Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Tidak berkurang sama sekali..


__ADS_3

"Eeee, hihi Maaf Om Kelepasan," Vanya pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Rasanya sangat malu sekali saat tiba-tiba bersendawa setelah kekenyangan.


Puas berbelanja Riki pun mengajaknya untuk makan terlebih dahulu, sebab Riki memang belum sarapan pagi sama sekali.


Sedangkan Vanya tentunya setuju saja, sampai akhirnya makan dengan lahapnya.


Sementara Riki hanya tersenyum melihat kelakuan konyol Vanya. Wanita yang memang bertingkah aneh dan membuatnya merasa nyaman.


Di saat wanita di luar sana menunjukan sesuatu yang paling bagus dari dirinya, namun tidak dengan Vanya yang malah bertingkah layaknya seperti anak kecil yang apa adanya.


Dan jangan lupa panggilan Vanya barusan, Om? Sungguh sangat lucu sekali.


Tapi bagaimana lagi sebab Riki pun mengerti akan Vanya yang mungkin sudah terlanjur nyaman dengan panggilan tersebut.


Meskipun demikian tetap saja perlahan harus di arahkan dengan baik sebab Riki tak ingin orang lain menganggapnya membawa keponakannya sendiri.


"Om, aku ke toilet sebentar ya" Vanya pun bangkit dari duduknya setelah Riki mengangguk.


Sesampainya di toilet Vanya pun mencuci tangan kemudian menatap wajahnya di depan cermin.


Setelah itu kembali lagi untuk menemui Riki namun tiba-tiba Vanya mengurungkan niatnya sejenak untuk mendekati Riki.


Sebab, dari jarak yang cukup jauh melihat Riki sedang berbicara dengan seseorang.


Siapa orang tersebut?


Felix dan juga Cahaya.


"Sepertinya kau tidak sendiri?" Tanya Felix sambil melihat ada makanan yang begitu banyak di atas meja membuatnya penasaran saja jika sudah menyangkut soal Riki.


"Iya, nanti aku jelaskan," jawab Riki.


"Baiklah, kami duluan ya. Sampai berjumpa lagi."


Felix dan Cahaya pun berlalu pergi.


Setelah merasa aman barulah Vanya pun muncul duduk kembali di kursinya sambil menenangkan jantung yang terus saja berdegup kencang.


"Kenapa?" Tanya Riki melihat keanehan pada Vanya.


"Om, barusan itu," Vanya menunjuk ke arah pintu keluar.


"Om. kenal sama orang tadi?"


Riki pun mengangguk membenarkan tetapi tidak mengerti juga mengapa Vanya bertanya.


"Ada apa?" Riki terdiam sambil menatap bocah kesayangannya itu dengan penuh intimidasi.


Vanya pun menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Kamu menyukainya?" Tebak Riki sebab sepertinya Vanya juga pernah menanyakan orang itu sebelumnya.


"Apa?" Pekik Vanya kemudian menutup mulutnya merasa malu setelah menyadari suaranya yang cukup kencang.

__ADS_1


"Enggak lah Om, enak aja!"


Riki pun mengangguk percaya, lagi pula Riki tidak ingin berdebat dengan Vanya.


"Tapi, kalau boleh tau, Om temenan sama yang itu tadi. Dia itu anaknya majikan Ibu aku Om," dalam hati Vanya pun menjerit, rasanya sangat tidak ingin berbohong sama sekali.


Tetapi malah berbicara dengan berbohong, namun lagi-lagi Vanya sangat penasaran pada Riki apakah mengenal Felix cukup jauh atau hanya sebatas pekerjaan.


Mengingat kedua pria tersebut sama-sama seorang pengusaha yang mungkin saling terikat pekerjaan.


"Kami kenal belum terlalu lama tetapi kami sudah bersahabat baik," jawab Riki.


"Gitu," Vanya pun mengangguk lemah, kepalanya benar-benar pusing memikirkan sesuatu yang sangat rumit ini.


"Ayo pulang," Riki pun bangkit dari duduknya, begitu pula dengan Vanya.


Sepanjang perjalanan Vanya terus saja memikirkan Felix, tepatnya kedekatan antara Kakaknya itu dan juga Riki.


"Kamu kenapa? Ada yang sedang kamu pikirkan?" Riki pun mengusap lembut kepala Vanya dengan sebelah tangannya. Sejenak melirik Vanya tetapi sesaat kemudian kembali melihat ke depan fokus pada jalanan.


"Om, sebetulnya hubungan kita serius atau nggak?"


"Kenapa bertanya begitu?" Tanya Riki kembali.


"Nggak apa-apa sih," Vanya benar-benar tidak mengerti mengapa dirinya kini mendadak pusing.


Hingga akhirnya Riki kembali membawanya ke apartemen.


"Om, ke sini lagi?"


"Temanin doang kan, Om?"


"Iya."


"Apa itu bayaran?" Vanya menunjukan barang belanjaannya.


