Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Vanya hanya bisa diam.


__ADS_3

Felix benar-benar tidak mengerti bahkan tidak dapat mencerna semuanya dengan baik.


Mengapa?


Tentu karena penjelasan Vanya yang begitu mengerikan bahkan ini serasa seperti sebuah kejutan yang membuat jantungnya terus berdetak kencang.


Rasa cemas yang begitu luar biasa seakan siap menghantam dirinya dengan segala pikirannya yang begitu kacau.


Hanya satu harapan Felix untuk kali ini semoga saja Vanya sedang bercanda seperti biasanya.


"Vanya, kalau bicara jangan asal!" Felix masih menepis semua yang dikatakan oleh adiknya? Mengapa? Tentunya semuanya seakan begitu mustahil.


Lantas mengapa lagi-lagi semuanya seakan mengakuinya.


Vanya hanya diam seakan tidak menepis sama sekali apa yang barusan dikatakannya. Tatapan mata Felix kini hanya tertuju pada Riki yang berdiri saling berhadapan dengan dirinya.


"Aku, serius Kak. Kan, Ayah yang minta buat ngundang calon suami aku," Vanya berbicara dengan suaranya yang sedikit meninggi, kesal karena Felix seakan tidak percaya pada apa yang dikatakan oleh dirinya.


Padahal dirinya sudah berulang kali mengatakan bahwa Riki adalah orang yang akan menikahinya.


Apakah masih kurang jelas? Lantas berapa kali lagi Vanya harus mengulanginya.


Bibirnya juga lelah terus mengulangi kalimat yang sama ataupun penjelasan yang hanya itu dan itu saja.


Suasana benar-benar sangat menegangkan, apa yang dikatakan oleh Vanya sungguh seperti bom waktu yang akan meledak sesuai dengan waktu yang sudah ditetapkan sebelumnya. Waktu yang begitu mencekam bahkan seakan tidak ingin terjadi sama sekali.


Namun, tampaknya Vanya masih saja belum mengerti dengan sekitarnya. Dirinya masih bisa tersenyum manis sambil duduk santai di tempatnya.


"Vanya?" Tanya Felix lagi ingin mendengar satu kali lagi saja, sebuah pengakuan yang sebentar lagi akan mengubah segalanya.


Bahkan mungkin menghancurkan persahabatan yang sudah terjalin begitu baik meskipun dalam waktu yang belum terlalu lama.


Vanya pun bangun dari duduknya kemudian berdiri di samping Riki.


"Om, ngomong dong. Diam aja dari kemarin ngotot banget mau ketemu keluarga aku!!!


Degh!


Ini bukan lagi sebuah lelucon semuanya benar-benar begitu mengejutkan di telinga Felix.


Apa yang dari tadi ditepisnya malah mengarahkan pada sebuah kenyataan yang sangat mencengangkan.


Tampaknya memang benar Riki lah orang yang saat ini mereka tunggu, tatapan penuh kemarahan benar-benar tertuju pada Riki.


"Riki?" Tanya Felix masih terus berusaha untuk menguasai dirinya.


Riki pun mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan oleh Vanya.

__ADS_1


Semuanya memang benar dan tidak ada yang salah.


Jangankan Felix justru Riki pun shock mengetahui semuanya, fakta yang mencengangkan ini sungguh tidak pernah terduga sebelumnya.


Bahkan tidak ada tanda-tanda jika dirinya ingin menikah dengan adik dari Felix sahabatnya sendiri.


Tapi, kali ini Riki tahu kenapa identitas asli Vanya tidak dapat ditemukan, itu karena Devan yang memiliki kekuasaan dan juga menyimpan semuanya dengan baik.


Baiklah semuanya sudah terlanjur, Riki sudah terlalu jatuh dalam pesona seorang bocah ingusan yang begitu mudah mengalihkan dunianya.


Vanya adalah wanita itu, bahkan tidak lain adalah adik dari sahabatnya sendiri.


Meskipun terbilang cukup mengejutkan tidak lantas membuat Riki mundur begitu saja.


Meskipun tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya nanti.


Hingga tiba-tiba tangan Felix pun menghantam Riki.


Satu bogem mentah mendarat begitu saja membuat Riki terkapar di lantai dengan begitu saja.


Apa yang bisa dilakukan oleh Riki? Tidak ada, bahkan saat ini masih berusaha untuk mencerna semuanya.


"Kak Felix!" Seru Vanya shock melihat apa yang dilakukan oleh Kakaknya tersebut.


Bahkan dirinya sendiri tidak mengerti apa itu bisa dilakukan oleh Felix. Apakah salah dirinya dan Riki yang meminta ijin menikah?


Dirinya memang tahu Riki adalah seorang duda, namun itu saja. Selebihnya tidak.


Sementara Devan hanya diam saja, duduk di tempatnya sambil menyaksikan apapun yang akan terjadi selanjutnya.


