Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Kenapa tegang sekali?


__ADS_3

"Caelah manten baru," goda Vanya.


Rena pun tersentak seketika itu, baru saja dirinya keluar dari kamar tetapi sudah dibuat jantungan. Padahal sejak semalam juga dirinya sudah sangat gemetaran. Akibat menjadi pengantin baru dadakan, belum lagi tidur bersama Adnan untuk yang pertama kalinya.


"Kamu bisa nggak..."


"Nggak!"


"Dasar gila!"


"Biarin! Tapi, ngomong-ngomong wangi banget ya. Ah......" Vanya pun berdecak kagum dengan Rena, dengan segala tebakan yang ada di kepalanya.


Rena pun merasa ada sesuatu yang dipikirkan oleh sahabatnya itu yang kini sudah merangkap menjadi adik iparnya.


"Mikirin apa?"


"Hehehe," Vanya pun cengengesan menggabungkan kedua tangannya yang masing-masingnya mengerucut.


"Wangi benar, Neng! Gimana semalam?" Vanya pun menyenggol Rena dengan wajah menggoda.


Bocah tengil itu memang sangat usil dan sangat suka sekali berbicara semaunya. Bahkan pagi ini sudah berjaga di depan pintu kamar Kakaknya. Vanya ingin langsung melihat Rena keluar dari kamar, mencium aroma shampo pada rambut pengantin baru itu.


"Ya ampun Vanya," Rena pun mengusap wajahnya yang merah menahan godaan dari Vanya.


"Sedang apa di sini? Ayo sarapan, nanti terlambat," Adnan pun keluar dari kamar.


Melihat dua wanita yang sedang berada di depan pintu, seketika keduanya menyingkir setelah menyadari Adnan akan keluar.


"Kak Rena," Vanya pun mencolek tangan Rena.


"Apaan sih?" Rena harus kuat untuk menahan diri, mengingat ipar adalah musuh berbahaya.


Ini contohnya.


Mulut Vanya sangat mudah menggodanya, tanpa sadar membuatnya ingin pingsan.


"Kak Adnan!" Seru Vanya dengan suara melenting.


Adnan pun menghentikan langkah kakinya, kemudian melirik adiknya itu.


"Kak Adnan, Kak Rena nya di gandeng kek," celetuk Vanya.


Adnan pun beralih menatap Rena, melihat wajah wanita itu tengah bersemu merah.


Akhirnya Adnan pun memilih melanjutkan langkah kakinya yang ingin menuruni anak tangga. Sebenarnya Adnan sangat ingin, hanya saja mereka berdua masih sama-sama canggung.


Keduanya juga bisa memulai awal pernikahan ini sebagai pacaran.


Indah bukan?


Pacaran setelah menikah.


Tentu, semuanya serba bersama. Pasti juga ada gemasnya.


Plak!

__ADS_1


Rena pun mengetuk kepala Vanya, bukannya menangis atau kesal malah Vanya semakin menjadi-jadi.


"Kau tau? cerita Adik ipar yang jahat itu? Nah, kali ini kau yang jahat padaku, aku yang jadi korban!" Kata Vanya di iringi dengan tawa menggelegar.


Seketika itu Rena pun memilih untuk menyusul Adnan yang sudah terlebih dahulu menuju ruang makan.


"Caelah, nggak mau jauh-jauhan!" Seru Vanya dari kejauhan.


Rena memilih terus melangkah menyusul Adnan, dari pada mati berdiri karena Vanya.


Tetapi malah Vanya yang terlebih dahulu sampai di bawah, sebab dirinya meluncur dari pegangan tangga.


"Kakak Ipar!" Seru Vanya yang terlebih dahulu sampai di lantai dasar.


"Ya ampun, anak itu!" Rena sudah tak lucu lagi akan sikap pecicilan Vanya.


Hingga sampai saat ini pun pria lebih memilih mundur untuk mendekatinya, sebab dalam sekejap saja bisa trauma karena ulah Vanya yang aneh.


Sesampainya di ruang makan Rena pun menarik kursi, kemudian duduk di samping Cahaya yang sudah terlebih dahulu sampai sebelum dirinya.


"Basah-basah semuanya basah!" Seru Vanya dengan hebohnya.


"Berapa ronde woy?" Tanya Vanya sambil melihat wajah-wajah kedua Kakak iparnya.


Glek!


Cahaya meneguk saliva sambil menatap Felix, jangan tanyakan berapa karena Cahaya tidak tidur sampai detik ini. Bahkan kepalanya terasa pusing, masuk angin, juga karena kelaparan.


Suami arrogant nya itu tidak memberikannya makan nasi, malah makan cinta. Padahal makan cinta membuat kita masuk angin seperti yang di rasakan oleh Cahaya saat ini.


"Ronde?" Sedangkan Rena malah bertanya dengan bodohnya, tidak mengerti sama sekali dengan pertanyaan Vanya.


"Kenapa?" Rena semakin bingung dan semakin bertanya-tanya.


