Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Tak suka dengan pengkhianatan..


__ADS_3

Rasa penasaran tak dapat terbendung lagi sudah dua hari berlalu dari semenjak mengantarkan Vanya ke Mall untuk berbelanja tepatnya saat itu Riki menunjukan foto seorang pria yang tak lain adalah kekasih Vanya, namun di foto tersebut bukannya Vanya tetapi wanita lain yang begitu mesra.


Sebenarnya Riki tak ingin perduli, tetapi sampai detik ini Vanya masih saja begitu dekat dengan kekasihnya tersebut. Membuat Riki kesulitan untuk berdekatan dengan Vanya. Sungguh sangat membuat pria itu kepanasan seketika.


Akhirnya hari ini memutuskan untuk meminta Renita mendatangi ruangannya.


Riki tak suka berbasa-basi karena dirinya lebih suka apa adanya tanpa basa-basi.


Kini Renita duduk di ruang Presdir menatap Riki yang duduk di kursi kebesarannya. Entah apa penyebabnya sehingga memanggilnya ke ruangan tersebut.


Ruangan yang kini minim udara membuat jantungnya berdegup kencang karena menantikan kalimat yang di ucapkan oleh Riki.


Apakah dirinya memiliki kesalahan?


Renita benar-benar tidak tahu letak kesalahannya, tetapi apa yang membuat Riki memanggilnya.


Tidak berani melihat mata pria itu, Renita hanya menunduk sambil meremas kedua tangannya saling bergantian.


"Apa kau kenal dengan laki-laki ini?" Riki pun meletakkan ponselnya pada meja, mendorongnya hingga akhirnya ponsel tersebut terdorong ke arah Renita.


Renita melihat ada fotonya bersama dengan Rangga, tepatnya dua hari yang lalu dirinya memakai pakaian tersebut.


Apakah Riki memotretnya secara diam-diam?


Untuk apa?


"Apa kau mendengar pertanyaan saya?"


Renita pun mengangguk, meskipun masih belum mengerti dengan tujuan Riki.


"Siapa laki-laki itu?" Tanya Riki lagi.


"Namanya Rangga, Pak Presdir"


"Hubungan di antara kalian berdua seperti apa?" Riki pun memperjelas pertanyaannya, mungkin bisa Renita menjelaskan lebih lanjut.


"Kami berpacaran. Dan sudah beberapa bulan ini," jawab Renita.

__ADS_1


Meskipun sebenarnya banyak pertanyaan yang kini bersarang di dadanya, tetap saja bibirnya tidak berani mengeluarkan kalimat-kalimat tersebut.


Sedangkan Riki terdiam sejenak mendengar yang di katakan oleh Renita. Tetapi menyimpulkan ada sedikit sandiwara yang tengah di mainkan oleh pihak laki-laki itu.


Namun juga ada hal baiknya, artinya dalam waktu dekat ini Vanya dan lelaki itu harus berakhir. Karena Riki tak mau berlama-lama untuk berjauhan dengan Vanya.


"Kau mengenal wanita ini?" berikutnya Riki pun menunjukan foto Vanya pada ponselnya yang lain.


Renita pun melihatnya dengan jelas, kepala Renita mengangguk sebagai jawaban.


"Kau mengenalnya?" Riki butuh jawaban berupa kalimat, bukan hanya sekedar anggukan kepala saja


Karena apa?


Karena jawaban Renita sangat membuatnya penasaran, apa saja jika menyangkut Vanya maka rasa penasaran Riki pastinya sangat besar.


"Dia adik sepupu Rangga." Jawaban yang cukup mencengangkan.


Vanya mengatakan bahwa Renita adalah Kakak sepupu Rangga, sedangkan sebaliknya Renita mengatakan bahwa Vanya adalah adik sepupu Rangga.


Ini sungguh luar biasa, permainan bocah ingusan tersebut cukup mencengangkan sekali.


"Apa kalian pernah bertemu?"


"Waktu itu kami bertemu tanpa sengaja di swalayan, Pak Presdir"


Beberapa hari yang lalu Renita dan Rangga tengah berbelanja banyak barang, namun saat keduanya sedang sibuk memilih barang-barang yang diperlukan, tiba-tiba ada seorang wanita yang melihat keduanya.


Wanita tersebut bernama Vanya, saat itu Rangga berbisik padanya jika Vanya adalah adik sepupunya.


Hingga membuat Renita mengurungkan amarahnya, malah tersenyum ramah pada Vanya.


Saat itu pula Vanya tersenyum ramah padanya, setelah Rangga menariknya sedikit menjauh dari Renita.


Sesaat kemudian kembali lagi bergabung, Vanya tampak ramah. Bahkan sampai mengajak Renita berkenalan.


"Aku Vanya."

__ADS_1


"Renita," Renita pun tersenyum ramah, bagaimana pun Vanya adalah bagian dari anggota keluarga Rangga pikir Renita saat itu


Sedangkan begitu pula dengan Vanya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Kembali pada Riki yang mendengarkan penjelasan Renita. Menganggukkan kepalanya sambil tersenyum samar.


Karena apa?


Karena sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi, kali ini apapun alasan sudah pasti Vanya dan Rangga berakhir.


"Saya, tidak ingin membicarakan tentang masalah asmara mu selanjutnya bagaimana. Karena itu urusan mu. Tapi wanita ini," Riki menunjuk ponselnya, di mana foto Vanya terlihat di sana.


Membuat Renita pun melihat arah yang ditunjuk oleh Riki.


"Dia juga kekasih dari pria ini," papar Riki.


Renita cukup tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh Riki.


Rasanya tak mungkin, sebab Rangga yang mengatakan bahwa keduanya adalah saudara.


Lantas bagaimana bisa saat ini Riki mengatakan bahwa mereka berpacaran.


Ini benar-benar sangat membingungkan sekali, apakan harus percaya pada Riki atau tidak.


Tetapi apa tujuan Riki jika hanya berbohong, rasanya Riki adalah Presdir yang tak pernah perduli pada karyawan mana pun.


Tidak mungkin juga mengarang cerita yang hanya membuang-buang waktunya saja.


"Dia, Vanya. Silahkan temui ini alamatnya," Riki memberikan sebuah alamat tempat tinggal Vanya seperti yang diketahuinya selama ini.


Agar Renita bisa bertanya dengan jelas sekaligus membuktikan bahwa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaranm


"Datang ke sana sekarang dan tanyakan lebih jelas!"


Riki sudah tak sabar menantikan detik-detik berakhirnya hubungan Vanya dan Rangga.


Meskipun sebenarnya saat ini mungkin hubungan antara Rangga dan Renita juga akan retak.

__ADS_1


Bahkan mungkin hancur berkeping-keping, itu juga sekaligus hukuman untuk orang yang sudah berkhianat terhadap seseorang yang mencintai dengan tulus.


Riki tak suka dengan pengkhianatan, sebab pengkhianat adalah musuhnya karena tahu betapa sakitnya saat disakiti oleh seseorang yang sangat kita cintai.


__ADS_2