Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Tak percaya rasanya..


__ADS_3

"Akhirnya aku kenyang juga, makasih ya Om," Vanya cengengesan karena perutnya benar-benar sudah sangat kenyang.


"Kita pulang," Riki pun menuju mobilnya.


Begitu juga dengan Vanya yang menyusul hingga akhirnya Riki pun membawanya ke sebuah apartemen.


"Om? Kita ngapain ke sini?" Vanya tidak mengerti mengapa Riki membawanya ke apartemen tersebut bahkan Vanya tahu jika apartemen tersebut bersebelahan dengan apartemen milik Kakaknya Felix.


Bagaimana jika tiba-tiba berpapasan nanti saat keluar ataupun masuk.


Habislah dirinya.


"Apa kau lupa?" Riki pun melemparkan jasnya dengan asal kemudian duduk dan menyalakan televisi.


"Lupa?" Vanya ikut duduk di samping Riki karena tidak mengerti dengan maksud dari Riki saat ini.


Riki menatap Vanya dari ujung kaki sampai ujung rambut, pikirannya memang sangat tidak baik-baik saja.


"Ambilkan minuman di kulkas!" Titah Riki.


Dengan segera Vanya pun bangkit dan mencari letak dapur kemudian kembali dengan membawa banyak minuman meletakan pada meja kemudian Riki pun memilih salah satunya. Lalu meneguknya hingga akhirnya membuat tenggorokannya lebih segar.


"Om, kita pulang ya," Vanya sudah sangat ingin beristirahat, sehingga ingin segera pulang ke rumah. Hari ini terlalu aktif bergerak sehingga membuatnya kelelahan.


"Bukankah sesuai perjanjian kau menemaniku tidur?" Tanya Riki lagi.


"Gitu, ya," Vanya pun mengambil ponselnya dan memberitahu pada Ninda bahwa dirinya sedikit terlambat pulang. Setelah itu kembali menyimpan ponselnya pada tas yang baru saja dibelinya. Vanya pun memilih menurut dan melihat pada layar televisi yang menyala. Namun sesaat kemudian kepala Vanya pun terjatuh tepat di atas pundak Riki, ternyata sudah terlelap dalam sekejap saja. Riki pun mencoba untuk melihatnya ternyata benar saja wanita itu sudah terlelap dalam tidur.


"Bukannya seharusnya aku yang terlelap? Kenapa malah dia?"


Seketika itu Riki mengangkat Vanya hingga membawanya ke dalam kamar dan membaringkannya di atas ranjang miliknya.


Riki terus saja memandangi wajah Vanya, wajah yang begitu membuatnya tenang. Hingga akhirnya Riki pun berbaring di samping Vanya, tak lama kemudian ikut terlelap juga.


Ketika pagi harinya Vanya pun terjaga dan menyadari dimana kini dirinya berada.


"Om!" Vanya pun berseru sambil meloncat dari atas ranjang, kemudian memperhatikan dirinya.


Tidak ada yang terbuka, semua pakaiannya masih lengkap. Membuatnya menjadi lebih tenang, tetapi mengapa bisa tidur dengan Riki.


Artinya semalaman dirinya tidak pulang dengan segera mencari keberadaan ponselnya dan melihat banyak panggilan telepon dari Ninda.


Sesaat kemudian Vanya pun memasuki kamar mandi, mencuci wajahnya kemudian berpamitan pada Riki.


"Om aku harus mulang sekarang. Tapi, kita nggak ngapa-ngapain kan Om? Om, nggak ngapa-ngapain aku kan Om?" Cerca Vanya dengan rentetan pertanyaan yang terus berputar di otaknya.


Riki pun menggelengkan kepalanya membuat Vanya bernapas dengan lega.

__ADS_1


"Sesuai perjanjian ya Om, aku udah nemenin Om tidur. Meskipun seharusnya nggak sampai pagi tapi cuma sampai Om tidur," kata Vanya.


Tetapi Riki malah merasa konyol, mengapa malah wanita itu menganggap menemani tidur adalah benar-benar tidur.


"Maksudmu?"


"Om-Om punya hutang sama aku. Seharusnya cuma sampai Om tidur. Tapi ini udah sampai pagi. Om punya hutang sama aku, bayarannya di tambah karena sudah kelewat batas waktu!" Tegas Vanya.


Riki mendadak diam dan tidak bisa berkata-kata lagi, sungguh apa yang dikatakan oleh Vanya memang sangat membingungkan. Bahkan baru kali ini bertemu dengan wanita aneh seperti Vanya.


"Om, beneran nggak ngapa-ngapain aku?" Bagaimana pun semalaman penuh Vanya sudah tidur bersama dengan seorang pria, tentunya sangat waspada terhadap terjadinya pembobolan gawang rapatnya.


Kali ini Riki hanya menjawab dengan gelengan kepala, karena Vanya yang aneh dan gila.


"Syukurlah, aku pamit ya Om!" Segera Vanya pergi meninggalkan Riki yang masih berada di atas ranjangnya.


Riki sendiri tidak mengerti mengapa bisa tidur begitu lelap malam tadi. Bahkan tubuhnya jauh lebih segar dari pada pagi-pagi sebelumnya. Ini sungguh sebuah keanehan yang begitu luar biasa.


Ponsel Riki pun berdering, tertulis nama Felix di sana.


"Halo?" Jawab Riki sambil terus mengusap wajahnya, masih mencoba untuk mengerti tentang dirinya yang merasa nyaman saat berada di dekat Vanya.