Felix tersenyum menatap Adnan membuat Adnan ingin memberikan bogem di wajah putra sulung Devan itu.


"Selamat pagi Ayah," Adnan pun menyapa Devan yang berjalan di belakang Vanya.


Dengan segera Vanya duduk manis, takut Devan marah bila tahu dirinya tengah menggoda dua Kakak iparnya.


Sesaat kemudian Vanya pun melihat ke belakang, tetapi ternyata tak ada Devan sama sekali. Tersadar Adnan baru saja menipu dirinya.


"Kak Adnan!"


"Hehehe," Adnan tertawa kecil setelah berhasil membohongi adiknya.


"Ayo sarapan," Nayla pun meletakkan nasi goreng pada meja makan, dari tadi dirinya memasak di dapur.


"Bunda masak di dapur? Dari tadi?" Tanya Cahaya dengan suara pelan, merasa tak enak hati.


"Iya, ayo sarapan pagi dulu. Ini spesial Bunda masak untuk menyambut anggota keluarga baru," Nayla pun tersenyum dan duduk di kursi meja makan.


Sesaat kemudian Devan pun tiba dan ikut duduk di samping istrinya.


"Bunda, maaf ya. Aku nggak ikut bantuin," Cahaya benar-benar merasa tak enak hati, sebab malah mertuanya yang memasak untuk mereka.

__ADS_1


Andai saja Jessica tau kelakuannya pagi ini pasti dirinya akan habis di kucek-kucek.


Padahal untuk berjalan saja Cahaya begitu kesulitan, bagaimana caranya membantu Nayla.


"Bunda, aku juga minta maaf. Jangan bilang ke Umi ya, janji nggak akan ulangi lagi," Rena pun ikut menimpali, merasa tidak nyaman dengan kelakuannya sendiri.


"Menantu durhaka terkena azab, semoga kecebur got," celetuk Vanya.


"Vanya!" Nayla pun menegur putri bungsunya tersebut, walaupun Cahaya dan Rena tak akan pernah tersinggung sebab mereka sudah sangat mengenal Vanya seperti apa.


Tetapi Nayla juga sudah menganggap Cahaya dan Rena seperti putrinya sendiri, di keluarga mereka tidak ada menatu.


Tetapi anak Nayla dan Devan.


"Bunda, aku harus segera berangkat ke kampus," Rena pun bangkit dari duduknya, berpamitan pada Nayla dan Devan.


Begitu juga dengan Adnan yang ikut menyusul istrinya yang sudah berjalan keluar.


"Woy, numpang dong!" Vanya pun langsung mencium tangan kedua orang tuanya.


"Vanya, yang sopan!" Tegur Nayla.


"Hehehe, aku pamit ya Bunda!" Vanya pun segera berlari menyusul Adnan dan Rena agar diberikan tumpangan.


Sebab masa hukumannya belum habis.


"Aku nebeng!" Tanpa membutuhkan ijin pun Vanya sudah masuk ke dalam mobil Adnan.


Membuat Adnan pun kesal, sebab dirinya sebenarnya ingin berdua saja dengan istrinya.


Adnan pun duduk di kursi kemudi dan Rena di sampingnya.


"Kak, bagi duit dong. Aku, sekarang ini di jatah sama Ayah lima puluh ribu dapat apa? Dasar Devan," omel Vanya sambil menengadahkan tangannya pada Adnan yang sedang mengemudikan mobil.


"Kakak tidak diijinkan untuk memberikan uang pada mu," Adnan pun tidak memberikan uang seperti yang di minta oleh adiknya tersebut.


Bukanya pelit, tetapi itu adalah perintah dari Devan.


Setiap yang dilakukan oleh Ayahnya itu pasti ada maksud tertentu, sehingga baik Adnan maupun Felix tak pernah melanggarnya.


"Kurang ajar suami mu ini! Pecat aja, Rena!" Vanya tersenyum sinis pada Adnan.


Rena menahan tawa saat mendengar apa yang di katakan oleh Vanya, kesannya Adnan seperti pegawainya dan melakukan kesalahan fatal.


"Turun!" Titah Adnan.


"Iya! Istri mu juga turun!" Kata Vanya sebelum akhirnya turun setelah Adnan memarkirkan mobilnya begitu sampai di kampus.


"Makasih," Rena pun berniat ingin turun, tetapi tangan Adnan memegangnya.


"Tunggu dulu."


"Ya ampun, mereka malah mesra-mesraan," Vanya pun tak ingin menjadi obat nyamuk sehingga lebih memilih pergi.


Sedangkan Rena semakin menegang, karena Adnan memegang tangannya sebagai seorang suami. Rena berdoa semoga jantungnya yang berdegup kencang tidak terdengar di telinga Adnan.

__ADS_1


"Kenapa tegang sekali?" Adnan terkekeh melihat raut wajah Rena yang lucu.


"Hehe," Rena pun berusaha tenang sambil menarik napas dengan panjang.


__ADS_2