
"Kamu Kenapa?" Tanya Riki saat menyadari ada yang aneh dari Vanya.
Aneh seperti apa?
Wanita itu biasanya sangat cerewet, tetapi kini mendadak menjadi pendiam.
Ada apa dengan wanita itu? Adakah sesuatu yang membuatnya menjadi demikian.
"Nggak apa-apa sih Om. Aku cuma bingung mau ngelakuin apa di sini. Perasaan dari tadi cuma diem aja. Bosan tau Om," keluh Vanya menunjukkan raut wajah kesalnya pada Riki.
Riki pun bangkit dari duduknya kemudian ikut duduk di sofa. Tepatnya bersebelahan dengan Vanya.
"Om, aku penasaran deh sama cerita masa lalu Om. Boleh cerita dikit nggak sih Om? Maksudnya, sedikit lebih jelas," Vanya pun menatap wajah Riki.
Kali ini Vanya berharap Riki mau bercerita padanya sebab dirinya memang penasaran saat Riki menceritakan tentang inti dari kisah cintanya di masa lalu.
"Kalau aku tidur di sini berapa bayaran mu?" Tanya Riki menunjuk paha Vanya.
"Gratis, asalkan Om cerita ke aku!" Jawab Vanya dengan kesal karena dirinya sudah tak sabar mendengarkan cerita tentang Riki.
Lagi pula jarang-jarang sekali dirinya menjadi normal begini, itupun penyebabnya karena rasa bosan akibat hanya melihat Riki bekerja seharian tanpa melakukan apapun. Sedangkan Riki langsung saja berbaring, menjadikan paha Vanya sebagai bantalnya. Otak Riki mendadak aneh, tak ada keinginan untuk menikmati Vanya seperti wanita sebelumnya. Bahkan sampai di sini seorang Riki terlihat sangat menghargai Vanya.
"Kamu mau mendengarnya?"
"Ish.....Drama banget deh, ngomong aja Om!" Vanya yang sudah tidak sabar malah di buat kesal oleh Riki.
Duda lapuk itu sepertinya tak sadar telah membuat bocah seperti Vanya hampir mati penasaran di buatnya.
"Aku memiliki sahabat, dia berasal dari keluarga sederhana. Bahkan mungkin bisa di bilang kekurangan bahkan dia hanya tinggal di rumah kontrakan sepetak bersama Ibu dan Ayahnya. Kemudian, singkat cerita aku kasihan padanya dan ku jadikan orang kepercayaan di perusahaan ku, saat itu aku juga masih pegawai di perusahaan milik orang tua ku." Riki pun terdiam mengingat semua kisah masa lalunya yang begitu menyakitkan.
"Kok, diam sih Om. Terus gimana!" Vanya pun masih menunggu meskipun Riki terlihat tidak memiliki keinginan untuk bercerita.
"Lalu, aku juga bertemu dengan seorang wanita jalanan. Bahkan dia tinggal di bawah jembatan bersama Ibu dan adik-adiknya. Singkatnya, aku menyukainya saat aku terus mendekatinya dan kami pun menikah. Hanya ada cinta dan kebahagiaan saat itu sampai aku tahu ternyata dia dan sahabat ku menusukku dari belakang. Dan, aku memilih untuk bercerai," Riki pun memilih untuk mengakhiri ceritanya sebab dirinya tak lagi ingin mengingat semua itu.
Riki tidak lagi sakit hati mengenangnya, hanya saja tak ingin mengingat wajah-wajah pengkhianat yang dulu di anggapnya sebagian dari hidupnya.
Lagi pula sudah ada Vanya yang menggantikan semua luka itu, percayalah jika wanita ini tak akan pernah bisa pergi darinya sampai kapan pun juga.
"Sadis juga ceritanya ya Om, makanya Om milih jadi duda aja. Nggak mau nikah lagi?"
"Tapi, kita akan menikah bukan?" Tanya Riki.
__ADS_1
Plak!
Vanya pun menampar mulut Riki, kesal sekali mendengarnya.
