Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Waktu satu bulan.


__ADS_3

Semuanya hanya diam seakan sedang larut dalam pikirannya masing-masing, terutama Devan yang tampaknya tidak ingin berdebat lagi dengan Nayla setelah ini. Namun, melihat wajah Riki pun sepertinya cukup menjengkelkan.


"Saya rasa tidak ada yang harus dibicarakan lagi, sekarang kita pun tahu mereka berdua masih pada pendiriannya untuk bersama. Dari pada terus-menerus seperti ini, saya sebagai Kakak sulung Vanya sekaligus sebagai perwakilan dari Ayah kami, merestuinya. Asalkan Riki berjanji untuk setia dan membahagiakan adik saya," kata Felix yang memulai pembicaraan.


Semuanya tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh Felix.


Begitu juga dengan Devan, dirinya langsung melayangkan tatapan tajam.


Kapan Devan mengatakan bahwa dirinya menyetujui hubungan di antara Vanya dan Riki?


Bahkan merasa dirinya belum bisa menerima Riki sebagai calon suami anaknya.


Semuanya benar-benar begitu membosankan, tidak ada keputusan yang dibuatnya seperti yang dikatakan oleh Felix.


Tetapi, saat itu tanpa sengaja Devan melihat wajah Nayla yang menatapnya dengan cukup tajam.


Akhirnya Devan hanya bisa diam, meskipun sebenarnya perasaannya tidak baik-baik saja.


Bukan bisa, tepatnya terpaksa diam karena takut pada Nayla.


Takut?


Akui saja sepertinya demikian, tetapi cukup dirinya yang tahu.


"Tuan Devan apakah benar yang dikatakan oleh putra sulung, Anda?" Tanya Andika meyakinkan.


Dirinya ingin mendengar sendiri dari mulut Devan agar kedepannya tidak ada kekeliruan.


"Iya, saya tahu suami saya juga sudah menyetujuinya," dengan cepat Nayla pun menimpalinya, sebab tidak ingin Devan mengeluarkan kata yang nantinya malah memperkeruh keadaan.


"Ya, kan, Mas?" Tanya Nayla dengan mengeratkan giginya berharap Devan mengatakan iya.


Coba saja jika tidak, Nayla ingin anaknya baik-baik saja. Tidak terjadi hal buruk seperti apa yang ada dipikiran buruknya.


Kurang ajar.


Kenapa Nayla harus seperti ini, apa yang bisa dilakukan oleh Devan jika pawangnya itu sudah menjadi seorang yang utama dalam mendukung hubungan Vanya dan Riki.

__ADS_1


Baiklah, Devan mengalah saja.


Mungkin kebahagiaan Vanya memang ada pada Riki, lelaki duda yang sudah sering kali bermain wanita.


Lihat saja jika berani melakukan itu setelah bersama dengan putrinya, Devan akan memisahkan kepala pria duda itu.


"Baiklah Tuan Andika, saya mengikuti saja. Tapi, jika dia menyakiti anak saya..." Devan pun menatap Riki dengan tajam. Seakan tatapan itu siap menusuk dalam seorang Riki.


"Tuan Devan, saya yakin anak kami akan membahagiakan Vanya," kata Sela dengan cepat.


Devan pun mengangguk, meskipun masih saja kesal. Lagi pula putrinya itu masih cukup muda untuk berumah tangga.


"Saya berikan waktu satu bulan untuk kamu membuktikan bahwa kamu benar-benar mencintai dan menyayangi anak saya!"


"Riki, jawab itu!" Kata Sela yang malah kesal pada anaknya yang hanya diam dan mengangguk perlahan.


Padahal mencintai tetapi malah bersikap demikian.


Tetapi Riki memang seperti itu, apa lagi pada Devan seorang yang lebih tua darinya.


Tentunya Riki harus menghormati.


"Buktikan!" Kata Sela dengan suaranya yang cukup meninggi.


