Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Vanya!


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untuk Nayla dan Devan, tetapi ada juga rasa yang menegangkan. Dimana Nayla tengah berada di ruang operasi sesar, berjuang untuk melahirkan anak ketiganya. Devan menemani Nayla. Memegang tangan Nayla saat Dokter sedang berusaha.


Devan memang bukan Dokter yang melakukan operasi terhadap Nayla, terlalu panik membuatnya sulit untuk berkonsentrasi. Sehingga, tidak berani mengambil resiko.


Sampai akhirnya beberapa saat kemudian bayi perempuan pun berhasil dilahirkan, sehat dan juga begitu gemuk.


Tangisan bayi menggema, Nayla memeluk putrinya dengan rasa bahagia yang tidak terkira.


Sesaat kemudian dibawa ke ruang lainnya untuk menjalani pemulihan.


"Namanya siapa?" Tanya Ana dengan bahagia, cucu ketiganya dari pernikahan Devan dan Nayla pun terlihat begitu cantik.


Bahkan bobotnya yang juga begitu berat, membuat bayi itu semakin terlihat menggemaskan.


"Namanya Daki," kata Adnan memberikan solusi.


"Daki?" Semua langsung tercengang mendengar nama yang diberikan oleh Adnan.


"Kok Daki?" Tanya Ana.


"Kan bagus Oma namanya mudah di ingat," Adnan pun melipat tangannya di dada, merasa bangga dengan ide nama untuk Adiknya tersebut.


Devan mendesus.


"Ampun," Devan mendesus mendengarnya, anaknya ada-ada saja.


Mungkin dari segi ide boleh, tetapi kata 'Daki' rasanya tidak enak untuk menyebutnya.


Mana mungkin putri cantik nya dipanggil Daki.


"Ada-ada saja," Ana pun menahan tawa mendengar ide dari cucunya.


"Namanya, Vanya saja Oma," kata Bima Putra memberikan ide.


"Setuju, Vanya. Devan Nayla kan?" Tanya Devan dengan bahagianya.


"Bukan!" Kata Bima Putra.


Devan pun tercengang melihat Bima Putra, bahkan mendadak senyumnya menghilang, lalu apa pikirnya.


"Nayla, Devan!" jelas Bima Putra.


"Sama saja!" Devan kesal pada Bima Putra, karena ternyata mempermainkan dirinya.


"Beda Ayah!" Kali ini Felix yang berbicara, membela sang Opa dan dirinya tidak ada yang membela.


Mungkin nanti akan ada yang membelanya, setelah anak perempuannya tubuh besar.


"Setuju, namanya Vanya," Nayla pun menghargai nama pemberian sang Papa mertuanya.


"Sepertinya Opa tidak sayang Adnan," kata Devan mengolok putra keduanya. Sebagai ajang balas dendam.


Semua mulai tercengang, menatap Devan penuh tanya.


"Kenapa?" Tanya Adnan.


"Kak Felix namanya dari Opa, Vanya juga namanya dari Opa, kamu tidak, sendirian" papar Devan.


Adnan pun menatap Bima Putra dengan kesal.


"Oma?" Tanya Adnan pada Ana.


"Opa sayang sama semua cucunya," jelas Ana sambil memeluk Adnan.

__ADS_1


"Oma, bohong. Buktinya tidak!" Kata Devan memanasi Adnan.


"Bunda!" Seru Adnan dengan kencang dan menangis.


"Sayang," Nayla menggerak-gerakkan tangannya, meminta Adnan mendekat padanya.


"Nama kamu itu juga spesial, Ayah dan Bunda yang membuatnya," Nayla tidak ingin membuat anaknya menangis, kerena ulah Devan yang sangat suka menggoda anaknya sendiri.


"CK, anak terlantar!" Felix mengejek melihat adik nya dengan sinis.


"Dari pada kamu anak angkat!" Adnan pun tidak mau kalah, berkata sesukanya demi membela diri.


"Enak aja!" Felix pun kembali membalas, tidak ada yang mau mengalah.


"Dasar anak Devan!" Seru Felix kesal.


"Hah?" Semuanya sampai melongo mendengar kalimat yang keluar dari mulut Felix.


"Terus kamu anak siapa?" Tanya Devan.


"Anak Bunda" Jawab Felix kemudian naik ke atas brankar dan memeluk Nayla.


"Kamu pikir tanpa Ayah, kamu jadi!"


"Mas!" Nayla mencubit lengan Devan.


"Eh, hehe, keceplosan," Devan pun tersenyum kecut, rasa bahagia ini benar-benar membuatnya hilang kendali.


"Dasar!" Nayla masih saja kesal, kemudian memeluk Felix dengan eratnya.


Sesaat kemudian yang lainnya pun datang menjenguk kecuali Jessica.


