Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
KTP Nenek mu!


__ADS_3

"Selamat pagi sayang," Reyna membangunkan putrinya yang masih saja berada di bawah selimut.


"Umi! Apaan sih! Masih ngantuk!" Rena pun menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya, sebab gorden yang di buka membuatnya terkena cahaya matahari. Mendadak dirinya menjadi vampir yang takut pada cahaya matahari.


"Bangun, katanya hari ini mau ke kampus," ujar Reyna mengingatkan putrinya.


"Iya sih," Rena pun mengingat dirinya harus bertemu dosen pembimbing yang tidak lain adalah Adnan.


"Ya sudah, ayo bangun!!!" ucap Reyna lagi.


"Mi, bisa nggak satu kilometer lagi aja. Sekali belokan, sekali tanjakan," tawar Rena yang masih belum ingin keluar dari selimut hangatnya.


"Dasar, anak ini. Ada-ada saja, cepat bangun!" Reyna menarik selimut putrinya agar segera bangun.


"Mi!"


"Kamu sudah mau menikah, kebiasaan buruk ini sudah waktunya di rubah!"


"Huuueekkk!" Rena pun ingin muntah mendengarnya. Sebab, menikah dengan Felix bukanlah impian. Tetapi Reyna malah berpikir lain.


"Kamu nggak hamil kan?" Reyna ingin sekali memukul wajah anaknya itu jika itu benar adanya.


"Nggak lah, Mi. Enak aja!"


"Bagus, tapi kamu suka Felix tidak? Atau kita ke rumah sakit saja tes perawan?" tawar Reyna.


Dirinya merasa ada sesuatu yang janggal, sebab putrinya sepertinya tidak melakukan apa-apa dengan Felix. Hanya saja, Nayla yang saat itu terlalu shock melihat Felix dan Rena.


"Nggak, aku nggak mau!" Dengan segera dirinya melesat menuju kamar mandi untuk menyelesaikan ritual paginya.


Reyna hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku putrinya. Tetapi, dirinya masih saja penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi jika tidak terjadi apa-apa, mengapa Rena menyetujui menikah dengan Felix. Lagi pula Reyna sangat mengenal Felix sejak kecil, tidak ada sedikit tergambar dalam dirinya menjadi seorang pria kurang ajar. Pikiran Reyna kacau jadinya.


"Lebih baik aku bicarakan ini pada Nanda," gumam Reyna. Seperti biasanya, Reyna yang sudah menjadi seorang ibu rumah tangga kini menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan anaknya.


"Pagi Umi," Nanda pun memeluk Reyna dari belakang sejenak kemudian duduk di kursi.


"Pagi juga, Abi......." Reyna tersenyum dengan bahagia melihat suaminya yang selalu saja terlihat tampan di matanya. Reyna ingin sekali membahas kecurigaan nya perihal Rena dan Felix, tetapi sejenak di urungkan. Menunggu waktu malam agar lebih santai dan pikiran pun lebih jernih. Sebab, pagi-pagi begini suaminya tersebut sudah harus berangkat dinas. Rasanya waktunya memang kurang tepat. Lagi pula Reyna tidak mau anaknya salah dalam mengambil keputusan menikah bukan hal main-main. Dirinya benar-benar tidak ingin menjadi terpecah-belah dengan Nayla karena Felix maupun Rena.


"Kamu mikirin apa?" Tanya Nanda.


"Mikirin kamu, lah," goda Reyna.


Apa lagi dengan seragam yang membuatnya semakin berkarisma.


"Rena, di mana?"


"Masih di kamarnya, biasalah. Dia itu tidak suka pagi," Reyna pun mengambilkan nasi untuk Nanda.

__ADS_1


Keduanya pun memulai sarapan dengan sedikit perbincangan kecil, setelah itu Nanda pun berpamitan.


"Hati-hati di jalan ya, Abi," Reyna tersenyum penuh kebahagiaan menatap wajah suaminya. Mengantarkan hingga ke teras, menyaksikan sendiri saat-saat suaminya akan bekerja.


"Iya," Nanda mencium kening Reyna kemudian berangkat bekerja dengan sepeda motor dinasnya.


Sesaat kemudian Reyna pun ingin melihat Rena, namun saat dirinya baru saja memutar badan sudah di kagetkan oleh Rena.


"Dooor!" Seru Rena.


Reyna pun tersentak, beruntung tidak terkena serangan jantung karena keusilan putrinya.


"Kamu itu, ya! Gimana kalau jantung Umi copot?" Reyna menjewer telinga Rena hingga meringis.


