Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Merasa canggung!!!


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang Rima hanya diam saja, sepeda motornya memang sudah kembali tetapi cara Aditya membelinya sangat tidak masuk akal.


Seratus lima puluh juta hanya untuk sebuah motor yang bahkan sangat jauh dari harga sebenarnya.


"Kenapa menangis?" Aditya pun menepikan mobilnya menatap serius Rima sambil bertanya.


Rima mengusap wajahnya kemudian membalas tatapan Aditya.


"Saya bingung bagaimana cara membayar hutang pada Dokter, gaji saya kecil belum lagi saya masih butuh uang jika pengobatan Bapak harus berlanjut," jelas Rima sambil terus mengusap air mata hingga beberapa kali.


"Kamu mau membayarnya? gampang tidak usah pakai uang," ucap Aditya.


"Terus pakai apa?" tanya Rima.


"Pakai jasa, jasa di ranjang mungkin" seloroh Aditya.


"Dasar gila! memangnya aku wanita panggilan," Rima pun memukuli Aditya tanpa hentinya hingga akhirnya dengan cepat Aditya memegang kedua tangan Rima tanpa bisa bergerak lagi, wajah Rima masih terlihat lembab, menangis cukup lama membuat matanya pun sedikit bengkak.


"Aku mencintaimu dari sejak kamu menggodaku, kalau kamu hanya pemuas aku tidak perlu berjuang untuk menikahi mu, banyak wanita di luar sana yang lebih dari kamu bahkan rela menjajalkan tubuhnya untuk kuz tapi tidak ada yang sepertimu kamu yang mampu membuatku mengerti tentang cinta," papar Aditya.


Rima meneguk saliva setelah mendengar ucapan Aditya barusan, dari tatapan Aditya terlihat tulus, jujur dan juga berani mengakui, Rima tidak mengerti apakah bisa percaya pada Aditya atau tidak? hanya saja perlakuan Aditya selama ini dalam merawatnya seakan menjadi sebuah bukti kebenaran tentang apa yang dia dengar barusan.


"Caraku memang curang, tapi tidak dengan cintaku," tambah Aditya lagi.


Rima masih diam saja, pikirannya kini hanya mencari bukti dari tatap mata Aditya, jawaban atas kebohongan yang mungkin diciptakan tapi untuk apa Aditya membohonginya? apa untungnya?


Lagi-lagi Rima dibuat stres dengan pertanyaan-pertanyaannya yang belum bisa mendapatkan jawaban.


"Agar kamu tahu dan tidak larut dalam pikiran buruk mu," Aditya memang tidak pandai bersandiwara, merangkai kata bahkan menyembunyikan rasa.

__ADS_1


Aditya hanya mengatakan apa yang di rasakannya, melepaskan hasratnya untuk bersama seseorang yang mampu membuat dirinya tenang saat menemukan orang tersebut dengan yakin sehingga Aditya tidak ingin ada yang memiliki selain dirinya, Aditya yang sudah berusia matang membutuhkan seorang istri untuk meringankan lelahnya, membutuhkan seorang wanita untuk mencurahkan segala cinta yang ada, membutuhkan seorang istri yang bisa menghibur saat dalam lelahnya.


Sadar dirinya yang sulit bergaul dengan orang lain bahkan sulit untuk berbicara banyak membuatnya yakin Rima adalah orang yang tepat, suasana akan menjadi lebih ramai bila saja Rima menjadi miliknya.


Kecerewetan Rima adalah alasan utama dirinya merasa butuh wanita seperti Rima untuk menghiburnya saat sedang lelah bekerja.


"Rima apa ada yang perlu ditanyakan? tanyakan saja jangan menyimpulkan segala sesuatu sendirian!" ucap Aditya.


"Tapi aku tidak cinta pada Anda Dok," kata Rima dengan suara bergetar menahan air mata.


Aditya mengerti dan tidak marah, pada dasarnya semua karena dirinya sendiri.


"Lalu kenapa kamu selalu berani menggodaku?" tanya Aditya.


"Itu..." Rima tidak berani menjelaskan alasannya sungguh sangat memalukan.


Yakin Aditya akan menganggapnya sebagai wanita nakal.


"Hanya untuk mendapatkan uang demi bisa membeli tas incaran mu?" tebak Aditya.


Satu tetes air mata Rima tumpah, kepalanya mengangguk lemah.


"Kenapa menangis?" Aditya malah merasa bersalah sudah membuat Rima semakin menangis.


"Aku udah lama menabung demi membeli tas branded yang aku suka sampai akhirnya orang lain yang duluan membelinya karena uang aku nggak cukup akhirnya tanpa sengaja aku melihat ada tas keluaran terbaru tapi lagi-lagi uangnya nggak cukup, akhirnya aku terima pekerjaan dari Nayla buat beli tas branded itu," ucap Rima.


"Terus kenapa motornya dijual? udah bosan?" tanya Aditya.


Rima menggeleng dengan wajah yang tertekuk, sesekali tangannya mengusap air mata menahan malu.

__ADS_1


Biar saja Aditya tahu pikirnya, suasana hatinya benar-benar tidak baik untuk saat ini.


"Di jual buat biaya rawat Bapak," terang Rima dengan suara bergetar.


Aditya pun memeluk Rima, baru kali ini melihat Rima yang cerewet mendadak cengeng, Rima pun hanya diam saat Aditya memeluknya.


"Sudah jangan menangis lagi, motornya juga sudah kembali lagi," ucap Aditya.


"Nggak apa-apa, aku udah ikhlas motor sama tasnya dijual, nggak apa-apa!"


"Tasnya juga dijual?"


"He'um nggak apa-apa, uang beli tasnya juga kayaknya nggak halal-halal banget, aku yang kualat!" ucap Rima.


Aditya tersenyum mendengar jawaban Rima, mungkin jika tidak menggodanya sampai saat ini masih betah sendirian tanpa ingin menikah.


"Dokter gitu sih! ngejek aja!" tangis Rima pun kembali pecah, merasa tersudut oleh senyuman Aditya padahal Aditya menertawakan dirinya sendiri. Andai Rima tahu semua cara licik yang digunakan untuk membuat Rima menikah dengannya, mungkin Rima yang menertawakan dirinya habis-habisan karena terlalu mencintai, sayangnya Rima belum menyadari semua itu.


"Aku cinta kamu!" ucap Aditya.


Rima lagi-lagi diam, sesaat kemudian Aditya mendekatkan wajahnya semakin dekat dan lebih dekat melihat Rima hanya diam, Aditya merasa mendapat lampu hijau.


Dengan perlahan mencium bibir Rima, entah kenapa Rima hanya diam menerima sambil menutup matanya.


Tin... Tin...


Suara klakson menyadarkan keduanya jika mereka masih berada di jalan raya, Aditya pun membuka kaca mobilnya dan melihat seorang wanita.


"Ini sepeda motornya mau diantar ke mana? saya sudah menunggu dari tadi!" ucap wanita yang membawa sepeda motor milik Rima ke rumah setelah itu baru mendapatkan bayaran sebesar seratus lima puluh juta sesuai dengan janji Aditya.

__ADS_1


"Em," Aditya pun menyalakan kembali mobilnya dan melajukan menuju rumah.


Sejenak Aditya menatap Rima yang duduk di sampingnya, Rima hanya melihat ke luar merasa canggung setelah menerima Aditya mencium bibirnya.


__ADS_2