Suka sekali duda lapuk itu membuatnya kesal bahkan kali ini Vanya dengan sengaja menamparnya. Semoga setelah ini tak ada lagi kata tersebut yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa?" Riki pun memilih untuk bangkit sambil tangannya mengusap bibirnya yang cukup sakit.
"Benar-benar tua nggak ada akhlak ya, ngomong ngasal aja!" Omel Vanya dengan kesalnya.
Hingga Vanya pun memilih untuk mengunyah permen karet.
Sedangkan Riki terkekeh melihat kemarahan Vanya, sesaat kemudian duduk kembali di samping Vanya.
"Kenapa kau galak sekali?" Tanya Riki.
Mata Vanya seketika membulat mendengar apa yang di katakan oleh Riki.
Lagi-lagi Riki selalu mengibarkan bendera perang, seakan tak pernah henti membuatnya tenang.
"Galak?" Tanya Vanya penuh amarah.
"Om!" Vanya pun berusaha untuk merebutnya dari Riki, ingin menghapus gambar wajahnya dengan segera.
"Apa?" Riki terus saja menggoda Vanya, seakan menjadi hiburan tersendiri bagi seorang Riki.
"Om, wajah aku ini punya hak cipta. Nggak boleh memotret tanpa ijin yang tertulis. Bisa di denda!" Tegas Vanya.
"Ahahahhaha, ayo ambil!" Riki pun semakin tak kuasa menahan tawa, bocah ini memang aneh dan sangat berbeda dari yang lainnya.
Hingga Riki menjauhkan ponselnya, tak ingin memberikan pada Vanya sama sekali.
Vanya yang kesal memilih untuk berhenti merebut ponsel tersebut, kemudian duduk dengan memunggungi Riki.
Kedua tangannya melipat di dada, mulutnya semakin mengunyah permen dengan cepat. Seakan menyalurkan rasa kesalnya.
"Dasar anak-anak, tapi di sini kau memang terlihat galak!" Riki kembali melihat gambar wajah Vanya pada layar ponselnya.
Kurang ajar nya di hati Riki mengatakan bahwa dirinya sangat gemas dengan ekspresi wajah Vanya yang seperti itu.
"Om, hapus. Nggak lucu tau!"
__ADS_1
"Jangan dong, inikan koleksi," jelas Riki kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Dasar!"
"Apa?" Tanya Riki sambil terkekeh geli melihat tingkah Vanya yang memang sangat kekanak-kanakan, wajah menggemaskan yang mampu membuatnya terus saja terbayangkan.
"Dulak!"
"Dasar bocah!" Riki pun tak dapat menahan rasa gemasnya, hingga akhirnya menggelitik perut Vanya dengan cepat.
Vanya pun terkejut seketika itu, bukannya marah malah tertawa keras karena merasa geli.
"Ahahhaha, geli Om!" Pekik Vanya.
"Kau sangat pintar sekali membuat nama untuk ku ya, rasakan ini!"
Riki terus saja menggelitik Vanya, meskipun Vanya sudah meminta berhenti.
"Udah Om, aku nggak kuat!"
"Minta maaf sekarang!"
"Nggak!"
"Baiklah!" Riki pun terus menggelitik Vanya tanpa hentinya.
"Maaf Om," Vanya pun memilih untuk mengalah, karena benar-benar tidak kuat menahan rasa geli.
Benar saja Riki pun berhenti menggelitik Vanya, merasa kasihan pada bocah ingusan yang membuatnya jatuh hati itu.
Hingga Vanya pun terjatuh di sofa dengan napas yang ngos-ngosan.
"Bagaimana? Ada rencana untuk mengatakan aku sudah lapuk lagi?"
"Hehehe, untuk sekarang ini enggak Om!"
"Mau lagi!"
"Ampun Om!" Vanya pun memilih untuk berlari keluar dari ruangan Riki dengan segera.
Dari pada dirinya malah kembali di gelitik seperti barusan. Tetapi tawanya masih saja menggelegar.
__ADS_1