Sela hanya merasa bersyukur saat ini, karena keluarga Vanya sudah merestui hubungan Vanya dan juga Riki.


Riki merasa dirinya sendiri di sini, sebab Sela pun tampak berpihak pada keluarga Vanya.


Tapi tidak masalah, apa lagi yang lebih membahagiakan bagi seorang Riki selain restu yang sudah didapatkan.


Tidak masalah menjalani masa pembuktian selama satu bulan ke depan, asalkan setelah itu bisa memiliki Vanya seutuhnya.


Itu sungguh sangat luar biasa dan semuanya kini sudah menemukan sebuah titik terangnya.


"Jeng, bolehkan saya sedikit berbicara? Maksudnya, kita berdua saja," pinta Sela dengan penuh harap, sebab dirinya adalah seorang wanita dan hanya ingin berbicara pada Nayla yang juga seorang wanita.


Nayla pun mengangguk setuju, meskipun sebenarnya belum saling mengenal tetapi sepertinya kedepannya nanti mereka akan menjadi keluarga.

__ADS_1


"Kita bicara di tempat lain kalau begitu," Nayla pun membawa Sela ke ruang keluarga, di sana keduanya duduk saling bersebelahan dengan rasa yang mungkin masih begitu asing.


"Jeng, sebelumnya saya minta maaf. Karena, Vanya dan anak saya memiliki hubungan membuat keluarga anda menjadi berantakan, saya benar-benar tidak enak hati," Sela pun mengungkapkan rasa bersalah, meskipun sebenarnya Nayla tidak menyalahkan Riki sepenuhnya.


Sebab hubungan itu terjadi karena Vanya juga menginginkan Riki.


Hanya saja Nayla hanya diam tanpa kata, tanpa bicara dan menunggu Sela yang kembali berbicara padanya.


"Saya tahu mungkin apa yang saya katakan ini tidak terlalu penting bagi anda. Dan, mungkin juga tidak ingin anda dengar. Tetapi, tetap saja saya ingin sedikit bercerita," ujar Sela.


Lagi-lagi Nayla hanya diam saja, tidak bicara sama sekali.


"Sebenarnya anak saya trauma pada wanita," lanjut Sela.


Hingga akhirnya Sela pun menceritakan masa lalu Riki yang begitu rumit, tidak ada yang ingin ditutupi oleh Sela.


Berharap dengan demikian keluarga Vanya tidak menganggap putranya hanya akan mempermainkan Vanya saja.


Benar saja, setelah Sela bercerita Nayla pun seakan menatapnya penuh tanya. Dirinya merasa tersentuh dengan apa yang di alami oleh pria itu.


"Usia Riki mungkin hanya beda tipis dengan usia Felix. Dan, saya rasa tidak terlalu jauh dengan usia Vanya. Hanya saja status anak saya memang duda jeng"


"Saya rasa tidak ada yang harus ditakutkan lagi, sekarang saya yakin akan hubungan keduanya, Jeng," jawab Nayla.


Membuat Sela merasa lega, akhirnya semuanya bisa sampai disini.


Sela tak menyangka kini Vanya adalah calon menantunya, sekaligus calon bagian dari keluarganya.


"Terima kasih," Sela langsung saja memeluk Nayla, memeluk dengan erat karena kini akan terjalin sebuah keluarga di antara mereka.


"Bagaimana kalau hari ini kita makan siang bersama? Anggap saja sebagai pengenalan keluarga," kata Nayla memberikan sebuah ide.


"Terima kasih Jeng, saya tidak bisa menolak untuk itu," Sela tidak menolak sama sekali, ini benar-benar menjadi awal yang baik bagi keluarga mereka.


Akhirnya keduanya pun menuju dapur, memasak bersama hingga nantinya makan bersama.


Nayla dan Sela tampak begitu akrab, banyak yang mereka bicarakan. Mulai dari makanan sampai hal-hal lainnya.

__ADS_1


Yang jelas keduanya sangat ingin mengenal satu sama lainnya.


__ADS_2