Jessica tengah menjalani pengobatan diluar negeri, demi keselamatan dirinya dan juga janinnya.


"Hay, hay!" Reyna berseru, sambil melangkah masuk.


"Selamat ya," memeluk Nayla dan memberikan ucapan selamat.


"Terima kasih."


Selanjutnya Rima yang juga mencium Nayla.


"Terima kasih, sudah datang."


"Hueekkkkkk...," Aditya pun masuk ke kamar dan muntah-muntah tanpa henti, merasa bau disekitarnya.


"Dia sakit?" Tanya Nayla menunjuk kamar mandi.


"Dia memang begitu, ini ada bau parfum. Dia nggak sanggup," Rima pun mencari asal aroma tersebut.


Ternyata Adnan yang memakai parfum berbau tajam.


"Adnan, pakai parfum berapa botol?" Tanya Aditya yang kini sudah keluar dari kamar mandi, tidak lupa mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidungnya.


"Ini wangi Om, ada cewek cantik di sana aja bilang wangi," jelas Adnan dengan bahagia.


"Ma, ingat dulu Devan begini?" Tanya Aditya pada Ana, kadang Aditya memanggil Ana dengan sebutan Mama. Sebab Ana yang sangat suka dipanggil Mama, tapi kadang juga memanggil Tante. Ana pun tersenyum sambil mengigat masa-masa tersebut.


"Emang iya Mas?" Tanya Nayla penasaran.


"Mana ada," elak Devan.


"Ngarang"


"Ngarang dari mana?" Tanya Ana.

__ADS_1


"Dulu itu bukannya kamu sangat suka membuat rambut tinggi seperti bulu landak, kemudian celana melorot, demi melihat tetangga baru yang memiliki anak perempuan sangat cantik," kata Ana.


"Sudah susah payah ngajak kenalan eh malah Devan kentut pas salaman," Aditya pun menimpali dengan cepat.


"Kurang ajar!" Devan pun melempar sebuah anggur pada Aditya.


Tapi Aditya mengelak dengan cepat, hingga tidak mengenai wajahnya.


"Mas, kamu dulu seperti itu!" Nayla bukannya cemburu, malah merasa lucu dan ingin tertawa mengetahui kelakuan konyol suaminya.


"Iya, mana bunyi kentutnya kenceng banget! Jorok!" Ejek Aditya lagi.


"Dari pada kamu!"


"Mas, emang kenapa?" Kini Rima yang bertanya karena penasaran.


"Dulu itu pas mereka masih SMP berlomba memperebutkan anak tetangga itu, Devan berjuang dengan caranya. Sedangkan Aditya juga tidak kalah pintar, sampai menolong wanita itu mengambil pensil kesayangannya yang terjatuh, malah dikejar sama anjingnya yang galak. Nyebur ke got, mandi air kotor," terang Ana yang juga tidak kalah lucu.


"Ahahahhaha," Rima tidak kuasa menahan tawa, begitu pun juga dengan Reyna.


Tidak menyangka dibalik dinginnya sikap kedua pria itu menyimpan banyak kenangan yang menggelikan.


"Nayla, kamu tidak boleh tertawa dulu," kata Devan memperingati istrinya.


"Kalian kalau mau cerita lucu jangan sekarang dong," pinta Nayla.


"Cantikan Bunda atau cewek tetangga?" Kini Felix yang bertanya membuat yang lainnya tercengang.


"Ini akibat nya!" Ana pun membawa kedua cucunya keluar, tidak ingin mendengar cerita orang dewasa sebelum waktunya.


"Udah USG?" Nayla memegang perut Reyna.


"Udah, katanya laki-laki. Aku masih memiliki peringkat tercantik," seloroh Reyna.


"Iya, benar sekali," Nayla pun membenarkan.


"Kamu gimana?" Nayla beralih bertanya pada Rima.


"Kembar cowok," kata Rima.


"Wah," Nayla sampai terkejut mendengarnya.


"Selamat ya."


"Hebat juga kamu," bisik Devan pada Aditya.


"Nanti aku ajarkan cara membuatnya," jawab Aditya dengan berbisik pula, agar hanya keduanya yang mendengarnya.


"Ide bagus, kali ini aku setuju!" Devan mengacungkan jempol pada Aditya.


"Jangan lupa, bawa sesajen dan kemenyan," lanjut Aditya.


"Buatnya di bawah pohon rimbun!"


"Kurang ajar!" Devan pun mengetuk kepala Aditya dengan kencangnya.


Aditya mengusap kepalanya yang terasa nyut-nyutan.


"Enak?"


"Nikmat!"


"Ahahahhaha....."


Keduanya tertawa terbahak-bahak, sedangkan yang lainnya hanya bengong kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2