Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Felix saja sudah harus diseganinya.


__ADS_3

Namun, Vanya juga menjawabnya dengan anggukan kepala.


Dirinya juga rindu pada Riki meskipun sempat kesal.


"Kamu udah nggak marahkan?" tanya Riki lagi.


"Hu'um," jawab Vanya dengan malu-malu.


"Kurang ajar," Riki malah semakin merasa gemas pada Vanya, tingkah aneh Vanya mampu membuatnya semakin tergila-gila saja.


Bagaimana bisa tidak memeluk sebelum Riki nantinya berpamitan untuk pulang.


"Peluk ya, dikit aja?"


"Tapi takut ada orang," jawab Vanya sambil terus melihat sekiranya.


Riki pun kembali melihat sekitarnya untuk memastikan untuk yang kesekian kalinya bahwa tidak ada siapapun selain mereka berdua.


Benar saja, ini sudah malam. Yang lainnya juga pasti sudah tidur.


"Nggak ada siapa-siapa," kata Riki.


"Kayaknya Mas", Vanya juga membenarkan, mengangguk sambil malu-malu kucing, tetapi pada dasarnya ya, tetap mau.


"Tapi, sebelumnya ada kalender nggak?"


"Kalender?" Tanya Vanya kembali penuh kebingungan.


"Iya, kalender."

__ADS_1


"Buat apa?" Tanya Vanya bingung.


"Tanggal pernikahan kita sudah dekat, empat hari lagi kan?"


"Lalu?"


"Mas mau skip aja, jadinya langsung hari pernikahan kita biar cepat nikah tanpa menunggu lama lagi," jelas Riki sambil terkekeh geli.


Geli tentu saja, karena Riki sadar dirinya yang juga aneh.


Namun, begitulah adanya, cinta bisa membuat seseorang menjadi terperdaya dengan mudahnya.


"Mas, apaan sih. Sabar aja udah nggak lama kok. Empat hari itu waktu yang sebentar."


"Buat Mas, satu hari itu satu tahun. Jadi, kalau empat hari artinya empat tahun. Mas, nggak kuat sayang. Terlalu lama itu," jelas Riki lagi.


"Iya juga sih," Vanya pun membenarkan apa yang dikatakan oleh Riki.


Entah bodoh atau memang bodoh pertanyaan Vanya membuat Riki merasa menikahi wanita paling aneh di dunia ini.


Apakah Vanya tidak berpikir tentang hal ranjang yang ada di kepalanya, bukankah siapa saja yang akan menikah pasti memikirkan hal tersebut pasti terjadi.


"Nggak apa-apa, tapi selain tinggal serumah kita juga bisa nangkap nyamuk bareng," jelas Riki sambil menahan tawa.


"Kita nikah cuman buat nangkap nyamuk doang?" Kali ini malah Vanya yang bertanya kepada Riki.


Merasa jawaban Riki sangat tidak masuk akal.


"Kenapa? Ada yang salah?"

__ADS_1


"Ya masa iya, nikah cuman buat nangkap nyamuk doang?"


"Terus kamu maunya gimana?"


"Membangun rumah tangga yang bahagia," tegas Vanya.


Riki pun mangguk-mangguk seperti anak kecil, tetapi sebenarnya menahan tawa yang ingin pecah dengan begitu saja.


"Nikah, buat tangkap nyamuk doang," gerutu Vanya.


"Iya, maaf deh. Mas boleh peluk nggak sih? Jadi, peluk nggak? Mumpung nggak ada orang?"


Vanya pun kembali tersenyum malu dan mengangguk setuju.


Keduanya seperti tidak pernah berpelukan saja, lagi pula sejak kapan Riki bisa sopan begitu.


Bahkan untuk memeluk saja membutuhkan ijin terlebih dahulu.


Baiklah, tidak mengapa. Artinya dengan demikian Riki benar-benar mencintai Vanya.


Menghargai Vanya sebagai seorang wanita yang dicintainya.


Hingga perlahan Riki pun menggerakkan kedua tangannya ke arah Vanya, ingin memeluk kekasihnya itu.


"Ehem!" Terdengar suara dari kejauhan.


Membuat Riki pun terkejut dan mengurungkan niatnya untuk memeluk Vanya.


"Kak Felix," Vanya juga merasa takut, dengan cepat berpindah duduk pada sofa yang lainnya.

__ADS_1


Sementara tatapan mata Felix begitu tajam mengarah pada Riki.


Membuat Riki juga meneguk saliva, kurang ajar semenjak memutuskan untuk mencintai Vanya, kini Felix saja sudah harus diseganinya.


__ADS_2