"Sambil menunggu Mama pulang dari acara keluarga setelah itu kita temui Mama dan membicarakan pernikahan kita. Kemudian aku ingin menemui orang tua mu," jelas Riki.


"Orang tua?" Vanya tidak tahu harus bagaimana, tetapi semuanya memang sangat membingungkan sekali.


Bahkan Vanya sampai tidak menyadari bahwa dirinya sudah berada di dalam unit apartemen milik Riki.


"Kenapa?" Riki pun duduk di samping Vanya yang sudah terlebih dahulu melempar tubuhnya pada sofa.


Vanya benar-benar kebingungan untuk semua ini yang terjadi dengan tiba-tiba.


"Om, bisa nggak kasih aku kesempatan. Satu bulan aja, kita pacaran dulu. Aku cuma mau yakinin diri aja," pinta Vanya.


Riki terdiam dan menimbang apa yang di inginkan oleh Vanya meskipun sebenarnya sangat menyulitkan.


Tetapi meskipun demikian tetap saja Riki menyetujuinya, tidak ingin membuat Vanya pergi karena tidak nyaman dengan dirinya.


"Baiklah, dua Minggu!" kata Riki dengan tegas.


Untuk satu bulan rasanya sangat tidak mungkin sebab Riki tidak ingin kelepasan mengingat dirinya bukan lagi seorang ABG.

__ADS_1


Vanya pun mendesus tetapi tidak masalah pula. Mungkin perlahan bisa mengatakan pada kedua orang tuanya tentang Riki yang berstatus duda ingin menikahi dirinya.


"Om, yakin mau nikahin aku? Kuliah aku gimana Om?"


"Aku sudah yakin, aku sangat mencintaimu," kata Riki dengan tatapan mata yang begitu dalam.


Vanya pun terdiam sambil membalas tatapan bola mata Riki yang sangat menenangkan itu.


Entahlah, tapi dulu dan kini memang sangat berbeda.


Riki bukan lagi seorang duda yang menjengkelkan di mata Vanya melainkan seorang duda yang mempunyai sebuah daya tarik tersendiri.


Hingga akhirnya Riki pun menarik dagu Vanya mencium bibir Vanya dengan perlahan. Namun, sesaat kemudian semua berubah menjadi kasar.


Vanya hanya diam saja membiarkan Riki merasakan bibirnya. Hingga sesaat kemudian Riki pun melepaskannya.


"I love you."


Wajah Vanya pun memerah seketika itu, dirinya benar-benar tak mengerti mengapa rasanya sangat indah sekali, apa lagi tatapan bola mata Riki.


Ya ampun, Vanya bisa di buat kejang-kejang saat ini juga.


"Om, jauh-jauh aku nggak kuat," Vanya pun mencoba untuk mendorong dada Riki.


Tetapi, Riki tidak memiliki keinginan sama sekali untuk menjauh.


Menatap Vanya dari jarak yang begitu dekat adalah sebuah kesenangan yang tak dapat di katakan oleh bibirnya. Sehingga dirinya tak akan mau menuruti keinginan Vanya untuk yang satu itu.


"Om?" Vanya pun menunjukan wajah melasnya, berharap Riki segera menjauh.


"Biar begini saja, aku lebih suka begini sayang," wajah Riki masih saja berjarak beberapa senti saja dari wajah Vanya.


Wajah Vanya masih menjadi candunya dan untuk bibir Vanya juga tentunya. Sungguh, Riki ingin sekali menjadi seorang pria kurang ajar. Tapi tidak, dirinya tidak ingin menyentuh Vanya seperti apa yang ada di pikiran liarnya sebelum mereka menikah.


"Om!" Vanya semakin panik saja sebab Riki tidak juga menjauh.


"Begini saja, kenapa?"


"Jauh Om! aku nggak kuat!"


Riki tersenyum dan memilih untuk tetap pada posisinya yang sangat dekat dengan Vanya. Masih dengan memandangi wajah Vanya yang begitu indah. Sampai tiba-tiba terdengar suara kentut yang cukup nyaring. Belum lagi aroma yang menyengat sungguh sangat tidak nyaman.


"Kamu kentut?" Riki pun mengibaskan tangannya di depan hidung nya, merasakan aroma yang begitu tidak sedap.


Vanya pun tersenyum kecut, tetapi apakah ini salah Vanya?


Tentu saja tidak, karena apa? Karena Vanya sudah meminta Riki untuk menjauh, namun apa?


Riki ingin berada di dekatnya hingga Vanya pun tak dapat menahan angin yang mendesak keluar.


"Maaf Om, tadi aku udah bilang Om jauh-jauh. Tapi, Om nolak. Jadi, kelepasan deh"


"Dasar jorok!" Riki pun mengetuk kepala Vanya dengan kesal.


Tepatnya kesal bercampur gemas karena ulah bocah konyol itu tidak pernah ada yang benar, namun tetap saja cinta Riki tidak berkurang sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2