
"Kamu jahat Mas, dia anakku! Kenapa kamu menamparnya, kemudian mengusirnya!" Nayla pun berteriak histeris karena Vanya benar-benar pergi bahkan di tengah malam begini.
Semuanya seakan begitu rumit, tanpa ada jalan keluarnya. Bahkan seakan tidak ada yang mau mengalah sama sekali. Sampai kapan ini akan terjadi.
"Sudahlah, dia sudah berani kurang ajar pada orang tuanya!" Devan pun segera masuk ke dalam kamarnya.
Pikirannya benar-benar kacau karena memikirkan Vanya yang sudah pergi dari rumah. Sementara Nayla masih menangis di depan pintu kamar putrinya. Oma Ana pun menghampirinya, mencoba untuk membuat keadaan lebih tenang.
"Ma, Vanya pergi," kata Nayla dengan berlinang air mata.
"Semua akan baik-baik saja, biarkan dulu dia pergi."
"Tapi ini sudah malam," kata Nayla lagi.
"Bagaimana kalau terjadi suatu hal yang buruk padanya."
Sebagai seorang ibu pastinya Nayla sangat mengkhawatirkan putrinya, apa lagi tengah malam begini.
"Tidak usah terlalu banyak berpikir buruk, Devan tidak mungkin benar-benar melepaskan Vanya berkeliaran sendiri di luar sana"
Nayla pun mengusap air matanya dan menatap wajah mertuanya itu dengan penuh tanya.
Dirinya sedikit bingung pada apa yang dikatakan oleh Oma Ana.
"Percayalah, Devan sangat menyayangi putrinya itu," lagi-lagi Ana berusaha untuk meyakinkan Nayla bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Mama yakin?"
"Iya," Ana mengelus lengan Nayla, dirinya berkata apa adanya.
Nayla pun terdiam sejenak memikirkan apa yang dikatakan oleh Ana.
Tetapi, sedikit banyaknya apa yang dikatakan oleh mertuanya itu mungkin benar karena Devan sangat menyayangi Vanya.
__ADS_1
"Sudahlah Nayla, untuk apa terus bersikeras menentang hubungan mereka. Mama, rasa tidak ada manusia di dunia ini yang ingin menjadi seorang duda. Begitu juga dengan Riki, kita tidak berhak menghukum orang lain atas kesalahannya, dia juga berhak berubah, biarkan saja mereka bahagia."
Oma Ana tersenyum tulus menatap wajah Nayla, benar-benar ingin membuat Vanya bersama dengan Riki. Dirinya merasa bahwa Riki adalah lelaki baik-baik yang ingin bahagia juga.
"Tapi Ma..."
"Riki menikahinya, bukan menjadikannya mainan."
Nayla lagi-lagi terdiam berusaha mencerna setiap kata yang disampaikan oleh mertuanya tersebut.
"Pikirkan baik-baik."
Ana pun memilih untuk pergi memberikan sedikit waktu luang pada Nayla untuk memikirkan apa yang barusan dikatakannya.
Nayla benar-benar bingung dengan semuanya, dirinya sendiri tidak tahu harus memberikan keputusan seperti apa.
Hingga akhirnya Nayla pun menuju kamar, melihat Devan di sana sedang membakar tangannya pada lilin yang menyala membuat Nayla pun bergegas menyingkirkan tangan Devan dari api yang menyala.
Dengan cepat memadamkan lilin agar Devan tidak melakukan hal gila itu lagi.
Sesaat kemudian Nayla pun mengambil kotak obat dan mengobatinya.
Sebab sudah ada luka bakar yang tampak, Nayla tahu Devan sangat menyesal sudah melayangkan tangannya pada wajah putrinya.
Devan hanya terdiam duduk di sofa, Nayla yang sibuk mengobati tangannya sementara pikirannya yang kini hanya tertuju pada Vanya.
"Mas, apa nggak sebaiknya kita restui saja, aku takut nantinya mereka memilih menikah diam-diam," kata Nayla mengutarakan kegundahannya.
"Lagi pula mungkin Riki adalah jodohnya putri kita," lanjut Nayla lagi, setelah selesai mengobati tangan Devan.
Devan menatap wajah istrinya itu seakan sedang mempertimbangkan apa yang dipikirkan oleh istrinya tersebut.
"Mas, nggak takut juga, banyak anak muda yang memilih bunuh diri karena terhalang restu orang tua."
__ADS_1
Kini Devan semakin merasa tidak karuan, takut jika apa yang dikatakan oleh istrinya menjadi nyata.
"Jangan berpikir seperti itu, Vanya tidak senekat itu," Devan pun segera menepis apa yang dipikirkan oleh istrinya tersebut.
Dirinya tahu seperti apa putrinya tersebut, sehingga benar-benar berpikir hal baik.
"Iya, tapi kitakan nggak tahu kedepannya Mas. Aku rasa tidak masalah juga menikahkan mereka, ayolah Mas coba sedikit saja mempertimbangkannya," kini Nayla yang meminta penuh harap karena ingin menyudahi segalanya.
Nayla lelah terus bersitegang dengan anaknya, tidak ada lagi ketenangan apa lagi canda tawa selama ini.
Sementara Devan hanya menatap wajah Nayla, benar-benar tidak mengerti mengapa bisa terjadi hal seperti ini.
"Mas, Vanya menikah dengan Riki bukan menjadi istri kedua..."
"Kamu menyindirku?"
"Bukan Mas, maksud aku, mereka menikah dengan keadaan baik-baik. Riki tidak memiliki istri, Vanya pun bersama Riki tidak dengan merebut Riki dari mantan istrinya. Jadi, sepertinya tidak ada yang salah. Sudahlah Mas, aku sudah memilih untuk berdamai, ayolah. Jangan lagi terus begini. Mau sampai kapan?" Nayla pun berpindah duduk di sisi ranjang memijat kepalanya yang terasa pusing.
Bagaimana tidak pusing, putrinya sibuk meminta restu. Sementara suaminya masih dengan keras kepala untuk menentangnya.
Hingga akhirnya ponsel Devan pun berbunyi, Nayla mendengar sendiri Devan berbicara dengan seseorang yang dimintanya untuk mengawasi Vanya di luar sana.
Setelah itu Devan pun memutuskan panggilan.
"Mas, khawatir? Sudahlah Mas, dari pada anak kita perempuan berkeliaran di luar sana tidak jelas. Lebih baik nikahkan saja, itu jauh lebih baik, ada orang bertanggung jawab atas dia. Kalau misalnya ada yang jahat sama Vanya di luar sana, terus kebetulan orang suruhan Mas sedang lengah. Kemudian, Vanya kenapa-kenapa gimana? Menyesal juga sudah percuma!"
"Nayla! Kau bicara apa?"
"Bicara apa adanya, udahlah terserah Mas aja," Nayla pun segera keluar dari kamar, kesal karena Devan tidak mendengarkan apa yang dikatakannya.
"Nayla!"
"Terserah Mas saja!"
__ADS_1