
Di waktu yang sama dan di tempat lainnya, di mana pesta masih terus berlangsung dengan meriahnya.
"Berdansa dengan ku?" Adnan pun mengulurkan tangannya pada Rena berharap calon Kakak iparnya tersebut tidak menolak.
Sejenak Rena terdiam untuk menimbang, tapi merasa Adnan begitu berharap akhirnya Rena pun tersenyum dan meraih tangan Adnan. Keduanya pun berdansa dalam diam. Hanya mendengarkan alunan musik yang terus saja di putar. Di saat-saat Rena akan menjadi milik Kakaknya ini, Adnan berharap bisa lebih dekat. Anggap saja untuk membuatnya bahagia, sebab setelah pernikahan Felix dan Rena terjadi, maka Adnan akan melupakan Rena. Menghapus perasaan yang ada meskipun begitu sulit. Sakit? tentunya. Adnan ingin menunggu saat-saat dimana Rena lulus kemudian melamar. Bahkan Adnan, sudah membeli cincin yang akan di berikan untuk Rena. Lagi-lagi Adnan hanya bisa mengelus dada, apa lagi mendengar pengakuan Rena yang juga menyukai Felix. Tentunya Adnan ingin melihat Rena bahagia, sekalipun bukan bersama dengan dirinya. Hingga tiba-tiba saja Rena tersandung, tubuhnya mendadak kehilangan keseimbangan saat salah menginjak gaunnya. Hampir saja terjatuh. Tetapi, beruntung Adnan menahan tubuhnya.
"Kamu baik-baik saja?" Raut wajah panik jelas terlihat. Adnan tidak menyadari sikapnya yang terkesan begitu takut jika Rena terluka.
Rena pun mengangguk, kemudian keluar dari keramaian tamu yang sedang berdansa. Duduk di sebuah kursi sambil melihat kakinya mencoba melepas sepatu hak tinggi nya. Adnan pun menyusul segera berjongkok dan bergegas membantu Rena untuk membuka sepatu hak tinggi nya.
"Terima kasih," Rena pun tersenyum kecil merasa tidak enak hati. Rasanya tidak sopan saat Adnan memegang kakinya, tetapi semua terjadi begitu saja. Adnan melakukan nya tanpa meminta ijin, sehingga tidak ada kesempatan untuk menolak.
"Kamu baik-baik saja?"
"Iya, sekali lagi terima kasih."
"Aku sudah kenyang dengan terima kasih mu itu."
Keduanya pun tersenyum hingga merasa begitu dekat dan terasa begitu nyaman.
"Rena, ada apa?" Reyna menghampiri putrinya melihat Rena tanpa sepatu nya.
"Umi, tadi kaki aku tersandung. Dan sedikit sakit. Boleh nggak aku pulang duluan?" Tanya Rena.
__ADS_1
"Boleh dong," dengan cepat Nayla menimpali, sebab tidak tega melihat wajah Rena.
"Kamu yakin?" Reyna pun bertanya pada Nayla, sebab pesta masih berlangsung dengan meriahnya. Para tamu undangan pun masih memenuhi pesta, sedangkan Rena adalah orang yang paling penting.
"Nggak apa-apa, ada Felix yang mengantarkan," Nayla pun mengedarkan pandangan nya mencari putra sulung nya yang harus mengantar calon istrinya. Sayang nya tidak terlihat batang hidung nya sama sekali, entah dimana Felix kini berada.
"Adnan, saja yang mengantarkan kalau begitu," Reyna pun menyarankan agar Adnan yang mengantarkan Rena. Rasanya tidak ada masalah sama sekali, sebab keduanya berteman sudah sejak kecil. Bahkan sudah seperti saudara sendiri, rasanya tidak ada lagi rasa canggung apa lagi curiga.
"Iya benar," Nayla pun cepat-cepat menyetujui nya, mengingat Felix tidak juga terlihat.
"Emang nggak apa-apa, Bun? Rena tunangan nya Kak Felix," Adnan pun mengingatkan status Rena kini.
Rena menarik napas berat, tujuannya menyetujui semua itu hanya untuk membuat pelajaran untuk Felix. Lelaki itu sudah menghina begitu kejam, bahkan mengatakan dirinya hanyalah wanita murahan. Tidak ada yang gratis dan mudah, Felix harus merasakan sebuah keadaan yang mendesak. Membuatnya tidak bisa menghindari, bahkan agar Felix tahu jika wanita murahan yang di sebutnya kini adalah calon istri nya sendiri.
Akhirnya Rena pun pulang di antar oleh Adnan, mengendarai mobil matic milik nya yang dibeli dari hasil kerja kerasnya sendiri. Keduanya tampak hening, tidak ada yang berbicara.
"Makasih, ya," akhirnya suara Rena memecahkan keheningan di antara keduanya.
Adnan pun mengangguk setelah memarkirkan mobilnya di depan rumah milik Rena.
Rena pun turun dari mobil kemudian berdiri di dekat mobil, kedua tangannya memegang hak tinggi miliknya.
"Aku pulang," pamit Adnan.
__ADS_1
Rena pun mengangguk dan melambaikan tangan nya. Adnan pun segera melajukan mobilnya, tidak kuasa melihat wajah Rena terus-menerus. Hanya berdekatan bahkan semakin dekat tanpa memiliki itu adalah hal yang sangat menyakitkan. Adnan terlalu pintar menyembunyikan hati yang luka, sehingga tidak ada satu orang pun yang tahu tentang hatinya saat ini.
Adnan pun menepikan mobilnya tidak jauh dari rumah Rena, sejenak menarik napas dalam-dalam. Berharap hati dapat di ajak bekerja sama untuk merelakan, sampai akhirnya Adnan melihat sesuatu di jok mobil tempat dimana Rena duduk barusan. Sebuah liontin perak berbentuk love, Adnan pun mencoba untuk mengambilnya. Kemudian membukanya, tampak ada dua foto Rena. Saat masih kecil dan sesudah dewasa. Adnan pun tersenyum melihatnya, ibu jarinya mengusap foto tersebut. Sampai akhirnya sebuah pesan pun masuk, Adnan pun segera melihatnya.
( Hay, makasih ya, ) Rena.
Bibir Adnan terus tersenyum melihat siapa yang mengirim pesan padanya.
Ibu jari Adnan pun bergerak untuk membalas pesan, tapi tidak. Adnan, memilih untuk mengurungkan niatnya. Sampai akhirnya memotret kalung milik Rena dan mengirimkan gambarnya pada Rena.
( Itu punya aku, ) balas Rena.
Rena baru menyadarinya, mungkin jika tidak melihat gambar yang di kirimkan oleh Adnan, maka dirinya belum mengingat sama sekali.
( Besok aku kembalikan, di kampus )
Adnan.
( Terima kasih bapak Dosen, ) goda Rena dengan emoji senyuman.
"Biarlah kita lebih dekat, sebelum kamu menjadi milik Kakak ku," Adnan pun membayangkan wajah Rena, seakan berada di sampingnya.
Sayangnya bayangan itu pun menghilang begitu saja, Adnan pun tersenyum menyadari dirinya yang begitu gila memikirkan Rena terus-menerus.
__ADS_1