
Setelah Nenek Ratih pergi, Felix pun menghampiri Cahaya. Duduk di samping Cahaya.
"Kok kayaknya cemberut banget?" Felix tentu saja bingung melihat perubahan wajah Cahaya yang mendadak murung.
"Mas, minta nomer ponselnya dong. Besok mau tau jam berapa datang bawa pecel nya," kata wanita tersebut dengan alasan yang mungkin tidak masuk akal.
"Kasih aja tu!" Cahaya pun bangkit dari duduknya, kemudian berjalan pergi.
Felix tidak tahu ada apa dengan Cahaya, hingga dia pun memilih untuk menyusul Cahaya.
Tampaknya sampai di sini kaki Cahaya mulai lelah, hingga duduk di kursi taman.
Felix pun tersenyum dan kembali duduk.
Namun, karena masih kesal Cahaya pun berpindah duduk agar lebih jauh dari Felix.
Felix pun tidak mau kalah, setiap kali Cahaya berpindah maka dia pun akan berpindah untuk duduk lebih dekat.
Sampai akhirnya Cahaya terjatuh karena tidak ada lagi tempat duduk untuknya.
"Ish!" Cahaya kesal dan merasa malu.
Sedangkan Felix tersenyum melihat Cahaya, seketika itu mengulurkan tangannya. Tapi di tepis sebab malah semakin kesal.
Felix pun memutuskan untuk mengangkat Cahaya, kemudian mendudukkan di kursi.
"Kamu gila ya, kita di liatin orang tau!" Omel Cahaya melihat sekitarnya.
"Biarkan saja," Felix tidak perduli sama sekali, yang terpenting saat ini ingin tahu penyebab Cahaya mendadak murung dan kesal padanya.
"Dasar aneh."
"Kamu mau aku cium di sini?" Ancam Felix.
"Jangan gila ya! Lupa perjanjian kita!"
"Perduli setan! Makanya kamu jelasin, kenapa wajahnya masam begitu?"
Cahaya mengerucut bibirnya, melipat kedua tangannya di dada. Ingin mengatakan cemburu tapi gengsi, akhirnya Cahaya memilih diam saja.
Diman pun mendekati Felix kemudian berbisik, sebab dari tadi dirinya terus berdiri di kejauhan dan memantau setiap yang terjadi.
"Dasar Bos, tidak peka!" Umpat Diman.
Felix pun tersenyum, kemudian duduk di samping Cahaya. Sedangkan Cahaya masih melihat arah lainnya, tidak ingin melihat Felix sama sekali.
"Kamu cemburu ya?" Felix menyenggol lengan Cahaya.
Wajah Cahaya pun bersemu merah, malu bukan kepalang saat Felix menggodanya.
"Siapa bilang?"
"Diman!" Jawab Felix santai.
Diman pun mendapatkan tatapan tajam dari Cahaya.
"Diman?" Tanya Cahaya.
"Nggak!" Diman pun menggeleng, sebab takut menjadi sasaran amukan Cahaya.
"Udah, cemburu juga nggak apa-apa. Aku senang kok," goda Felix.
"Apaan sih!" Cahaya malah tersenyum karena Felix terlihat begitu imut.
"Kamu juga kayaknya betah banget di kerumunan perempuan-perempuan tadi."
"Aku jualan sayang, bukan nyari yang baru. Percayalah cuma kamu yang ada di hati aku," Felix pun seakan memberikan ciuman dari jauh pada Cahaya.
__ADS_1
"Kan, kamu genit banget," Cahaya mencubit perut Felix.
Walaupun sebenarnya tak berarti apa-apa bagi Felix, dirinya hanya berpura-pura kesakitan agar Cahaya merasa bangga.
"Aduh."
"Makanya jangan nakal! Kamu tuh punya aku!" Kata Cahaya tanpa sadar, setelah itu menutup mulutnya.
"Ups, keceplosan," Cahaya tersenyum canggung, benar- benar menahan malu.
Rasa bahagia Felix tidak terkira, sebab cintanya yang dulu hanya impian kini menjadi kenyataan.
Nyatanya Cahaya juga mencintainya.
"Beneran aja, soalnya aku sayang kamu. Jadi, kamu milik aku dan aku milik kamu," kata Felix.
"Felix!" Wajah Cahaya benar-benar seperti udang rebus, sekalipun berada di luaran dengan terik matahari sore yang panas tak lantas membuat cinta menjadi kecut. Malahan cinta yang ada juga kian membara, seakan keduanya lupa kini ada orang lain juga di sekitaran mereka.
"Dagangan tadi laku, kamu nggak ingkar janji kan?"
"Nggak dong," Cahaya pun menggeleng.
"Yes?" Felix pun meninju udara seakan begitulah caranya meluapkan rasa bahagianya.
"Felix, aku lapar," Cahaya memegang perutnya, dari tadi mereka tidak ada makan dan minum sama sekali.
"Jangan-jangan kamu hamil," tebak Felix asal dan hanya menggoda Cahaya saja.
"Kamu ya, jangan asal!" Cahaya memukul Felix, dirinya tak mau hamil sebelum menikah. Lagi pula Cahaya tidak bodoh dengan hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun.
"Hehehe, bercanda sayang. Kita cari makan yuk."
"Ya"
"Bos, aku gimana?" Diman yang terlupakan pun bertanya dengan wajah murungnya.
"Ya ampun, ternyata peliharaan ku ketinggalan," kata Felix tersadar.
"Kamu tahu tempat makan pinggir jalan yang enak?"
