Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Terserah pada mu saja!


__ADS_3

Dua hari kemudian keadaan Jessica jauh lebih baik, walaupun masih membutuhkan seseorang untuk menolongnya dalam segala hal. Walaupun begitu Alex selalu ada, siap dalam segala keadaan untuk membantu istrinya.


Jessica tersenyum dengan tubuhnya yang duduk di atas kursi roda, melihat anaknya yang masih berada di dalam inkubator.


"Kasihan sekali dia, padahal belum waktunya untuk lahir. Maaf ya Nak, Mom tidak kuat seperti wanita lain di luar sana," Jessica menitihkan air mata, menatap iba putranya.


Kedua kalinya ini terjadi, apa daya semua harus terjadi, beruntung Cahaya dapat berjuang dan akhirnya bisa melewati masa-masa dimana berusia tujuh bulan tapi sudah harus di keluarkan dari rahimnya. Namun, putranya jauh lebih kasian sebab belum genap tujuh bulan sudah harus di keluarkan dari kandungan nya. Semoga anak-anaknya kelak menjadi anak-anak yang pintar, sukses dalam segala perjuangannya.


"Kamu juga hebat, bahkan mengalahkan mereka diluar sana. Jangan sedih, dia pun pasti mengerti keadaan ini," Alex mengelus kepala Jessica, dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu yang sangat menyayangi anaknya. Walaupun tidak sepenuhnya bisa dirasakan, tetapi saat melihat keadaan Jessica berjuang untuk anaknya semua seakan menjadi pukulan keras, Alex berjanji akan membahagiakan istrinya dengan cara apapun, berjanji tidak akan pernah menyakiti hati istrinya.


"Sekarang kita kembali ke kamar lagi, ya. Kamu harus istirahat."


Alex tidak ingin Jessica kelelahan, sehingga kembali ke kamar adalah pilihan terbaik.


"Alex, kita nggak akan pulang ke rumah sebelum Alvaro di bawa pulang juga kan?" tanya Jessica.


Alex tersenyum sambil mengangguk, tidak masalah jika memang Jessica menginginkan itu. Lagi pula masih membutuhkan waktu untuk di rawat, Jessica belum boleh pulang juga karena keadaannya yang kadang mudah drop.


Keadaan Jessica belum bisa dikatakan baik-baik saja, apa lagi tekanan darah yang tidak stabil membuatnya lebih waspada. Alex memang seorang Dokter, bahkan kehebatannya sudah tidak diragukan lagi. Namun, dirinya akan menjadi lemah jika dihadapkan dengan Jessica yang menjadi pasiennya.


"Tapi kamu harus banyak istirahat, supaya bisa pulang sama-sama dengan Alvaro, kita bisa rawat sama-sama anak kita"


Alex benar-benar memberikan semangat pada Jessica, agar lebih bersemangat untuk kembali pulih. Jessica pun mengangguk mengerti, kini dirinya sudah memiliki dua orang anak. Jadi harus kuat dalam segala keadaan, terutama saat sakit. Harus sembuh secepat mungkin. Kali ini Jessica tahu jika anak adalah obat mujarab untuk segala halnya, semangat untuk kembali pulih dengan alasan demi anak terbilang cukup lumrah terjadi. Akan tetapi itulah keistimewaan menjadi seorang Ibu.


"Alex, tunggu," Jessica pun menghentikan Alex yang ingin mendorong kursi rodanya.


"Kita bicara di kamar saja."


"Tunggu dulu, sebentar saja, aku mau tanya" Jessica tidak ingin Alex mendorong kursi rodanya sebelum menjawab pertanyaannya.


"Ada apa? Ada yang kamu pikirkan lagi."


"Di sini ada banyak bayi," Jessica menunjukkan bayi-bayi lainnya.


"Lalu?" Alex bertanya sambil menunggu pertanyaan yang mengganjal di hati Jessica.


"Apa kamu tidak takut anak kita tertukar dengan anak lainnya?"


Wajah Jessica tampak bingung dengan kecemasan yang juga terasa. Terlalu dramatis mungkin bagi orang lain, namun sepertinya dirinya hanya ingin anaknya saja walaupun anak orang lain terlihat lebih baik.


Alex pun tersenyum mendengar pertanyaan itu, naluri seorang Ibu memang begitu kuat. Kecemasan seorang Ibu tentu begitu berlebihan, dan itupun tentunya hal yang biasa di alami manusia bergelar Ibu.