Dirinya juga masih begitu terkejut saat ini, bagaimana pun Vanya adalah seorang gadis dan mana mungkin menikah dengan seorang pria duda seperti Riki. Bahkan Devan mengerti apa yang dirasakan oleh Felix saat ini, keduanya satu pemikiran. Riki mengusap sudut bibirnya, melihat ada bercak darah yang keluar dari sana.


Tapi apakah ada rasa bersalah saat Felix sadar dengan apa yang baru saja dilakukannya?


Tampaknya tidak, sebab yang terpancar hanyalah emosi dan kebencian terhadap Riki.


Felix masih bisa mengingat dengan jelas saat-saat Riki bercerita tentang wanita-wanita cantik di luar sana, tubuh mulus, memuaskan, hasrat yang gila.


Bahkan ternyata Vanya juga ada dari rentetan wanita tersebut, semuanya Felix tahu karena Riki sendiri yang mengatakannya.


Namun, tidak pernah terlintas dipikirannya bahwa Vanya juga terjerat dalam kegilaan Riki.


"Katakan bahwa wanita yang kau ceritakan selama ini pada ku adalah Vanya?" Tanya Felix dengan kedua tangannya yang menggantung, namun masing-masing terkepal erat.


Riki mengangguk hingga membuat Felix semakin bertambah marah. Bahkan menendang dengan kaki, hingga membuat Riki semakin babak belur.


"Felix," Nayla memasang wajah kesalnya, kemudian kembali melihat Riki dengan rasa kasihan.

__ADS_1


"Riki, ayo bangun," Nayla pun menolong Riki untuk bangkit kembali, bagaimana pun di mata Nayla tidak selayaknya Felix melakukan itu.


Semuanya bisa diselesaikan dengan baik-baik, bahkan tanpa ada ketegangan sama sekali.


"Tau, nih. Aneh banget, bukannya kalian temenan? Kok, malah gini sih?" Kali ini Vanya yang bertanya penuh kemarahan pada Felix tentunya.


Bocah ingusan itu tidak mengerti sama sekali mengapa Kakaknya seperti ini, bahkan menganggap bahwa permasalahan hanya sekedar dibesar-besarkan saja.


Kali ini Felix beralih menatap Vanya, hanya ada kemarahan di matanya.


"Masuk!" Titah Felix tanpa ingin dibantah.


"Kok masuk sih, Kak?" Vanya tampak kesal, bahkan terkesan marah pada Felix.


Semuanya yang baik-baik saja di matanya malah menjadi rumit, tepatnya di buat rumit.


"Felix, semuanya kita bicarakan dengan baik-baik, jangan main kekerasan," Nayla pun berusaha untuk menengahinya, sebab ketegangan ini sungguh sangat luar biasa.


"Tidak bisa, pergi dari sini! Jangan pernah sekali-kali mencoba untuk menemui adik ku, apa lagi berniat untuk menikahinya!" Papar Felix.


"Kak Felix!! Pekik Vanya tidak setuju pada apa yang dikatakan oleh Kakaknya.


"Masuk!" Titah Felix kembali, tidak ingin Vanya masih berada di sana.


"Jelasin dulu kenapa? Marah-marah aja nggak jelas, gimana mau pergi!" Vanya masih saja dengan pendiriannya, tidak ingin pergi sebelum mendengarkan sebuah penjelasan dari Felix.


Tepatnya alasan mengapa mendadak Kakaknya itu marah besar.


"Felix, tenang dulu," Nayla mengusap lengan anaknya mungkin bisa membuat amarah mereda sedikit saja.


Felix pun mengatakan pada Nayla tentang apa yang sudah dikatakan oleh Riki sendiri pada dirinya, bahkan keduanya juga pernah tidur bersama.


"Mereka berdua sudah melakukan sesuatu di luar batas, selama ini Vanya menjadi wanita pemuas untuk Casanova kurang ajar ini!" Papar Felix.


Nayla begitu shock mendengarnya, sungguh ini semua tidak pernah terpikirkan di kepalanya.


"Vanya?" Tanya Nayla dengan tubuh lemahnya, kedua tangannya memegang dada.


Rasanya tidak mungkin pula, Felix hanya sedang mengarang cerita semata.


Sementara Vanya hanya bisa diam, dirinya sendiri tidak mengerti tapi untuk sekedar bercumbu memang ada.


Kali ini Devan yang bangkit dari duduknya, apa yang dikatakan oleh putra sulungnya benar-benar membuatnya terbakar kemarahan.


Tidak ada lagi kata tenang ataupun hanya menyaksikan saja semata seperti sebelumnya.


Tatapan mata Devan yang begitu menusuk hanya tertuju pada Riki, pria yang sudah lancang dalam mendekati putrinya.

__ADS_1


__ADS_2