
"Happy birthday Mom!" Seru Cahaya saat Jessica akan memasuki kamarnya.
Jessica terkejut, matanya melebar seketika itu juga.
"Bukan happy birthday sayang," Puput pun menimpalinya.
"Happy anniversary, buat Mom dan Daddy," jelas Puput.
"Oh, iya. Maaf Mom, Aya salah," Cahaya pun menunjukkan gigi ompong nya, melihat Jessica dengan cengengesan.
Alex yang menyusul Jessica pun ikut tercengang melihat sekitarnya.
Anniversary?
Dalam hati bertanya-tanya apakah benar hari ini adalah hari pernikahannya dengan Jessica.
Alex tidak mengingat sama sekali.
"Kalian lupa ya?" Tanya Puput.
"Mama ingat, makanya semua Mama siapkan bersama dengan Cahaya," Puput tersenyum manis, dirinya sebenarnya ingin membuat suasana rumah menjadi nyaman.
Jessica pun bisa merasakan cinta yang besar di sekelilingnya, sehingga bisa menghadapi segala sesuatunya dengan senyuman dan juga kekuatan.
Tidak merasa sendirian.
Seiring dengan keluarga yang akan menjadi pendukung dalam suka maupun duka.
"Alex?" Tanya Jessica.
Alex pun mengangguk.
"Iya benar, pernikahan yang ke enam atau tujuh tahun?" Alex pun merasa malu, mungkin dari banyaknya tahun tersebut baru kali ini mereka benar-benar menjadi keluarga yang utuh.
"Kamu itu saja lupa!" Puput kesal pada Alex, melupakan hal-hal istimewa yang padahal bisa membuat rumah tangganya menjadi hangat.
"Mom pegel" Keluh Cahaya yang memegang kue.
Jessica pun cepat-cepat mengambilnya, kemudian meletakan pada meja.
"Maaf sayang," Jessica memeluk Cahaya, dan menciumi pipi putri tercintanya.
__ADS_1
"Hehe, Daddy sini!"
Alex pun ikut duduk di samping Cahaya yang bahagia, ada di antara kedua orang tuanya.
"Potong kuenya Dad, sama Mom."
Jessica dan Alex tidak bisa berbicara banyak, apa yang diberikan oleh putrinya sudah membuat mereka benar-benar terkejut.
Kejutan sukses tanpa ada kegagalan, Jessica dan Alex sampai terdiam tanpa kata dengan seketika.
Cahaya tersenyum melihat kedua orang tuanya bersama-sama memotong kue, kemudian menyuapinya.
Mencium pipinya bersama-sama dan Puput pun mengabadikan momen tersebut dengan mengambil ponselnya.
Bibirnya tersenyum puas melihat gambar tersebut.
"Aya juga punya kado buat Mom dan Dad," Cahaya pun bangkit dari duduknya, mengambil kotak di atas ranjang kedua orang tuanya yang sudah disiapkan sejak tadi.
"Ini Mom," Cahaya tersenyum dengan bahagianya.
"Kapan Aya beli ini?"
"Ini nggak beli Mom, disiapin sama Oma"
"Buka dong, setelah dibuka baru bilang terima kasih," kata Puput sambil tersenyum bahagia.
Jessica pun membukanya dan melihat isinya, seketika itu Jessica masih bingung dengan isi dari kotak tersebut, kemudian tangannya mengambil sebuah gambar. Jessica merasa itu adalah dirinya sewaktu masih sekolah. Seketika melihat lebih, melihat ada banyak foto. Banyak foto dirinya di sana.
"Ini foto aku banyak banget Ma, kok bisa banyak di sini. Tapi..." Mendadak kebingungan tapi tidak tahu jawabannya.
Puput pun mengangkat bahunya dengan santai.
"Itu pengagum rahasia mu yang mengambilnya diam-diam," jelas Puput.
Alex pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Jessica.
Alex pun mendesus, itu adalah rahasia terbesar yang selama ini disimpannya rapat-rapat.
Dengan cepat Alex merebutnya, kemudian berusaha menjauhkan dari Jessica.
"Alex! Aku mau lihat, ini apaan sih!" Jessica pun berhasil merebutnya kembali, Alex tidak ingin Jessica terlalu banyak bergerak mengingat kandungannya.
__ADS_1
"Mama?" Tanya Alex dengan wajah memerah menahan malu.
"Aya sama Oma, kita bobo bareng yuk," Puput pun tidak ingin bertanggung jawab atas perbuatannya, segera melarikan diri untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
"Tidak ada yang lebih indah dari sinar rembulan, selain wajah nya yang menawan," Jessica membaca tulisan yang ada dibalik gambar dirinya.
Kemudian sampai melihat beberapa benda miliknya.
"Ini kan pensil kesayangan aku dulu, kamu yang mencurinya!" Jessica menatap Alex dengan mata yang melebar.
"Hehe," Alex cengengesan persis seperti Cahaya saat sedang dalam keadaan darurat.
Mmmmfffffpp......
Jessica hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi wajah suaminya sangat mirip Cahaya, rasa kesalnya berubah seketika menjadi geli.
"Aku dulu sampai nangis-nangis ternyata kamu ya!" Jessica pun kembali melihat setumpuk gambar dirinya.
"Kok banyak banget foto aku, ini jaman jadul. Ini bahkan kepalanya kepotong? Wajar sih, kamera jadul jaman dulu emang suka kepotong kalau ngambil gambar masalahnya?" Jessica benar-benar tidak mengerti apa-apa, mengapa banyak fotonya di sana. Tadi sebelumnya Puput mengatakan dirinya memiliki pengagum rahasia.
Siapa?
"Alex?" Tanya Jessica.
"Em," Alex berpura-pura melihat hal lain, tidak ingin merasa malu oleh pertanyaan Jessica.
"Aku udah tahu kamu suka sama aku sejak dulu, tapi sejak kapan kamu mencuri gambar wajah ku diam-diam?" Jessica tidak kuasa menahan tawa, apa yang dilakukan Alex baru kali ini diketahui.
"Maaf, itu semua diam-diam. Dan Mama mengambilnya dari tempat penyimpanan ku," jelas Alex masih dengan perasaan malu.
Alex mendekati Jessica, memeluk Jessica dari belakang. Mengusap perut buncitnya dengan perasaan nyaman.
"Aku nggak tahu kenapa dari dulu kamu selalu ada dipikiran ku, sampai-sampai larut menjadi pengagum rahasia mu," bisik Alex.
Jessica menutup mata, merasakan pelukan Alex yang begitu menghangatkan tubuh.
"Apa kamu mencintai ku saat ini? Aku takut kehilangan mu," imbuh Alex.
Jessica hanya diam saja, mengatakan iya saja rasanya begitu sulit luar biasa.
Sampai akhirnya Alex memutar tubuh Jessica agar melihat dirinya. Mencium kening Jessica dengan punuh cinta.
__ADS_1
Dengan perlahan Jessica memeluk Alex, menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya.
Kehangatan itu begitu terasa.