Belum lagi kecantikan Vanya saat baru bangun tidur begitu memikatnya, Riki baru menyadari bahwa wajah Vanya memang begitu adanya tanpa polesan make up sama sekali.


"Kau tahu? Proyek kita berjalan baik, terima kasih atas kerjasamanya," kata Felix dari sebrang sana.


Riki semakin bahagia mendengarnya, sungguh ini begitu luar biasa.


"Apa kau sedang bersama wanita mu?" Tebak Felix. Merasa suara parau Riki menyakinkan jika pria itu pasti masih berada di atas ranjang.


Lagi-lagi Riki mendadak tersenyum saat mengingat wajah Vanya, sebab Vanya yang membuat tidurnya begitu berkualitas.


"Tentu, semalaman ini aku memeluk mainan baru ku itu dengan erat," jawab Riki dengan bangganya.


"Jika kau merasa bahagia, nikahi saja. Percayalah satu wanita saja dalam hidup jauh lebih bahagia," Felix pun memberikan saran terbaiknya berharap Riki menjadi lelaki benar.


"Tidak, mainan hanya mainan saja. Kalau aku bosan bisa ganti dengan yang lainnya," jawab Riki.


Felix tak ingin berbicara lebih jauh lagi dengan Riki, sahabatnya tersebut selalu saja membuatnya emosi. Sebab Felix tidak suka dengan pribadi Riki yang cukup menyimpang.


"Tidak semua lelaki seberuntung diri mu..." Riki pun menatap layar ponselnya, dimana panggilan tersebut sudah terputus. Riki pun melempar ponselnya asal kemudian kembali membaringkan tubuhnya. Tangannya bergerak mengusap bantal yang digunakan oleh Vanya. Tanpa sadar Riki pun tersenyum.


"Dia mainan baru yang lucu tapi sayangnya sama saja. Yang dia pikirkan hanyalah uang dan uang," Riki tersenyum miring.


Lagi-lagi wanita miskin di matanya hanya menginginkan uang. Padahal pada kenyataannya dirinya juga masih membutuhkan ketulusan di saat uang sudah begitu banyak sekalipun.


Kemudian Riki pun menuju kamar mandi, bayang-bayang Vanya masih saja melintas dibenaknya.

__ADS_1


Entah mengapa dirinya menjadi berbunga-bunga tidak karuan, hingga Riki pun keluar dari kamar mandi dan memakai pakaiannya.


Sesaat kemudian ponsel Riki pun berdering tampak nama Sela di sana.


"Ya, Ma," jawab Riki dengan suara bersemangat, hari ini dirinya benar-benar tidak bisa menggambarkan betapa hatinya begitu bahagia.


"Riki, sudah jam segini kemana Vanya? Mama mau mengajaknya ke sekolah," tanya Sela dari seberang sana yang terus saja menunggu Vanya datang seperti pagi-pagi sebelumnya.


"Mungkin dia masih di rumahnya, Ma," jawab Riki mengingat Vanya baru saja pulang ke rumah, mungkin juga wanita itu sedang menyelesaikan ritual paginya pikir Riki.


"Mama, sudah menghubunginya. Tapi tidak bisa, tolong kamu ke rumahnya, Mama menunggunya untuk ke sekolah ada sedikit masalah di sekolah. Mama butuh bantuan Vanya," kata Sela sebelum akhirnya mengakhiri sambungan telepon.


Riki pun menyambar kunci mobilnya yang tergeletak asal di atas meja kemudian keluar dari apartemennya. Bertepatan dengan Felix yang juga akan masuk ke apartemennya.


"Kau di sini?" Tanya Felix.


"Iya, kau juga di sini?" Tanya Riki kembali.


"Di rumah banyak gangguan, di sini lebih leluasa," jelas Felix.


Riki tentu saja mengerti dengan apa yang di maksud oleh seorang Felix.


Jika masih pengantin baru seperti ini maka tidak akan bisa meninggalkan istri walaupun hanya sedetik saja.


"Kau benar."


"Kau di sini membawa wanita mu!" Tebak Felix.


"Itu kau tahu, karena di rumah tidak mungkin," jelas Riki sambil tertawa keras.


"Dasar gila, terserah kau saja!" Felix pun memilih segera masuk.


Sedangkan Riki pun melanjutkan langkah kakinya, bibirnya masih saja tersenyum dengan bahagia.


Hingga akhirnya mengemudikan mobilnya menuju kediaman Vanya sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Sela.


Jika ditanya apakah murni karena perintah dari Sela ataukah karena Riki yang mendadak semakin merasa penasaran pada Vanya?


Sebab, sejak tanpa sengaja terlelap di samping Vanya semakin membuatnya tidak ingin menjauh dari wanita tersebut.


Di mulai saat siang kemarin, saat itu juga dirinya tanpa sengaja tertidur. Menjadikan paha Vanya sebagai bantalnya.


Mungkin jika Vanya tidak bergerak Riki masih saja terlelap dalam mimpi indahnya.


"Kenapa, dia bisa membuat ku tenang?" Lagi-lagi Riki hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri, tanpa ada jawaban pasti dan semakin membuatnya menjadi hampir gila.


Kurang ajar!

__ADS_1


Memang kurang ajar.


Tak percaya rasanya seorang bocah bisa membuatnya mendadak tidak karuan begini.


__ADS_2