
Alex cengengesan membenarkan apa yang dikatakan Jessica.
"Dulu dan sekarang beda istri ku!"
"Tetap saja aku di panggil monyet sama kamu, dulu!"
"Tapi itu dulu, sebelum kamu tau aku memendam rasa, sekarang kan kamu tahu, aku cinta kamu," Alex pun mengkedipkan sebelah matanya menggoda Jessica.
"Ih, genit," Jessica tersenyum sambil mencubit Alex yang kini duduk di sampingnya. Sejak kapan Alex yang dulunya sangat jail kini berubah romantis. Aneh saja rasanya, mengingat pertemanan mereka yang dulunya kocak.
"Aduh atit," seakan menjadi cadel, Alex pun mengusap perutnya.
"Dasar aneh!"
"Hehehe, aku nggak ada pantas-pantas nya ya, kalau romatis-romantisan?
Alex menggaruk kepalanya sambil menunjukkan gigi rapinya pada Jessica.
Dirinya juga merasa ngeri saat seperti ini, tapi bukankah romantis dengan istri adalah keharusan? Dan itulah yang sedang Alex lakukan, mungkin lambat laun Jessica akan terbiasa.
"Nggak gitu juga, cuma masalah nya lucu aja. Orang dulu aku sering jadi asisten dadakan kamu. Ngipasin asap rokok mu, contekan amburadul, belum lagi nyolong mangga di samping sekolah. Mana yang punya galak banget," ujar Jessica sambil mengusap wajahnya.
Bahkan bajunya di jadikan wadah mangga curian itu. Beruntung masih ada tanktop, sehingga tidak menampakkan perutnya.
"Dulu itu aku nakal ya?"
Jessica diam sambil menatap wajah Alex yang tampak sangat menunggu jawaban darinya.
"Lumayan, jangan salahkan Cahaya juga nakal."
"Dia itu anak baik, sejak kapan Cahaya nakal?" Alex pun membela anaknya yang cantik itu, walaupun nakal dimata orang lain, tetapi dimatanya adalah yang paling baik.
Tok tok tok.
"Masuk!"
"Dok, ini rujaknya."
"Ya."
Alex pun membukanya dan melihat isinya.
"Kok dimakan duluan, yang minta kan aku!" Jessica kesal pada Alex, sebab malah dimakan sendirian.
"Aku mencobanya dulu Tuan putri, jangan sampai terlalu pedas, kayak cinta aku ke kamu," jelas Alex sambil tersenyum bahagia.
"Alex, ish. Aku kok geli ya?" Tanya Jessica dengan bulu kuduk berdiri.
"Kok geli, mau di obok-obok nggak?" Goda Alex sambil menaik turunkan kedua alis matanya, melihat Jessica dalam jarak beberapa jengkal saja.
Wajah Jessica memerah seketika itu juga, tawa lucunya berubah seketika meneguk saliva dengan pahit
"Kok diam?" Wajah Alex masih sangat dekat dengan wajah Jessica, menunggu istrinya itu untuk menjawab pertanyaan konyolnya.
"Kamu lama-lama ketularan Rima!" Jessica pun memukul pundak Alex, rasanya begitu aneh namun bisa di bilang cukup lucu dan lumayan menghibur.
__ADS_1
"Aku kan tanya, apa hubungannya dengan Rima?" Alex pun tersenyum jail, "atau?" Alex menggantung ucapannya sambil menatap wajah Jessica penuh intimidasi.
"Atau apa?" Tantang Jessica.
"Atau kamu lagi" Mulut Alex mendadak di bekap oleh Jessica.
"Kamu nggak usah aneh-aneh, aku nggak mikirin seperti yang kamu pikirkan!" Alex pun melepaskan tangan Jessica yang membekap mulutnya.
"Emang aku mikirin apa?"
Pertanyaan jebakan!
Jessica mendadak gagu dan kebingungan.
"Hayo..." Alex menunjuk wajah Jessica sambil menggoda istrinya itu.
"Nggak ada, apaan sih!" Jessica pun berusaha untuk mengelak.
"Ayo makan, aku udah nggak sabar!" Jessica pun mulai menatap rujak pada meja, mengalihkan perhatian dari pada harus membahas hal yang menyudutkan dirinya karena pertanyaan jebakan Alex.
"Ayo," Alex pun mendekati Jessica.
"Mau apa?"
"Katanya ayo makan."
"Terus?"
"Makan kamu kan?"