"Kan baru kalau! Nyatanya Umi baik- baik saja," Rena pun mengusap telinganya yang terasa begitu sakit.


"Oh, jadi kamu senang kalau Umi serangan jantung?"


"Ya ampun," Rena pun mendesus kesal, berdebat dengan wanita yang di cintainya itu memang tidak akan pernah menjadi pemenangnya.


"Aku harus ke kampus Umi, maaf deh."


Rena memilih mengalah, dari pada harus mendengarkan omelan yang tidak akan ada hentinya tersebut.


"Ya sudah, sekalian saja. Umi numpang sama kamu. Umi mau ke salon."


"Ya sudah, tunggu sebentar. Umi mau mengambil dompet dulu."


Reyna pun kembali dengan dompet di tangannya, setelah itu mengemudikan mobilnya dengan Rena yang duduk di sampingnya.


"Gimana skripsi kamu?" Tanya Reyna sambil terus mengemudikan mobil.


"Stres Mi, pastinya berat badan aku udah turun sekarang," Rena pun mendesus.


"Semangat dong!"


Ciiit!


Tiba-tiba Reyna pun menghentikan mobilnya dengan mendadak.


"Umi!" Teriak Rena, merasa sakit saat dahinya terbentur pada dashbor mobil.


"Maaf, itu ada tilang," Reyna pun menunjuk ke depan.


Kemudian seorang polisi mendekati mobil Reyna dan mengetuk kaca mobilnya. Reyna pun membuka pintu hingga tampaklah seorang polisi.


"Selamat pagi Ibu, boleh tunjukkan SIM nya?"

__ADS_1


Reyna pun mengambil dompetnya kemudian mengambil sebuah benda tipis dan memberinya pada polisi tersebut. Sang polisi pun segera melihatnya.


"Mohon maaf Ibu, ini kartu suntik KB," kata Polisi tersebut sambil mengembalikan pada Reyna.


"Benarkah?" Reyna pun kembali mengambilnya kemudian melihat nya dengan jelas.


"Emmmfffff......." Rena pun menahan tawa saat melihat wajah Reyna yang memerah karena menahan malu.


Reyna pun menatap tajam Rena sejenak setelah itu kembali berfokus pada dompetnya.


"Pak polisi, sepertinya SIM saya tertinggal di rumah," kemudian Reyna melihat Nanda yang baru saja memarkirkan sepeda motornya tidak jauh dari mobilnya.


"Abi!" Teriak Reyna.


"Umi!" Reyna sampai menutup telinganya, Uminya itu memang suka sekali sesukanya.


Nanda pun menoleh.


"Sini!" Reyna menggerakkan tangannya meminta Nanda datang.


Nanda pun mendekati Reyna dan bertanya.


"Ada apa, Ibu?" Tanya Nanda.


"Ck!" Reyna berdecak kesal melihat suaminya yang seakan asing saat melihatnya.


"SIM, Umi ketinggalan di rumah."


"Mohon maaf Ibu, silahkan tanda tangani surat tilang," Nanda pun menunjuk polisi sebelumnya untuk mengeluarkan surat tilang pada Reyna.


"Minta KTP nya Ibu."


"KTP Nenek mu! Awas kalau sampai kamu pulang ke rumah!" Seru Reyna sambil menahan kesal. Karena Nanda tidak bisa menolongnya kemudian Reyna turun dari dalam mobilnya.


"Bawa saja mobil ini untuk mu!" Reyna pun memberikan kunci mobilnya pada polisi yang menilang mobilnya di awal.


"Maksudnya ibu?" Tanya Polisi itu tidak mengerti.


"Ini surat-suratnya. Bawa untuk mu!" Reyna pun segera pergi setelah memberikan mobil kesayangan Nanda untuk orang lain.


"Umi!" Seru Nanda panik.


"Bodo!" Reyna pun segera menumpangi taksi sebelum kemudian pergi dengan rasa kesalnya sempat berkata.


"Jangan sampai kamu pulang ke rumah!"


Nanda pun mendesus dengan putus asa, apa yang bisa di lakukan jika istrinya sedang datang bulan. Nanda pun masih mempertahankan harga dirinya di depan bawahan nya walaupun hatinya ketakutan jika ancaman istrinya memang benar. Tapi tetap saja hatinya takut, bagaimana kalau ancaman Reyna menjadi nyata. Akhirnya Nanda pun berteriak di dalam hatinya.

__ADS_1


"Umi" itu tidak akan ada yang mendengar.


__ADS_2