
Beberapa jam kemudian, Reyna pun terbangun dan tersadar sudah sampai di tempat tujuan. Setelah memasuki pesawat beberapa saat lalu Reyna sudah mulai terlelap, apa lagi pelukan Nanda yang begitu hangat tentunya mudah membuatnya segera tertidur. Tidur indah dengan hangat nya. Reyna bisa gila jika sudah menyangkut soal Nanda.
"Abi, kita udah nyampe, ya?" tanya Nanda.
"Iya. Turun yuk" ajak Nanda.
Keduanya pun turun dari pesawat dan memasuki mobil yang sudah menjemput. Lalu membawa menuju hotel berbintang. Reyna terperangah saat Nanda membawanya ke sebuah hotel yang sangat mewah. Terbilang sangat bagus dan cukup bergengsi.
Tapi bagaimana dengan biayanya selama di sana, satu malam menginap di hotel tersebut tentunya sangat mahal. Reyna tidak mau menghamburkan uang saat ini, sebab saat melahirkan nanti pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Walaupun terlahir dari keluarga berada tentunya Reyna akan merasa malu untuk meminta uang pada Papanya. Sebab, Itu menyangkut harga diri Nanda sebagai seorang suami di mata keluarganya. Meskipun keluarganya tidak akan mungkin berpikir sama dengan yang di pikirkan oleh Reyna.
Namun, dirinya tetap saja ingin membuktikan secara tidak langsung bahwa Nanda adalah lelaki yang bertanggung jawab terhadap istri dan anaknya. Sampai sekarang Reyna masih kebingungan dalam membayar semuanya.
Apa mungkin Nanda yang membayarnya? Rasanya gaji Nanda beberapa bulan pun tidak akan cukup untuk membayar satu malam menginap di hotel mewah tersebut. Belum lagi kamar yang kini mereka tempati adalah kamar Presidential Suite Room.
Reyna pun menarik lengan Nanda, kemudian membawanya pada sudut ruangan kemudian berbisik agar tidak terdengar oleh seorang karyawan yang mengantarkan mereka ke kamar tersebut.
"Nanda, kita cari kamar yang sederhana saja. Aku nggak apa-apa kok," kata Reyna.
"Memangnya kenapa kalau di sini?" Tanya Nanda kebingungan.
Nanda tidak mengerti mengapa Reyna menolak untuk menginap di sana, padahal hotel itu terbilang cukup bagus dengan desain modern.
Reyna meremas kedua tangannya menahan emosi, kemudian kembali berbisik.
"Aku nggak mau di sini, kamar ini terlalu bagus, pasti juga mahal!" Bisik Reyna lagi.
"Lalu?" Tanya Nanda dengan suara yang cukup kuat, bahkan tanpa ingin berbisik.
"Huuss! Pelan-pelan saja kalau berbicara," Reyna pun kesal pada Nanda.
Padahal Reyna tidak ingin karyawan itu mendengar apa yang tengah mereka bicarakan saat ini. Berdebat masalah uang pembayaran tentunya begitu memalukan.
"Uang dari mana?" Tanya Reyna dengan berbisik kembali ditelinga Nanda.
Nanda ingin tertawa saat mendengarnya, dirinya pun hanya mengangguk saja tanpa bisa berkata-kata.
"Mbak, kamar ini permalamnya berapa ya?" Reyna pun pemberanikan diri untuk bertanya.
Wanita tersebut melihat Nanda, apa yang harus dikatakan saat ini. Dirinya juga dalam kebingungan saat Reyna bertanya.
"Hallo, apa anda mendengar saya?" Reyna kembali bersuara karena karyawan tersebut terlihat kebingungan. Bahkan melihat Nanda dengan bertanya-tanya.
__ADS_1
"Maaf Bu."
"Ya saya bertanya, berapa harga kamar ini untuk satu malam?" Tanya Reyna dengan jelas.
"Untuk kamar yang seperti ini mungkin sekitarnya seratus juta," jelas karyawan tersebut, sebenarnya dirinya juga bingung dengan jawabannya.
Sebab Nanda bukan pelanggan, melainkan pemilik. Mana mungkin Reyna tidak mengetahui tersebut pikirnya.
Diketahui jika Nanda memperkenalkan Reyna pada manager hotel, dan manager hotel sudah mengumumkan kedatangan Nanda bersama istrinya tepat sebelum Nanda sampai agar segera mempersiapkan kedatangan bos besar mereka.
