Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Mas janji.


__ADS_3

Tidak ingin membuat Vanya salah paham Riki pun segera menyusul Vanya.


"Mas Riki!" Indah benar-benar merasa kesal setelah diacuhkan begitu saja, rasanya begitu memalukan apa lagi di saksikan oleh banyak orang.


Sementara apa itu menjadi masalah untuk Riki? Tentu saja tidak.


"Vanya!" Riki pun berusaha untuk berlari keluar menyusul Vanya sebelum pergi.


Tapi sayangnya taksi yang ditumpangi oleh Vanya sudah melesat dengan secepat mungkin.


Riki pun segera menuju mobilnya, memacunya di jalan raya.


Mencoba untuk menghadang taksi yang ditumpangi oleh Vanya.


Tidak perduli berapa kecepatan mobil yang dikendarainya akhirnya Riki pun menghadang taksi di depannya.


Cit!


Taksi tersebut berhenti mendadak, membuat Vanya terhuyung ke depan.


Hingga sesaat kemudian Riki pun menariknya keluar dari taksi yang di tumpanginya.


"Lepas!" Vanya menolak untuk dibawa pergi oleh Riki, rasa kesalnya masih begitu luar biasa.


Sehingga keputusannya sudah bulat untuk melupakan Riki untuk selamanya.


"Ikut!"


"Apaan sih!"


Riki tidak perduli, saat ini Vanya sudah berada di dalam mobilnya. Segera Riki pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang bahkan dirinya juga tidak tahu kemana arah dan tujuannya saat ini.


Hingga saat berada di jalanan sepi Riki pun menepikan mobilnya.


"Bukain, aku mau turun!"


Vanya mencoba untuk turun, tetapi tidak bisa. Hingga mulutnya terus saja berbicara tanpa hentinya.


Hinaan pun terhadap Riki tidak pernah ada habisnya.


"Bukain, apaan sih! Kita nggak ada hubungan lagi! Kamu itu cuma laki-laki jahat! Aku nggak mau kenal kamu lagi!"


Riki hanya diam saja membiarkan Vanya untuk berbicara dengan sesukanya, tapi percayalah ada kerinduan yang mendalam saat ini.

__ADS_1


Hingga Riki pun mencoba untuk memeluk Vanya, namun tidak dengan sebaliknya.


Yang ada hanya ditolak, tetapi meskipun demikian Riki tetap saja berusaha keras untuk bisa memeluk Vanya.


Hingga Vanya pun merasa lelah, kemudian menyerah dan Riki pun berhasil memeluknya dengan erat tanpa ingin melepaskan lagi.


"Lepasin!" Seru Vanya dengan penuh kemarahan, dirinya memang merindukan Riki. Tetapi saat melihat hal itu membuatnya menjadi lebih memilih untuk pergi tanpa ingin melanjutkan hubungannya dengan Riki.


"Mas, kangen banget," kata Riki sambil terus memeluk Vanya dengan eratnya, paling tidak pelukan ini bisa membuat rindunya sedikit terobati.


Vanya pun memilih untuk membuang pandangannya, merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Riki.


"Sayang, kamu nggak kangen sama Mas?"


Akhirnya Vanya pun kembali melihat Riki yang kini terus saja menatap dirinya.


"Kangen, makanya aku kabur dari rumah malam-malam gini ke rumah Om, tapi nggak ada. Akhirnya aku nekat ke tempat hiburan malam itu, sampai sana ternyata Om sedang bahagia! Aku kira sayang beneran, ternyata....." Vanya pun kembali melihat ke arah luar dari jendela mobil.


Hatinya benar-benar campur aduk, rindu, benci dan cemburu benar-benar menjadi satu.


Bayangkan saja dirinya membawa kerinduan yang begitu mendalam mencari dengan penuh semangat bahkan tidak perduli pada waktu yang sudah malam dan tempat yang sangat mengancamnya.


Namun apa? Sampai di sana hanya kecewa yang didapatkan.


"Vanya," Riki pun mencoba untuk membelai rambut Vanya, tapi dengan cepat Vanya menepisnya.


Rasanya masih saja kesal, semua ini tentunya karena Riki dan juga mantan istrinya.


"Udahlah, mendingan balikan lagi sama mantan istrinya. Masih cinta kan?"


