan saat melihat wajah Vanya berubah menjadi wajah asistennya.
"Saya Bos,"
"Kenapa kau ada di sini?"
"Saya baru saja masuk memangnya ada apa Bos?"
Yang masuk barusan Andre atau Vanya?
Kalau Vanya kenapa malah yang terlihat kini adalah Andre? Dimana Vanya?
Kurang ajar!
Kenapa bocah itu lancang sekali sudah mengusik pikiran.
Aneh!
Ini sangat aneh.
Riki mendadak menjadi kebingungan karena sebelumnya melihat Vanya tetapi pada akhirnya hanya ada Andre.
"Sudahlah pergi dari sini! Kacau sekali!"
"Tapi, Bos. Saya hanya..." Mendadak Andre tidak melanjutkan apa yang hendak dikatakannya karena mata Riki yang tajam seakan siap untuk mencabik-cabik dirinya meskipun sebenarnya tujuannya ke sana cukup penting.
"Keluar! Saya butuh istirahat!"
Segera Andre keluar dari kamar tersebut, demi menghindar dari amukan Riki.
"Apa ini? Kenapa mendadak aku begini? Kenapa aku? Ada apa?"
Riki pun tidak mengerti ada apa dengan dirinya, ini adalah gila.
Saat wajah Andre saja bisa berubah dimatanya menjadi wajah Vanya.
__ADS_1