Seorang Ibu pasti mencemaskan anak-anaknya, begitupun dengan istrinya.


"Tidak mungkin, semua bayi disini sudah diberi tanda. Sudah diberi nama, tidak usah khawatir," Alex pun meyakinkan istrinya, agar tidak perlu khawatir.

__ADS_1


Sebab semua yang dipikirkan oleh Jessica tentunya sudah terpikirkan oleh mereka sebagai anggota medis, mencegah semua itu pun tentunya tanda diberikan pada setiap bayi.


Jessica menatap Alex sejenak, melihat wajah Alex yang tampak yakin dalam berbicara.


Jessica pun mengangguk mengerti, menyadari dirinya yang terlalu berlebihan.


"Ya, tapi kita belum pulang sebelum Alvaro ikut pulang?"


"lya"


Jessica pun setuju, kemudian kembali ke ruangannya.


"Hay, Kakak ipar," Reyna sudah menunggu sejak tadi.


Saat dirinya datang ternyata tidak ada Jessica di kamar rawat, tetapi Reyna tetap memutuskan untuk menunggu.


Jessica pun tersenyum melihat Reyna yang sudah berada di ruangannya itu.


"Kamu sudah lama datang?"


"Lumayan, gimana keadaan kamu?"


"Sudah lebih baik."


Reyna pun mengangguk sebagai jawaban mengerti, dirinya juga ikut bersyukur atas keadaan Jessica yang jauh lebih baik.


"Dasar cerewet!" Kesal Alex mengetahui Reyna mengejek dirinya.


"Hehehe, memang iya!" Reyna pun merasa bahagia saat melihat Alex kesal.


Reyna sudah rindu saat-saat seperti ini, sebab selama Jessica mengandung dan Alex tahu keadaan buruk Jessica, saat itulah semua terasa sepi.


Alex selalu murung dan selalu menolak jika diajak kumpul bersama. Terlalu larut dalam kesedihannya, ketakutannya menghadapi kenyataan ini.


"Kan kamu sayang aku, ya kan? Makanya kamu nangis," kata Jessica sambil melihat Alex.


Alex pun mengangguk setuju.


"Suami mu pernah menangis tidak untuk mu?" Alex menatap Reyna dengan mengejek.


"Tidak?" Tanya Alex meremehkan.


"Rasa sayangnya bisa di pertanyakan!" Imbuh Alex lagi.


Reyna pun menatap Nanda dengan bertanya-tanya, jika dipikir-pikir memang Nanda tidak pernah menangis untuknya.

__ADS_1


"Kamu bohong sayang sama aku!" Kesal Reyna.


"Kenapa?" Nanda tidak mengerti sama sekali.


"Buktinya kamu nggak pernah nangis untuk aku!"


"Buat apa?"


"Nah," Alex pun menimpalinya.


"Buat apa katanya, memang kamu nggak penting. Itu maksudnya!"


Nanda tidak mengerti sama sekali, untuk apa dia harus menangis jika selama ini mereka baik-baik saja dan begitu membahagiakan.


Tetapi tidak dengan Reyna yang sangat mudah dihasut oleh Alex.


"Kamu nggak sayang sama aku!" Reyna pun memukul Nanda dengan tas tangan kesayangan nya, kesal rasanya pada Nanda.


"Reyna, untuk apa aku menangis. Kita bahagia kan?" Tanya Nanda sambil melindungi diri.


Reyna pun terdiam dan menimbang apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Iya juga ya, buat apa?" Reyna mendadak kebingungan dan menggaruk kepalanya.


"Kak Alex kompor!" Kesal Reyna.


"Hehehe," Alex terkekeh geli melihat tingkah adik bungsunya yang sangat manja.


"Nah, kan? Bener aku dikibulin!" Gumam Reyna.


"Abang maaf ya," Reyna pun tersenyum sambil meminta damai dengan Nanda.


Nanda menggeleng dan memilih tidak ingin berdamai.


"Nanda, maaf," Reyna menangkup kedua tangannya, merasa bersalah.


Nanda pun segera keluar dari ruangan itu, Reyna pun bergegas menyusul. Berjalan di belakang tubuh jangkung Nanda, yang sudah berjalan dihadapannya.


"Nanda!"


Nanda pun menghentikan langkah kakinya.


"Kamu itu selalu memarahi ku, bahkan sekarang panggilan mu kembali tidak sopan," geram Nanda.


"Maaf, Abang maaf."

__ADS_1


"Terserah pada mu saja"


__ADS_2