"Ya ampun, tabungan ku bisa habis," gumam Reyna.
"Permisi, Pak, Bu," karyawan tersebut memilih pergi, dari pada mendadak menjadi bodoh seperti Reyna yang tampaknya punya banyak pertanyaan.
Reyna pun melihat Nanda, tatapannya begitu tajam dengan segala pikiran buruk.
"Nanda, aku tahu kamu sayang sama aku. Tapi nggak harus begini juga. Kita nggak usah nginap di sini, di hotel dengan kamar biasa saja kan bisa. Aku punya uang, tapi aku berusaha hemat untuk biaya lahiran," jelas Reyna dengan segala keresahan nya.
Nanda pun memilih duduk di sofa dan melipat kedua kakinya, mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang. Memberitahu jika dirinya sudah sampai di Bali
"Nanda, kamu dengar aku nggak sih?!" Reyna yang merasa di acuhkan pun merasa kesal.
Nanda pun kembali berfokus pada Reyna, mendengarkan segala ocehan istrinya tersebut.
"Jangan bilang kamu jual rumah Mama di kampung!" Akhirnya otak Reyna semakin parah.
Tapi apa lagi kalau bukan itu.
"Huffftt" Nanda pun mengusap wajahnya, mendengar ocehan Reyna yang semakin tidak masuk akal.
"Nanda jawab aku! Aku sebetulnya bingung, kamu bisa beli mobil mewah sesuai keinginan aku. Perhiasan, barang branded lainnya juga, itu uang dari mana? Belum lagi menginap di sini! Aku nggak mau kamu di tangkap polisi dan masuk penjara!" Dada Reyna naik turun merasakan keresahan nya yang semakin meningkat.
"Aku polisinya!" Kata Nanda dengan santainya.
"Iya aku tahu," Reyna pun mengibaskan tangannya.
"Tapi mana tahu kamu punya bisnis ilegal, seperti barang haram dan penipuan atau lainnya!"
"Kamu itu semakin ngawur saja, minum dulu," Nanda pun menarik Reyna untuk duduk di sampingnya.
Memberikan sebotol mineral agar bisa membuat pikiran istrinya tersebut menjadi jernih
__ADS_1
"Aku serius!"
"Kalau mikir jangan aneh-aneh!"
"Terus kamu dapat uang dari mana?"
"Dari bisnis aku!"
"Bisnis apa? Kamu jangan halu! Atau kamu bilang aja sekalian ini hotel milik kamu"
"Ya memang!" Jawan Nanda dengan cepat.
Uhuk... Uhuk...
Reyna pun terbatuk-batuk mendengarnya, apa yang dikatakan oleh Nanda terdengar mengejutkan di telinga Reyna.
"Minum lagi!"
"Ahahahha," Reyna tidak kuasa menahan tawa.
"Tanah di kampung dan rumah Mama di kampung memang besar, tapi mana mungkin hotel ini milik mu! jangan ngawur kamu"
Nanda pun memilih diam dan meneguk mineral, percuma saja berbicara pada Reyna.
"Malang sekali nasib anak ku ini, dia masih di dalam kandungan tapi Abi nya sudah hampir masuk rumah sakit jiwa, gila karena terlalu halu," Reyna mengelus perutnya dengan menahan tawa.
"Tidak percaya tidak masalah, asalkan kamu tidak pingsan saja!"
"Iya, iya, iyal Dasar gila! Nikmati kegilaan mu itu. Tidur sana, mimpi yang indah dulu, biar terwujud! Karena, segalanya harus dengan mimpi dulu," Ejek Reyna lagi.
"Aku ada rapat, sebentar lagi aku kembali. Kamu istirahat saja!" Nanda pun segera keluar.
Reyna pun menghentikan tawanya kemudian memilih untuk berbaring di atas ranjang.
Inilah yang di namakan dengan tidur tak nyenyak makan tidak enak. Terbayang berapa tagihan yang harus di bayarkan olehnya nanti.
Reyna pun tinggal sendiri di kamar tersebut, mengusap wajahnya beberapa kali
"Ya ampun, kalau tiga malam saja di sini tabungan ku akan jebol," gumam Reyna penuh dengan kekesalan.
Kembali Reyna meneguk mineral agar membuat kepalanya lebih segar.
__ADS_1
"Aduh, pusing aku."