Riki pun mengerti dengan keadaan ini, dirinya merasa bersalah saat melihat Vanya yang begitu berusaha untuk mencari dirinya.


"Nggak gitu juga, kami bertemu tanpa sengaja. Jangan berpikir Mas ada hubungan sama dia," Riki pun berusaha untuk menjelaskan pada Vanya, berharap jika bisa dimengerti.


Sayangnya Vanya tidak perduli dan tidak mengerti sama sekali.


"Bohong! Udahlah, aku mau pulang. Aku turun di sini aja!"


"Vanya. Mas, serius. Kami bertemu tanpa sengaja, kalau memang disengaja mengapa aku meninggalkannya di sana. Dan, memilih untuk mengejar mu?"


Vanya pun terdiam saat merasa apa yang dijelaskan oleh Riki cukup masuk akal, tetapi bagaimana pun juga Riki sudah menghilang dan tidak menempati janjinya tentang memperjuangkan hubungan mereka.


Semua itu tidak mudah untuk dimaafkan, Vanya masih memilih untuk pergi dari hidup Riki dan mungkin ini bisa menjadi pertemuan terakhir kalinya.

__ADS_1


"Terus, selama ini kemana aja? Ngilang gitu aja nggak tahu kemana, katanya sayang. Katanya cinta, tapi apa?"


Riki pun mengerti dengan isi pikiran Vanya, tetapi semua itu ada penjelasannya.


"Mas, sedang berusaha untuk membuktikan bahwa kamu benar-benar mencintai Mas. Mas, nggak mau nantinya kamu menyesal dan penyesalan datang saat perjuangan dan usaha yang kita lalui bersama."


Vanya tidak ingin mendengarkan penjelasan yang cukup aneh itu.


"Katakan saja tidak cinta" Ketus Vanya.


"Vanya, usiamu masih sangat muda. Mas takut kamu masih cinta-cintaan saja yang kemudian harinya menjadi penyesalan," kata Riki mencoba meyakinkan Vanya.


Namun tiba-tiba saja air mata Vanya menetes, mungkin untuk pertama kalinya Riki melihat ini.


Tentu, rasanya cukup aneh melihat ini semuanya.


Bahkan Riki sampai shock melihatnya.


"Aku nggak ngerti gimana dan kenapa, tapi kalau nggak serius dari awal seharusnya nggak usah memulai!" Papar Vanya.


Tangannya pun bergerak mengusap air matanya yang menetes, rasanya sangat menyakitkan sekali.


"Katanya sayang, katanya cinta, tapi pergi tanpa kabar sama sekali. Terus aku nyariin kesana, kesini, sampai akhirnya kita ketemu. Terus aku dengar alasannya yang nggak masuk akal, kalau memang nggak sanggup untuk memperjuangkan aku, udah, nggak usah mendramatisir keadaan biar aku nggak berharap. Sekarang ini aku nyariin, buat apa? Cuma buat nanya aja sebenernya aku menunggu sesuatu yang pasti atau hanya sekedar mimpi yang diberikannya saja?" Vanya pun tidak tahu lagi harus mengatakan apa.


Air mata yang menetes rasanya cukup menjelaskan tentang hati yang tidak baik-baik saja, sungguh bermain-main dengan perasaan adalah suatu hal yang cukup menyakitkan.


Tetapi bagaimana dengan Riki? Riki malah merasa semakin bersalah, dirinya yang pergi begitu saja padahal ada hati yang begitu besar menunggu dirinya.


"Mas, sayang sama kamu," Riki pun mencoba untuk memeluk Vanya.


Tapi untuk kali ini pun masih di tolak, Vanya benar-benar tidak ingin dipeluk oleh Riki.


"Sayang aja nggak cukup! Ucapan aja nggak cukup kalau nggak ada bukti!"


Riki pun mengerti kini dirinya yakin pada cinta Vanya yang memang benar-benar tulus untuk dirinya.


"Baiklah, Mas akan memperjuangkan cinta kita. Mas, janji, Mas juga sayang sama kamu. Mas, menderita, Mas tersiksa tanpa kamu."


"Mas bohong!"


"Mas serius. Jangan marah lagi dong, Mas nggak bohong sama kamu," Riki pun memeluk Vanya dengan eratnya.


Kali ini Vanya pun diam saja, menerima saat pelukan hangat Riki terasa.

__ADS_1


__ADS_2