"Tau Bos" Diman yang sudah terbiasa makan-makanan di pinggir jalan pun menjadi penunjuk jalan, hingga akhirnya kini ketiganya duduk di salah satu warung bakso kaki lima.
Felix dan Cahaya pun duduk, begitu juga dengan Diman.
Setelah makanan sampai Cahaya dan Felix pun makan dengan lahapnya bukan hanya enak tetapi juga keduanya sangat lapar.
"Orang-orang tidak akan percaya kalau mereka ini orang kaya," gumam Diman.
Sampai akhirnya makan pun selesai, kemudian Felix lupa dimana dompetnya.
"Aya, kamu bawa uang?" Tanya Felix.
"Nggak," Cahaya pun menggelengkan kepalanya, tas bersama isinya tertinggal di mobil. Bahkan mobil itu sudah terparkir sangat jauh dari tempat mereka saat ini.
"Ya ampun," Felix pun berlalu menatap Diman yang kini menjadi harapannya.
"Diman, saya pakai uang kamu dulu. Sampai di rumah saya bayar."
"Nggak ada Bos, kan saya pergi tadi mendadak dan tidak membawa apa-apa. Ponsel juga tinggal di rumah," jelas Diman.
"Mas, bayar dong!" Kata sang penjual bakso merasa tidak beres.
Felix pun menggaruk kepalanya, bingung harus mengatakan apa.
Hingga akhirnya Felix dan Cahaya pun harus mencuci piring para pelanggan sampai tempat tersebut tutup.
"Lelah sekali," akhirnya Felix tahu juga rasanya seperti apa mencuci piring belum lagi piring yang mereka cuci begitu banyak
__ADS_1
"Hehe," Cahaya malah tersenyum dan merasa ini adalah momen yang sangat langka, seketika mengibaskan tangannya di depan wajah Felix, hingga terkena percikan air dari tangannya.
"Kamu nakal juga ternyata!" Felix pun membalas dengan mengusapkan busa sabun pada wajah Cahaya.
"Woy! Cuciian masih banyak!" Kata pedangan bakso yang merasa kesal pada dua orang anak muda yang tidak bisa membayar makanan itu.
"Maaf Mas."
Felix dan Cahaya pun saling melempar senyuman, kemudian kembali mencuci piring.
"Akhirnya," Felix merasa lega saat semua pekerjaannya selesai.
"Besok-besok kalau tidak punya uang jangan sok-sokan makan!" Kata pedangan bakso yang tidak henti-hentinya kesal pada Felix.
"Neng pacar nya?" Kini beralih bertanya pada Cahaya.
Cahaya mengangguk lemah, menantikan kata apa yang akan di ucapkan oleh pedangan itu.
"Kenapa mau sama laki-laki seperti ini? Kamu itu cantik, akan sangat rugi dengan lelaki pengangguran dan tidak punya uang begini. Bayar bakso aja nggak bisa!" Cerca pedagang tersebut, kemudian segera membereskan dagangan.
Felix pun menggaruk kepalanya menahan kekesalan.
"Puas?" Tanya Felix sebab Cahaya terlihat begitu senang saat dirinya baru saja dikatai habis-habisan.
"Bos juga aneh, isi dompet banyak begini malah memilih cuci piring," Diman pun menimpali sambil melihat isi dompet di tangannya ada banyak rupiah di dalamnya. Bahkan ada juga lembaran dollar.
Felix dan Cahaya pun menatap Diman dengan tajam.
"Diman, ini dompet sayakan?"
"Iya Bos, kan tadi kita saling tukar pakaian. Jadi dompet anda ada di kantong ini, aneh sekali orang kaya. Lebih memilih cuci piring dari pada membayar, oh.....Biar romantis ya, Bos," tebak Diman bangga merasa apa yang dipikirkan oleh nya adalah benar.
"Ya ampun Diman," Felix menahan kesalnya.
"Kenapa tidak bilang ada dompet saya. Kalau begitu tidak perlu mencuci piring pelanggan seperti tadi!"
"Bos kan nggak tanya ke saya, Bos cuma bilang pinjam uang saya. Saya tidak punya uang," jelas Diman dengan santainya bahkan seakan tidak memiliki kesalahan.
"DIMAN!" Felix dan Cahaya pun memukul Diman, keduanya begitu kesal.
"Bos, aku salah apa?"
"Tidak ada, kamu benar sekali! Hanya saja otak mu ini tergeser!"
"Ampun Bos!" Teriak Diman melindungi dirinya.
"Sudahlah ayo kita pulang!"
Akhirnya ketiganya pun pulang dengan mengendarai taksi, pergi dari pagi dan pulang saat malam sudah larut.
Rasa lelah namun bahagia begitu terasa diantara Cahaya dan Felix.
Sampai akhirnya Cahaya pun turun dari taksi.
"Mimpiin aku ya," kata Felix.
"Iya," Cahaya tersenyum penuh bahagia.
"Jangan lupa mimpiin aku juga," balas Cahaya.
"Pasti," jawab Felix dengan yakin.
Cahaya pun kemudian masuk ke dalam rumah. Tak disangka ternyata Alex ada di ambang pintu dan mendengar apa yang dibicarakan antara Cahaya dan Felix barusan.
"Sudah ketemu seharian mau ketemu juga di alam mimpi? Tidak bosan memangnya?" tanya Alex dengan wajah datarnya.
Cahaya pun menahan malu kemudian cepat-cepat berlari masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Tak disangka ternyata Alex mendengar apa yang barusan dia dan Felix katakan.
Tak lupa senyum di bibir Cahaya tidak pernah luntur sedikit pun mengingat hari ini begitu membahagiakan.