"Oh, rujak kirain makan Mommy," goda Alex lagi sambil mencolek dagu Jessica.
"Alex" Jessica benar-benar geli melihat tingkah Alex yang seperti ini sangat di luar ekspektasi.
"Mau pakai sendok atau pakai mulut aku?"
"Pakai sendok!" Jessica memberikan sendok pada Alex, agar tidak lebih banyak godaan yang terlintas padanya.
"Pakai jari?"
"Alex!" Seru Jessica tidak kuasa menahan malu.
"Tapi Mommy suka kan?" Alex melebarkan matanya menatap Jessica dengan senyuman manis.
"Alex!" Tidak tahu harus bagaimana lagi, tetapi saat ini Alex begitu jail padanya. Rasanya ingin sekali Jessica menaiki atap saja demi bisa menjauh untuk sementara waktu ini.
Alex pun tersenyum dan mulai menyuapi Jessica.
"Ya udah, ayo buka. Buka mulut, bukan buka yang lainnya ya."
"Aku pulang aja deh," kali ini Jessica yang mengancam, merasa sudah tidak kuat dan tidak tahu cara menghadapi kejailan suaminya tersebut.
"Jangan dong, ayo makan dulu."
Jessica pun mengerucutkan bibirnya, kemudian Alex pun membujuk Jessica yang akhirnya membuka mulutnya juga.
__ADS_1
Akhirnya Jessica tahu betapa nikmat di suapi suami saat sedang mengandung begini, mungkin dulu Cahaya tidak pernah merasakan nya saat dalam kandungannya.
Akan tetapi, Alex selalu berusaha ada untuk Cahaya, hingga saat rapat wali murid saja Alex yang datang ke sekolah.
Membuat Cahaya bahagia tidak terkira, mengenalkan Daddy nya pada teman-teman nya. Bahwa dia pun memiliki Daddy juga.
Sampai akhirnya tangan Alex sendiri yang membersihkan bibir Jessica yang terkena bumbu rujak, kemudian memasukan ke dalam mulutnya sendiri.
"Jorok!"
"Siapa bilang, itu enak."
Jessica pun bingung, tetapi kembali menerima suapan dari Alex.
Sampai akhirnya tandas di makan oleh Jessica sendiri.
"Aku ngantuk."
Alex pun melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.
"Kita jalan-jalan saja, masih sangat pagi untuk tidur siang," tawar Alex berharap Jessica setuju.
"Kamu nggak apa-apa? Bukanya kamu kerja?"
"Nggak, satu minggu lagi aku akan menjadi Di rektur di rumah sakit ini, jadi peraturan ada pada ku," papar Alex.
"Bukanya Devan di rektur?"
"Devan mengalihkan pada ku, sepertinya dia tidak ingin terlalu banyak pekerjaan. Lagi pula dia juga harus mengurus perusahaan sampai Felix dan Adnan mampu mengurus nya."
"Begitu? Aku juga masih harus ngurus perusahaan mendiang Papa, walaupun sekarang ada orang kepercayaan Papa yang menanganinya. Tetap saja aku juga harus ikut, sampai Cahaya mampu mengurusnya saat dewasa nanti," Jessica dan Rara sudah mendapatkan bagian masing-masing dari kekayaan mendiang kedua orang tua mereka.
Jessica memutuskan sementara waktu perusahaan nya di urus oleh orang kepercayaan mendiang sang Papa.
"Iya, semoga anak kedua kita laki-laki. Sebenarnya tidak masalah jika pun perempuan, tapi ya sudah lah. Ayo kita jalan-jalan."
Jessica pun mengangguk, Alex kembali membuka pintu untuknya. Hingga Jessica kembali tersenyum dan memeluk lengan Alex dengan cepat.
"Kita jalan-jalan ke mana Ratu?"
"Ke hati mu Raja."
Alex pun berhenti melangkah, begitu pun dengan Jessica.
"Coba ulangi lagi?" Pinta Alex penuh kebahagiaan.
"Apa?" Jessica bertanya seolah tidak tahu apa-apa.
"Em," Alex mengangguk dan menggelitik Jessica.
"Hehehe, ampun," seru Jessica tanpa sadar.
"Woy, brisik. Ini rumah sakit!" Devan tiba-tiba muncul, kemudian menegur Alex dan Jessica.
Jessica dan Alex pun tersadar, kemudian menghentikan tawa mereka berdua.
__ADS_1
"Rian!" Jessica menunjuk seseorang yang berjarak beberapa meter darinya.